Ini Jawaban ketika Ditanya Kamu Orang Mana?

Ini Jawaban ketika Ditanya Kamu Orang Mana?

Ilustrasi (alumni.derby-college.ac.uk)

Jika ada misteri kehidupan yang paling sulit dipecahkan, saya tidak akan jauh-jauh membahas tentang ada tidaknya kehidupan di Mars atau konspirasi bumi datar atau mengapa Arsene Wenger masih bertahan di Arsenal.

Misteri kehidupan yang paling sulit dipecahkan sejak zaman SD hingga kini menjadi insan korporat adalah pertanyaan: “Kamu orang (dari suku) mana?”

Pertanyaan itu selalu bikin bingung layaknya pertanyaan kapan nikah, calonnya mana, kapan lulus, dan kawan-kawannya. Sebagian orang bisa dengan lantang menjawab bahwa mereka dari Jawa, Sunda, Betawi, Batak, dan lainnya.

Lantas, bagaimana dengan orang yang blasteran, ehm, maksudnya berdarah campuran?

Saya, misalnya, adalah satu dari ribuan bahkan jutaan orang berdarah campuran di nusantara ini. Ayah dari Jawa, ibu Sunda. Ketika guru, teman, dan orang-orang yang kepo menanyakan kamu orang mana, saya tak tahu harus menjawab apa. Begitu juga dengan teman-teman lain yang senasib.

Biasanya, orang berdarah campuran tak memiliki kekuatan batin yang kuat pada salah satunya. Kalaupun kuat, ia condong pada satu saja. Ini dilematis.

Mengaku Jawa, tapi rasanya durhaka tak menyebut Sunda. Mengaku Sunda saja, takut kualat. Mengklaim keduanya? Duh, saya bukan tipe orang yang suka menduakan, euy

Secara bahasa juga sama. Kalau tidak condong ke salah satu, ya tidak bisa sama sekali. Saya tahu bahasa Sunda, tapi tak fasih melafalkannya. Pengetahuan bahasa Jawa juga tidak lebih baik. Ketika mendengarkan ceramah Cak Nun di Youtube yang menggunakan bahasa Jawa, saya berteriak dalam batin, “Butuh subtitle!”

Hingga pada suatu hari, saya tak punya pilihan lain, selain menduakan eaaa… Ya mau bagaimana, itu jawaban yang paling pas sekaligus ringkas: Ja-Sun alias Jawa dan Sunda. Case closed.

Tapi, nyatanya, banyak orang yang tidak langsung ngeh bahwa itu maksudnya Jawa dan Sunda. Alhasil, mereka malah bertanya lagi, “Apa itu Ja-Sun? Artis Korea?”

Tepok jidat.

Itu artinya, jawaban Ja-Sun masih kurang efektif, karena harus ribet menjelaskannya lagi. Saya sempat bertanya kepada ayah dan ibu mengenai status kesukuan yang pas. Lalu, mereka menjawab, “Kamu bilang orang Indonesia saja.”

Mungkin ada benarnya itu jawaban terbijak. Tidak perlu repot-repot memikirkan harus lebih condong ke mana. Toh, semua fasih berbahasa Indonesia. Kalau tidak, bisa diomelin Pak Jokowi nanti. Baiklah, ‘Orang Indonesia’ adalah jawaban yang paling tepat.

Tapi, apa betul sudah selesai? Ternyata tidak juga…

Lagi-lagi, mereka yang menanyakan masih tidak puas dengan jawaban semacam itu. Padahal, setiap kali mereka bertanya, “Lo orang mana sih?”, saya selalu jawab, “Orang Indonesia”. Mereka malah tampak kesal dan ngotot balik bertanya.

“Gue juga orang Indonesia kalleee… Maksudnya aslinya dari mana, suku apa?”

“Ya orang Indonesia!”

“Duh, masa iya orang Zimbabwe, kalo itu gue juga tauu…”

“Nah, udah tau kan, kenapa nanya?”

Faktanya, saya – mungkin – adalah orang Jakarta, karena lahir, sekolah, hingga cari rezeki di Jakarta. Namun, KTP made in Bekasi dan artikel ini ditulis ketika saya berada di rumah, di Depok. Bingung kan?

Ketika orang ribut-ribut soal Pilkada DKI Jakarta, saya dapat dengan santainya menghindari perdebatan yang tak perlu. Lagipula nggak nyoblos. Tapi kadang gatel juga, karena Jakarta kan ibu kota, milik semua orang Indonesia. Asyik, nasionalis banget kan? Saya Indonesia, Saya Pancasila. Uhuk…

Sisi positifnya adalah saya dan keluarga dapat hidup dengan penuh keberagaman. Kami dapat mengonsumsi makanan khas dari daerah mana pun. Selama cocok di lidah, santap! Tak terkecuali penganan dari luar negeri.

Kami juga dapat berbaur dengan orang-orang yang ‘Jawa banget’ atau ‘Sunda banget’ dengan sama baiknya. Kami juga dapat akrab dengan masyarakat yang ‘Betawi banget’, karena di Depok banyak orang Betawi daripada Sunda.

Dengan orang-orang yang berasal dari luar Pulau Jawa, kami pun tak sungkan untuk bertegur sapa dan bergaul. Bahkan, ayah dapat berlogat Minang karena dulu punya tetangga orang Padang.

Tentu ini keuntungan tersendiri bagi saya ketika kelak akan menikah. Tidak perlu memikirkan apakah calon istri harus dari suku Sunda atau Jawa. Bebas. Tapi tetep ditanya kapan nikah kalau Lebaran, hehe…

Oh ya, warga berdarah campuran yang mengaku orang Indonesia pun sebenarnya punya ‘privilege’. Mengapa? Karena menjadi bagian dari semua, maka tak ada sekat primordialisme, feodalisme, atau apapun itu. Tak seperti orang yang mengglorifikasi kesukuan.

Eh, kebalik nggak sih?