Kamu Bilang Feminisme itu Buruk?

Kamu Bilang Feminisme itu Buruk?

Ilustrasi (dissentmagazine.org)

Suatu waktu, saya pernah mengatakan kepada seorang kawan untuk tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh kawan saya yang lain, yaitu ‘menggoda’ seorang perempuan yang kebetulan melintas di antara kami. Saya selalu menyakini bahwa perbuatan itu adalah perbuatan rendahan untuk seseorang yang pernah makan bangku sekolah.

Anda mungkin pernah melihat, merasakan, atau bahkan menjadi pelaku dari tindakan tersebut. Ada beragam cara untuk ‘menggoda’ perempuan di jalanan. Mulai dari siulan ataupun perkataan semacam “Neng, bisa kalee” yang biasanya menjadi modus untuk menggoda perempuan di jalan. Sadar atau tidak, tindakan itu termasuk perbuatan tidak menyenangkan terhadap perempuan alias pelecehan.

Belakangan, saya baru mengetahui bahwa ‘menggoda’ perempuan seperti itu punya julukan beken, yakni catcalling. Saya kurang tahu bagaimana asal mula kata catcalling, tapi saya tahu bahwa catcalling kerap menjadi wacana serius yang selalu disuarakan dalam setiap forum maupun unjuk rasa kaum perempuan di dunia.

Sepertinya tidak banyak laki-laki yang memahami bahwa catcalling merupakan pelecehan terhadap perempuan. Jangankan catcalling, pelecehan yang mutlak pun sering dianggap bukan pelecehan. Misalnya kejadian belum lama ini. Seorang mahasiswi dicolek pahanya oleh laki-laki tidak dikenal di bus TransJakarta. Bagi Anda yang memiliki lingkar otak yang normal, sudah pasti akan mengatakan bahwa tindakan itu murni pelecehan.

Tapi seorang aparat penegak hukum bilang bahwa itu bukan pelecehan dan si pelaku tidak bisa dijerat hukum pidana. Pelecehan baru akan terjadi, bila korban memakai rok mini.

“Enggak ada unsur pidananya. Orang cuma pakai kelingking. (Korban) dicolek bagian pahanya. Kalau pelecehan, kan dia pegang payudara atau pegang alat kelaminnya atau barang si laki-laki dikeluarin ditampilin. Ini kan enggak. Cuma pegang pahanya dan dia pakai celana panjang. Kecuali kalau dia pakai rok, terus dibuka pahanya, dipegang, itu baru bisa masuk unsur pelecehan,” kata si aparat.

Sulit untuk dipercaya ketika orang sudah memikirkan bagaimana caranya mengantar manusia ke Mars atau menambang emas di Bulan, masih ada orang yang enggan untuk merenggangkan lingkar otaknya. Dengan logika seperti itu, menggunakan rok (mini) adalah kemalangan. Salah rok mini atau pikiran orang itu saja yang mini? Atau, kalau pakai celana panjang – masih dilapisi kain – boleh dipegang pahanya, gitu?

Pelecehan terhadap perempuan sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Data kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 1998 hingga 2013 menunjukkan, hampir seperempat dari 93.960 kasus adalah kekerasan seksual. Ini berarti, sebanyak 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya atau tiga perempuan menjadi korban setiap dua jam.

Dengan realita seperti itu, maka penguatan ide-ide dalam feminisme adalah sebuah keniscayaan dan itu tidaklah mengejutkan. Feminisme muncul sebagai jawaban atas hegemoni patriarki. Namun, masih ada sebagian orang  yang membenamkan pikiran mereka dan menganggap kalau feminisme adalah paham yang menyesatkan.

Mereka akan dengan mudah mengatakan bahwa feminisme adalah pengaruh buruk bagi kaum perempuan. Bahkan saya pernah menemukan artikel yang menuliskan bahwa feminisme adalah paham yang mendorong perempuan untuk terobsesi dengan seks.

Kebencian mereka terhadap feminisme membuat saya ingin bertanya satu hal. Bagaimana jika feminisme tidak pernah ada di dunia ini?

Seandainya Emmeline Pankhurst tidak melakukan gerakan Suffragette di London pada 1912, bisa jadi tak akan ada perempuan yang ikut serta dalam pemilihan umum. Tidak ada perempuan dalam bilik-bilik suara dalam pesta demokrasi. Kita juga tidak akan pernah melihat perempuan-perempuan di Indonesia bisa duduk di kursi empuk perlemen, meski itu tidak menjamin bahwa mereka akan all out soal perempuan.

Atau, seandainya Charles Fourier tidak mencetuskan kata ‘feminisme’ pada 1837, maka kita tidak akan pernah melihat sosok perempuan seperti Hayley Williams menjadi pentolan grup band yang biasanya diisi oleh kaum laki-laki. Ketika marak beredar doktrin yang mengatakan bahwa tidak mungkin perempuan menjadi pemimpin, feminisme menawarkan ketidakmungkinan itu menjadi mungkin.

Seandainya Munaroh – salah satu tokoh dalam serial Si Doel Anak Sekolahan – mengenal feminisme, dia mungkin akan lebih memilih hidup bersama Mandra dibanding laki-laki pilihan orang tua. Feminisme menawarkan kebebasan untuk hidup, tak terkecuali urusan cinta sekalipun.

Tanpa feminisme, kaum perempuan hanya akan tersekap di dalam dunia yang gelap gulita. Tidak ada harapan dan terus terkurung dalam dogma. Berdasarkan sejarah, kita semua tahu bagaimana nasib kaum perempuan di zaman kegelapan, bukan?

Feminisme adalah api yang harus terus dinyalakan sebagai pertanda bahwa dominasi patriarki segera menemui ajalnya. Pelecehan dan kekerasan terhadap kaum perempuan akan sirna, jika feminisme dapat dimengerti sepenuhnya, termasuk oleh kaum laki-laki.

Siapapun yang percaya bahwa kebebasan itu ada, sepatutnya percaya bahwa kebebasan juga berhak dimiliki oleh kaum perempuan. Kebebasan bukan lagi monopoli kaum laki-laki. Saya pun laki-laki, tapi saya percaya…