“Kamu Tidak Cantik dan Itu Tak Mengapa”

“Kamu Tidak Cantik dan Itu Tak Mengapa”

journalofstuff.com

Tulisan ini akan dibuka oleh sebuah pengakuan, “Saya alergi dengan segala kampanye bahwa seluruh perempuan itu cantik, inner beauty, atau apapun itu namanya.”

Secara logika, bukankah jika seluruh perempuan menjadi cantik, maka kecantikan bagi perempuan tidak lagi menjadi sesuatu yang spesial? Atau, bagaimana menilai kecantikan yang ada di dalam batin?

Pada kenyataannya, ini kerapkali membuat saya gagal paham sebagai lelaki. Sebab pada umumnya, lelaki tidak pernah gusar, bila dibilang tidak ganteng atau tidak tampan. Berbeda dengan perempuan, yang pada umumnya lebih cenderung ingin dikatakan cantik.

Itulah sebabnya, produk kosmetik yang bahkan sudah dikhususkan untuk laki-laki menjadi kurang laku. Kalaupun ada, paling cuma sabun muka. Seperti sudah ada konsensus tidak tertulis bahwa realitasnya memang ada yang tampan dan kurang tampan. Dan, itu tidak mengapa. Misalnya, dia kere tapi tampan. Atau, dia tidak tampan tapi mapan.

Kembali pada perempuan, apa yang membuat perempuan begitu mendewi-dewikan kecantikan hingga produk kosmetik berlomba-lomba melancarkan propaganda kecantikan?

Saya pernah memuji seorang perempuan pintar. Pernah juga merayu gebetan dengan mengatakan bahwa dirinya baik. Namun, efek tersebut tidak segila dengan mengatakannya cantik. Satu kali Anda mengatakan cantik kepada perempuan, maka Anda akan membuat harinya menjadi begitu indah.

Tapi salahkah perempuan, jika mereka terobsesi terhadap kecantikan?

Untuk memahami mengapa kecantikan menjadi sesuatu yang didamba, kita patut memahami tatanan sosial kita sendiri. Saat Anda menyaksikan seorang ibu menggendong anak perempuan, ia akan berkali-kali mengatakan cantik dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sedang menaruh doa agar anaknya menjadi cantik.

Atau, kita bisa lihat bagaimana para gadis memuja bahkan meniru perempuan cantik. Mereka rela membeli produk ini-itu demi memenuhi standar yang diinginkan. Kecantikan juga yang membuat lelaki menunggu hingga berjam-jam saat kencan pertama. Lalu, ketika hendak protes, mereka hanya bilang, “Ini kan buat kamu juga!”

Dalam novel ‘Cantik itu Luka’ karya Eka Kurniawan sebetulnya digambarkan betapa cantik malah bisa merepotkan daripada membahagiakan. Di novel tersebut, Dewi Ayu – gadis yang tidak pernah meninggalkan Halimunda itu – harus rela menjadi budak seks pada masa penjajahan Jepang. Hingga ia melahirkan empat anak.

Anak pertama hingga ketiga yang ia lahirkan adalah perempuan. Sebagaimana Dewi Ayu, ketiganya lahir dengan paras ayu. Dan sialnya, sama seperti Dewi Ayu, nasib ketiganya sama: terjerembab dalam dunia yang kelam. Dewi Ayu kemudian sempat berdoa agar anak keempat buruk rupa saja, agar tidak masuk ke dunia seperti itu.

Kisah-kisah tentang perempuan cantik juga pernah diceritakan dalam karya klasik Hamka. Misalnya dalam novel ‘Terusir’. Mariah, seorang perempuan cantik namun lemah, dibenci oleh keluarga suaminya. Kecantikannya mampu memikat sang suami, tapi ia kurang beruntung karena berasal dari keluarga miskin.

Mariah kemudian difitnah sedang bercumbu dengan lelaki lain, dan suaminya berang. Ia diusir dari tanah Minangkabau, lalu pergi ke Medan. Di Medan, Mariah ditipu. Ia pun pergi ke Batavia, tapi harus hidup sebagai seorang pelacur.

Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan dengan nada penuh stereotipe bahwa jika Anda cantik, hidup Anda akan terancam. Buang jauh pemikiran semacam itu. Yang patut kita pahami di sini adalah pola pikir yang telah terpatri di kepala kita. Diamini dan diterima sebagai sebuah realita. Dari zaman Hamka – atau bahkan zaman Ken Arok dan Ken Dedes – hingga zaman Eka.

Realitanya, cantik memiliki kasta lebih tinggi dibandingkan baik atau cerdas.

Coba lihat di sekeliling kita. Perempuan cantik bisa jadi jalan hidupnya lebih mulus. Ia dengan mudahnya mendapatkan puja-puji. Dibilang mirip Pevita Pearce, Raisa, Dian Sastro, atau perempuan-perempuan lain yang dianggap memenuhi standar kecantikan, yang entah oleh siapa standar itu dibuat.

Terlebih, di era milenial seperti sekarang, perempuan cantik sangat mudah mendapatkan pengikut yang banyak. Padahal, isinya cuma selfie melulu. Tapi pesannya sangat jelas, ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia cantik. Syukur-syukur bisa sekalian dapet paket endorsement produk komersial tertentu.

Begitu juga di dunia nyata. Tak hanya lelaki, perempuan lain pun akan mendekat dan bertanya bagaimana bisa menjadi cantik seperti itu? Sementara bagi perempuan yang cerdas, baik, atau memiliki kelebihan selain cantik, ia harus siap tidak menerima privilege semacam itu. Sebagian akan menelan mentah-mentah frasa inner beauty atau propaganda bahwa seluruh perempuan itu cantik.

Namun anehnya, mereka tetap membeli kosmetik, seraya berharap agar dapat menjadi cantik suatu hari nanti. Mereka juga ingin dipuji karena kecantikan fisik dan dimuliakan oleh tatanan sosial masyarakat kita.

Padahal jelas, cantik bukanlah satu-satunya daya tarik. Kamu tidak cantik, dan itu tidak mengapa. Angela Merkel, kanselir Jerman, tidaklah cantik. Namun, ia dicintai oleh rakyat Jerman. Di bawah kepemimpinannya, Jerman menjadi negara maju yang… ehm, tidak angkuh. Ia menerima kebebasan dan keberagaman, dan itu baik.

Atau, coba kita tengok di negeri sendiri. Kita punya segudang tokoh perempuan. Paling dekat, Anda bisa melihat perempuan-perempuan di Rembang, yang berjuang melawan ketidakadilan pabrik semen. Secara fisik, mereka tidak cantik, tapi berani. Dan, itu baik.

Masih banyak kelebihan dan kebaikan di muka bumi ini selain kecantikan. Jika kamu seorang perempuan yang merasa minder karena tidak cantik dan kebetulan membaca tulisan ini, saya ingin tegaskan sekali lagi, “Kamu tidak cantik dan itu tak mengapa…”