#KamiTidakTakut Adalah Cerminan Kita!

#KamiTidakTakut Adalah Cerminan Kita!

Mengawali tulisan ini, izinkan saya mewakili seluruh redaksi voxpop.id menyampaikan duka yang mendalam terhadap korban aksi teror bom dan bersenjata yang coba mengoyak kedamaian hidup di Indonesia khususnya Jakarta.

Saya tak akan berteori atau beranalisis mengenai terorisme. Selain saya tak paham, saya juga gentar jika disejajarkan dengan pengamat terorisme seperti Ridlwan Jogja atau Mustofa Nahra. Tolong jangan ketawa, beliau sudah muncul di TV. Muncul di TV adalah suara kebenaran #TimMustofa.

Berbicara di luar keilmuan yang saya kuasai adalah ketakutan terbesar saya. Sungguh berbeda dengan tren yang tengah berkembang di Indonesia: menjadi pengamat segala bidang.

Saya pun kebingungan luar biasa ketika banyak teori konspirasi bertebaran di media sosial. Dari pengalihan isu Freeport, tidak boleh bikin hashtag karena bikin rupiah melemah, pengalihan isu Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, dan lain sebagainya.

Sementara pada hari yang sama, Freeport sudah menawarkan lebih kurang 10% sahamnya dengan banderol harga Rp 23 triliun. Penawaran yang mahal? Relatif. Yang pasti penawaran itu tak memiliki implikasi apapun, kecuali menunggu balasan pemerintah.

KPK juga terus mengembangkan OTT yang mungkin dapat berujung penangkapan-penangkapan berikutnya. Rupiah melemah dan IHSG terkapar? Ya iyalah. Ada bom ya wajar nilai tukar dan indeks saham melemah. Kalau sampai menguat malah membingungkan.

Namun yang pasti, pada hari yang sama, Bank Indonesia memotong BI rate 25 basis poin menjadi 7,25%. Apa artinya? Berarti suku bunga patokan turun, berarti suku bunga pinjaman seharusnya turun, berarti risiko untuk berusaha di Indonesia relatif juga turun. Itu dilakukan pada hari yang sama dengan peristiwa bom di Sarinah, Jakarta. Negara tidak takut capital flight atau rupiah melemah lebih dalam. Rupiah kok dipengaruhi hashtag. Pusing pala barbie…

Tapi apakah penggemar teori konspirasi mau menerima penjelasan? Tentu tidak. Karena yang mereka butuhkan hanya perhatian. Sini sun dulu…

Di tengah dinamika kondisi keamanan yang cukup mencekam, Presiden Jokowi hadir ke lokasi. Tanpa rompi anti peluru. Mengirim sinyal ke seluruh penjuru nusantara dan dunia bahwa Indonesia kuat, tidak takut, dan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk perang melawan teroris.

Kemudian munculah hashtag #KamiTidakTakut. Pada hari yang bersamaan, bermunculan berbagai informasi menarik. Dari tukang sate yang tidak kabur saat ada suara ledakan dan tembakan, pedagang asongan dan kacang rebus yang mengais rezeki hanya sepelemparan batu dari pos polisi yang diledakkan.

Berita sektor riil ini berpadu dengan bertebarannya gambar polisi ganteng yang kemudian berujung para wanita stalking akun Twitter si polisi tersebut. Well, saya pun yang pria ikutan stalking.

Hashtag #KamiTidakTakut ini pas sekali untuk bangsa Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya. Hal ini muncul bukan tiba-tiba untuk menentang terorisme, tapi sudah mendarah daging bagi warga yang menetap di Jakarta dan sekitarnya. Saya mentabulasi ada 5 budaya #KamiTidakTakut yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.

1. #KamiTidakTakut Bahaya Jalan Raya

Dengan jumlah kematian akibat berkendara mencapai 70-80 jiwa per hari, tak membuat penduduk Jabodetabek takut mati. Jumlah kendaraan yang bisa mencapai 20 juta lebih, dimana sekitar 70% sampai 80%-nya bisa jadi motor, sungguh timpang dengan jumlah polisi. Apalagi kalau dibandingkan dengan polantas.

Pertumbuhan kendaraan pribadi juga timpang dibandingkan pertumbuhan ruas jalan. Macet dan stres di jalan. Tapi sungguh saya melihat semangat #KamiTidakTakut terutama di pemotor.

Saksikan aksi melawan arus yang membahayakan jiwa, berhenti di depan bahkan menerobos lampu merah, multitasking naik motor sembari mendengarkan lagu via earphone dan mengecek pesan masuk di gawai, hingga pemotor usia dini. Jangan kata menghadapi terorisme yang datang tidak diduga, banyak kok yang hidup di sini justru dengan santai menghadapi ancaman maut setiap hari.

2. #KamiTidakTakut Salah

Rasanya fenomena ini juga banyak ditemui, tidak takut dengan rasa salah. Bayangkan anda naik mobil berkecepatan rendah di sisi kiri. Lalu ada motor mendahului anda dari kiri dan menyerempet body mobil. Bisa jadi kalau berurusan, pemotor akan lebih ngotot tidak bersalah. Salah benar urusan belakangan, yang penting ngeyel dulu.

Hal yang sama juga terjadi di pengendara mobil. Berkendara di kanan jalan dengan kecepatan rendah, sambil mendengarkan musik atau merokok dengan santai di dalam mobil mewah. Sementara di belakangnya antrean panjang ingin mendahului. Sering kalau diklakson, orang begini malah marah, karena klakson dianggap mengganggu ketenangan hidupnya.

