Nggak Usah Lebay Kalau Ditanya Kapan Nikah

Nggak Usah Lebay Kalau Ditanya Kapan Nikah

Ilustrasi (advertisementfeature.cnn.com)

Tak semua orang menjadikan suasana Lebaran sebagai momen yang seratus persen menyenangkan. Mungkin menyenangkan bagi mereka yang, tentu saja, puasanya tamat dan punya kehidupan sosial yang bagus dalam takaran masyarakat pada umumnya.

Masyarakat pada umumnya adalah mereka yang menganggap bahwa ukuran kepatutan hidup adalah sekolah yang tinggi, punya mobil dan rumah, pekerjaan yang bagus dan tentu saja: menikah. Kemudian dilanjutkan dengan: punya anak.

Pada orang-orang yang sudah mencapai sebagian dari itu atau bahkan semuanya, maka Lebaran dan bertemu keluarga serta kerabat tidak menjadi momok yang menakutkan. Bahkan momen Lebaran digunakan untuk pamer dan membangga-banggakan diri.

Sebaliknya, bagi mereka yang belum memenuhi kriteria sosial semacam itu, momen Lebaran – tepatnya ketika kumpul bersama keluarga dan kerabat – adalah momen yang penuh penghakiman.

Pertanyaan-pertanyaan tentang sekolah, harta, pekerjaan, hingga kapan nikah harus dipikirkan sungguh-sungguh bagaimana cara menjawabnya agar tetap elegan: Tidak terlihat kesal dan tetap menjaga hubungan kekeluargaan.

Belakangan, di internet, muncul berbagai media yang peduli pada orang-orang yang begitu paranoid menghadapi suasana Lebaran dengan segala pertanyaannya.

Mereka menyuguhkan ragam jawaban dari mulai yang paling halus hingga paling kasar, terutama untuk merespon pertanyaan kapan kawin. Misalnya: “Mau fokus kerja”, “Doain aja”, hingga balik bertanya: “Kamu, kapan mati?”

Tapi, pada titik tertentu, orang-orang tersebut seharusnya tak perlu terlalu pusing dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu dan berpikir keras menyajikan jawabannya.

Kita bisa menenangkan diri dengan melihat seluruh pertanyaan tersebut dalam pandangan yang lebih luas, seluas bagaimana kita melihat rentang peradaban manusia.

Mari lupakan sejenak wajah-wajah sanak saudara yang akan bertanya kapan nikah. Pikirkan sejenak wajah seorang pemikir akhir abad ke-19 asal Inggris bernama Herbert Spencer.

Spencer adalah seorang penganut teori evolusi yang terkenal, karena salah satunya mengungkapkan istilah survival of the fittest  atau ‘sintasan yang terbugar’.

Secara sederhana, ‘sintasan yang terbugar’ mempunyai prinsip bahwa hanya individu yang bugar (fit) yang selamat menghadapi seleksi alam.

Lebih jauh, Charles Darwin, sang penemu teori evolusi, kemudian berbalik meminjam istilah Spencer untuk kemudian dikembangkan definisinya menjadi: (sintasan yang terbugar artinya) individu yang paling fit yang dapat bertahan hidup untuk bereproduksi.

Teori evolusi memang terdapat pro dan kontra. Pro karena memang kenyataannya spesies-spesies yang kita lihat bisa bertahan hidup hingga hari ini adalah mereka yang lolos dari seleksi alam dari masa ke masa.

Manusia purba punya kekuatan fisik yang besar dengan volume otak yang lebih kecil dibandingkan manusia masa kini. Tentu karena kebutuhan lingkungan masa itu yang lebih membutuhkan kekuatan fisik daripada kecerdasan kognitif.

Hal yang berbeda terjadi di zaman sekarang, dimana manusia bisa sangat cerdas menciptakan berbagai teknologi, namun sekaligus juga begitu rapuh karena bisa sakit akibat hal-hal yang ‘remeh’ seperti debu atau kehujanan.

Sementara itu, terjadi kontra karena teori evolusi tentu saja tidak terlalu akur dengan pandangan agama yang melihat bahwa manusia dan segala makhluk hidup lainnya sudah diciptakan secara sempurna – tanpa harus melalui tetek-bengek seleksi alam.

Apalagi, agama-agama tertentu menyangsikan Darwin yang mengajukan hipotesis bahwa manusia adalah hasil seleksi alam dari kera. Ini tentu sangat menyakiti perasaan agama-agama yang menganggap bahwa manusia adalah imago dei (cerminan Tuhan), karena itu tidak mungkin berasal dari kera.

Lalu, apa hubungan antara Herbert Spencer, Charles Darwin, ‘sintasan yang terbugar’, teori evolusi, imago dei, dan pertanyaan kapan nikah? Tentu kita harus hati-hati mengaitkan ini semua demi – sekali lagi – keberlangsungan peradaban manusia.

Sekarang, mari kita cermati…

Tidakkah pertanyaan kapan nikah merujuk pada suatu kepedulian evolutif terhadap keberlangsungan manusia di muka bumi?

Tidakkah mereka yang bertanya kapan nikah pada dasarnya khawatir jangan sampai terjadi lagi kepunahan massal seperti dinosaurus pada jutaan tahun silam atau komodo yang terus diburu hingga akhirnya tersisa hanya sedikit?

Mulai sekarang, mereka yang khawatir dengan Lebaran dan segala pertanyaannya, bolehlah sedikit berprasangka baik pada si penanya dengan mengasumsikan bahwa pertanyaan kapan nikah tidak punya pretensi apa-apa, selain demi peradaban manusia. Atau, bisa juga pertanyaan itu cuma untuk basa-basi.

Kita, selaku yang ditanya, kemudian bisa menjawab dengan asumsi-asumsi evolutif pula. Misalnya: “Tenang, Pak, Bu, jumlah umat manusia di muka bumi ini masih banyak.”

Atau, bisa juga bilang, “Tenang, menurut pengamatan NASA, meteor akan kembali menumbuk bumi dan membuat kepunahan massal lagi seperti zaman dinosaurus pada ribuan tahun mendatang. Jadi, saya nikah atau tidak, toh, bumi dan segala isinya akan musnah juga.”

Jadi, kapan nikah? 🙂

  • Mirna Sadikin

    Kl ditnya balik lg, beneran kamu gak kesepian? #eaaaaa