Asyiknya Kapal Pesiar Merusak Alam di Papua

Asyiknya Kapal Pesiar Merusak Alam di Papua

Ilustrasi kapal Caledonian Sky (beritatrans.com)

Sudah pernah naik kapal pesiar nggak, gaes?

Asyik lho, katanya…

Lha, bagaimana nggak asyik? Bisa keliling dunia, menikmati pesona alam dengan gaya hidup mewah, bisa dapet jodoh pula kayak di Film Titanic. Asal jangan tenggelam lah ya, masak lama menjomblo giliran dapet jodoh terus tenggelam. Tragis amat.

Oh ya, itu kan cuma di film. Cerita seorang pemuda kere bernama Jack Dawson (Leonardo DiCaprio) yang memenangi tiket kelas tiga dalam permainan poker, lalu bertemu dengan Rose (Kate Winslet) di kapal pesiar RMS Titanic.

Kalau di dunia nyata, orang kere jelas susah naik kapal pesiar. Contohnya, kapal pesiar MV Caledonian Sky, yang belum lama melintas perairan Raja Ampat, Papua Barat. Coba bayangkan, untuk kelas superior – satu kamar ditempati dua orang – harganya dibanderol US$ 11.000 atau sekitar Rp 146 juta per orang untuk pelayaran selama 16 malam dari Papua Nugini ke Filipina.

Bisa dikatakan, setiap malam kamu harus merogoh kocek sekitar Rp 9 juta! Bisa dibayangkan – bayangkan saja – fasilitas seperti apa yang disajikan dengan harga secakep itu? Cicilan rumah atau mobilmu untuk sebulan saja nggak sampai segitu, kan?

Caledonian Sky yang berbobot 4.290 ton dan panjang 90 meter ini mengangkut 102 penumpang dan 79 kru kapal. Saat melintas di sekitar Pulau Kri, hotel bintang lima terapung itu menabrak terumbu karang. Sekitar 1.600 m2 terumbu karang di Papua rusak dalam sekali libas. Mau tahu umur terumbu karang itu? Ratusan tahun. Berapa banyak ikan yang jadi tunawisma gegara digusur oleh kapal pesiar tersebut?

Ilustrasinya begini. Luas terumbu karang yang rusak itu setara dengan 76 rumah tipe 21 atau sejumlah 57 rumah tipe 36. Btw, udah punya rumah belum? Baiklah… Ilustrasi lainnya bisa juga begini. Bayangkan, dua lapangan bola seukuran lapangan di Gelora Bung Karno dijejerkan bersebelahan. Nah, sebesar itu kira-kira kerusakan masif yang disebabkan oleh Caledonian Sky.

Perairan di Pulau Kri, Raja Ampat, adalah salah satu spot menyelam terkenal bernama Crossreaf. Tapi kini, taman bawah laut yang begitu indah di sana sudah luluh lantak oleh kapal asing tersebut. Mereka memang sudah mengumumkan permintaan maaf secara langsung di situs resminya dan mengaku akan membayar uang ganti rugi sebesar US$ 1,92 juta atau setara Rp 25 miliar.

Uang ganti ruginya cukup besar ya?

Iya, kalau dibandingkan sama duit di rekening tabungan kita. Coba bandingkan dengan pemasukan yang didapat perusahaan kapal dari para penumpang horang-horang kaya tersebut? Coba bandingkan dengan luas kerusakan terumbu karang yang kira-kira dua lapangan bola di GBK tadi?

Apalagi, usia terumbu karang sudah ratusan tahun dan butuh setengah abad untuk memulihkannya. Belum lagi, kerugian lain sebagai dampak dari rusaknya terumbu karang. Asyik kan, ganti ruginya cuma Rp 25 miliar.

Karang ratusan tahun yang patah (bisnis.com/antara)
Karang ratusan tahun yang patah (bisnis.com/antara)

Terus ada yang nanya begini. Apa pentingnya sih terumbu karang?

Saya kutip dulu dari situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup. Terumbu karang adalah salah satu potensi sumber daya laut yang sangat penting di Indonesia. Selain menjadi sumber pendapatan utama nelayan, secara fisik karang juga melindungi pantai dari degadrasi dan abrasi. Sebagai objek wisata, keindahan terumbu karang dapat meningkatkan devisa negara.

Gitu…

Kalau mau penjelasan lebih lanjut, terumbu karang itu semacam kerangka kapur yang mengandung CaCO3 dan enzim penting zooxanthella, yang dapat menyerap karbon di udara dan mengubahnya menjadi kerangka kapur. Menurut ramalan peneliti, dalam 50-100 tahun, terumbu karang dapat menyerap 4% karbon yang ada di udara. Hal itu hanya terjadi, jika kondisinya sehat walafiat!

Nah, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, saat ini sekitar 4% karang di Indonesia dalam kondisi kritis. Kalau yang rusak mencapai 46%. Yang bagus cuma 33% dan yang sangat bagus sekitar 7%. Tentu ini belum ditambah kerusakan yang terjadi di Raja Ampat.

Terumbu karang ini memang sangat sensitif, bahkan tahun lalu yang diklaim sebagai tahun terpanas, terjadi pemutihan terumbu karang alias bleaching di hampir seluruh dunia. Iya, kalau bleaching kulit sih bagus-bagus saja, lha kalau terumbu karang? Mereka sekarat akibat temperatur air laut yang meningkat dari tahun ke tahun.

Saya membayangkan, kalau ikan-ikan di bawah sana bisa ngomong dan pasang status di media sosial, mereka pasti sudah bikin petisi, mogok berenang, atau unjuk rasa. Saya bisa taksir, jumlahnya pasti melebihi 7 juta!

Ikan Tongkol: “Apa tak cukup para manusia melepaskan efek rumah kaca ke udara dan membuat rumah kami perlahan-lahan terkelupas?”

Ikan Bawal: “Manusia mana peduli, bro.”

Ikan Tongkol: “Sial… Udah digusur, dimakan pula sama manusia. Apa kata dunia?”

Ikan Bawal: “Sudah kubilang jangan berenang, kau berenang juga. Matilah kau. Habis dimakan cacing, eh manusia!”

Di tengah pembicaraan antara ikan tongkol dan bawal, melintas ikan kerapu.

Ikan Kerapu: “Manusia emang songong. Dikira semuanya bisa selesai dengan uang? Rumah kami itu unik, hanya tumbuh sekitar 1 cm dalam 1 tahun dan butuh setidaknya 10 tahun untuk dikatakan layak tinggal. Lalu 10 tahun ke depan, kami mau diungsikan ke mana? Coba jawab!”

Ikan Bawal: “Ya elah, manusia mana bisa jawab. Tuh, pada diam aja.”

Ikan Kerapu: “Kasih kuis kali ya, baru bisa pada ngomong. Ayo sebutkan nama-nama ikan!”

Ikan Tongkol: “…..”