Inilah era ajaib. Bisa beli mobil mewah (mungkin nyicil sampai bikin sesak nafas), tapi tidak bisa menggaji sopir. Berkendara tapi harus sok asik sambil dengar earphone dan cek timeline media sosial. Peduli amat cara nyetir mengganggu orang lain. Bagi mereka ini, orang lainlah yang harus menghormati ‘keunikan’ hidupnya.

Rasa tidak takut salah juga terjadi pada orang yang berutang. Kerap kali yang menagih kalah galak sama yang punya utang. Aneh kan? Utang tanpa ada niat membayar saja tidak takut, apalagi cuma sekedar bunyi granat rakitan meledak.

3. #KamiTidakTakut Belanja

Walau ancaman middle income trap sungguh nyata, tapi penduduk Jabodetabek ini sungguh kebal. Belanja online bagaikan oksigen bagi kehidupan mereka. Tak peduli 90% pendapatan habis untuk memenuhi hasrat konsumtif. Ketakutan tidak bisa belanja justru lebih menakutkan daripada dipecat atau bahkan mati.

Karena itu, walau sudah jelas ada aksi teror, sektor riil tetap bergerak. Orang tetap bekerja dan tentunya tetap belanja. Kelompok ini sungguh rela makan seadanya demi berhemat untuk belanja online. Bahkan menghabiskan limit kartu kredit dan membayarnya dengan limit minimal pun dilakoni. Tidak ada kata takut dalam belanja. Luar biasa.

Saya sampai mensinyalir kalau keluar masuknya seorang karyawan di perusahaan berkaitan dengan semangat belanja yang luar biasa. Setahun pindah pekerjaan sampai 3-4 kali pun tak apa. Yang penting bisa naik gaji dan punya waktu luang untuk belanja. Sungguh orang-orang yang lebih takut bokek daripada mati. Bisa jadi, kalau orang model begini disandera teroris, mereka akan mengiba untuk dilepaskan dengan alasan ada toko online yang lagi diskon besar hari ini.

4. #KamiTidakTakut Selfie

Di era narsis yang tidak boleh setengah-setengah ini, selfie menjadi kewajiban yang kadang mengalahkan makan minum. Sudah berapa taman bunga hancur karena selfie, juga jembatan dan fasilitas publik serta taman-taman indah lainnya.

Coba saja lihat setelah kejadian aksi terorisme kemarin. Pasti TKP tak lama akan menjadi lokasi selfie pilihan banyak orang. Bahkan Starbuck yang kondisinya porak poranda di dalamnya akan menjadi spot selfie yang monumental bagi para penggila selfie. Yang terjadi bukan masyarakat takut dengan aksi terorisme dan menghindari kerumunan. Malah banyak tongsis dan mulut monyong di lokasi-lokasi kejadian perkara.

5. #KamiTidakTakut Caper

Apa yang dicari dari aksi teror? Perhatian? Waduh. Sepertinya bakal sulit. Aksi cari perhatian dilakukan berbagai kalangan di Indonesia. Dari level caper ke mantan sampai caper ke pemerintah. Dari caper untuk menggombali followers hingga caper untuk memperoleh kesan: ‘iiiih orang itu pinter banget’.

Ya, Indonesia sungguh sulit mencari perhatian, karena terlalu banyak yang caper. Bahkan pelanggaran HAM di Jawa yang menimpa petani saja sulit sekali mendapatkan perhatian hingga ada korban jiwa. Bandingkan dengan berita gosip Regina kawin lagi yang jadi running news.

Belum lagi ada isu reshuffle menteri. Semua kementerian berlomba menunjukkan: ‘Saya kerja loooh pak presiden, jangan diganti ya saya…. Pleaseee’. Saking semangatnya caper, kadang dibuat prestasi-prestasi artifisial yang penting tayang di media dan viral sampai ke telinga dan mata presiden.

Kadang yang jelas-jelas tak mencapai target pun bisa disulap jadi prestasi besar. Semua alasannya sama: demi negara. Padahal ya cuma takut kehilangan jabatan dan pendapatan.

Bangsa Ajaib

Entahlah apa target aksi teror kemarin. Korban jiwa teroris lebih banyak. Menenggelamkan masyarakat dalam ketakutan via histeria massa juga gagal. Cari perhatian rakyat Jakarta juga gagal. Justru malah muncul fenomena kecintaan masyarakat pada polisi dan tukang sate yang tetiba tenar. And last but not least, menyatukan bangsa ini dalam kebersamaan menghadang aksi terorisme di manapun.

Indonesia ini bangsa ajaib. Teror menghabisi nyawa tidak mempan. Jangankan teroris, negara sendiri pernah menghabisi rakyatnya lewat operasi-operasi bersenjata di masa lalu (moga tidak terjadi di masa kini).

Silakan lihat peristiwa Westerling, agresi militer Belanda, kesombongan tentara sekutu di Surabaya, dan masih banyak lagi. Apakah ada serpihan ketakutan hari itu? Tidak. Tidak terjadi ketakutan di masa lalu, tidak di masa kini, dan semoga tidak juga di masa depan. Karena Indonesia sungguh bangsa besar dan hebat dengan segala keunikan masyarakatnya.

Akhir kata, stay safe, stay strong, fuck terrorism!

Foto: skyscrapercity.com