Kalaupun Kere, Memang Kenapa?

Kalaupun Kere, Memang Kenapa?

Ilustrasi (tribunnews.com)

Banyak orang gak setuju dengan aksi para turis asing yang menjadi pengamen, penjual kartu pos, bahkan pengemis di beberapa negara Asia Tenggara. Gara-gara itu, label traveler kere disematkan kepada mereka.

Duh, saya tersinggung berat. Meskipun gak pernah ngamen dan sebagainya, saya punya kesamaan dengan bule-bule itu, sama-sama gak punya duit banyak, tapi hasrat traveling susah dibendung. Terus, kita gak boleh traveling, gitu?

Meskipun cekak, setiap orang berhak untuk bersenang-senang, karena bersenang-senang bisa bikin orang bahagia dan itu adalah hak segala bangsa. Gak ada tuh syarat dan ketentuan: kecuali yang kantongnya lagi cekak, bokek, kere, atau apa-apalah itu.

Ini semua bermula dari cuitan seorang penduduk Singapura yang terkaget-kaget melihat turis mengamen di sebuah lokasi yang sibuk. Kok bisa sih ngamen di tempat yang tidak ditentukan? Kok bisa sih bule ngamen?

Cuitan tersebut menjadi viral sampai sebuah media online mengangkat ceritanya dan menggabungkan dengan temuan-temuan wisatawan bule yang berjualan kartu pos ataupun lukisan buatan mereka sendiri di beberapa negara Asia Tenggara.

Gara-gara viral, banyak dari mereka yang menyebutnya dengan istilah begpacker, plesetan dari kata backpacker. Beg artinya mengemis. Tapi, halloo…! Mengamen dan jualan gak sama dengan mengemis, keleus…

Di Indonesia sendiri, banyak media menyebut para begpacker sebagai ‘traveler kere. Tak sedikit orang yang menyindir, misalnya seperti di bawah ini:

“Traveler kok kere, kalau enggak punya duit mending di rumah saja.

Nah, setelah saya telisik, rata-rata penyebab nyinyirnya para komentator adalah ketimpangan perlakuan yang mereka dapatkan ketika mengajukan visa ke negara barat. Memang sih, mengajukan visa ke beberapa negara dunia pertama itu bikin meriang, dan mules pula.

Persyaratannya itu lho, mulai dari bukti keterangan kerja, rekening koran, bukti pemesanan tempat menginap, kadang ada yang meminta bukti tiket pergi-pulang. Sementara, bagi beberapa warga negara asing, sangat mudah berlibur ke negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Setidaknya ada 169 negara yang mendapatkan fasilitas bebas visa kunjungan ke Indonesia.

“Giliran kita harus tunjukin kemampuan finansial buat masuk negaranya, sedangkan mereka gak perlu menunjukan apa-apa. Eh, malah ujung-ujungnya cari duit di negara miskin,” kata seorang netizen mengungkapkan kekecewaannya.

Betul sekali, ada pelanggaran visa yang dilakukan oleh bule yang mengamen dan berjualan, jika mereka memakai visa kunjungan. Eh, tapi tunggu dulu, kita mesti tahu jenis visa apa yang mereka miliki? Siapa tahu mereka memang punya hak untuk bekerja. Kalau mereka cuma pegang visa kunjungan, itu beda kasus.

Beberapa negara melarang keras setiap pemegang visa kunjungan untuk bekerja dalam bentuk apapun. Bahkan ada negara yang melarang aktivitas volunteer dan kerja paruh waktu – misalnya bekerja sebagai tukang bersih-bersih di hostel demi mendapatkan penginapan gratis.

“Traveling itu buat liburan bukan cari kerja!”

Yah, hari gini gaya hidup orang masih harus disamaratakan. Males banget kan? Sama seperti sidik jari setiap manusia yang berbeda-beda, tiap orang punya cara ternyaman untuk traveling. Jamak banget sekarang istilah traveler koper, flashpacker, dan backpacker. Label-label tersebut menggambarkan seberapa besar bujet traveling yang tersedia.

Ada juga wisatawan yang gak suka ribet dan mempercayakan agen untuk mengatur urusan perjalanannya. Pun tidak sedikit wisatawan yang senang mengurus semua keperluannya sendiri. Beda gaya dan cara traveling, tapi tujuannya sama, ingin berwisata dan senang-senang.

Pilihan yang mereka buat pasti sesuai kenyamanan masing-masing. Para backpacker yang selalu dianggap berbujet tipis-tipis belum tentu bisa menikmati kemudahan dan kenyamanan yang biasanya jadi makanan sehari-hari para traveler ala koper.

Ketika melakukan perjalanan, saya pun tak sedikit bertemu dengan para wisatawan tipe backpacker. Biasanya identitas mereka dilihat dari tas punggung yang dipanggulnya. Mereka selalu dicap tidak memiliki uang banyak, makanya serba irit saat traveling. Semuanya harus serba murah, ya kalau bisa gratis sekalian.

Saya gak akan membahas backpacker yang hanya berpergian dalam waktu singkat. Begini ya, bagi backpacker yang jalan-jalannya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, anggaran belanja memang harus diatur ketat. Kenapa? Semakin kecil pengeluaran harian, maka jumlah hari dalam perjalanan akan semakin panjang.

Bagi para backpacker semacam di atas, makna traveling bukan lagi sekadar liburan. Pun traveling bukan melulu mengunjungi tempat-tempat yang masuk dalam daftar wajib kunjung. Nyampe syukur, gak kesampean ya syukurin.

Pernah dengar ungkapan Traveling is not about destination but the journey itself”? Perjalanan bukan sekadar tujuan, tetapi petualangan itu sendiri?

Kayaknya ungkapan di atas jadi prinsip jalan-jalannya para backpacker atau budget traveler deh. Makanya, sering kita lihat ada pejalan yang rela menggoes sepeda melintasi beberapa benua. Demi apa? Bukan sekadar berhemat, tetapi dalam setiap kayuhan akan memberikan pengalaman, setiap tarikan napas ada cerita sendiri.

Kalau gak percaya, baca buku karya Bambang ‘Paimo’ Hertadi Mas, yang judulnya ‘Bersepeda Membelah Pegunungan Andes’. Nah, bule-bule yang sampe mengamen demi mendapatkan uang tambahan untuk traveling, saya rasa punya prinsip yang sama. Mengamen di negara asing merupakan pengalaman menantang.

“Traveler kere tidak memberikan kontribusi apa-apa buat lokasi tujuan.

Ya elah matre banget sih. Apa iya, setiap kontribusi harus serba terlihat nominalnya? Saat wisatawan mengunjungi suatu tempat asing, gak cuma dia yang mendapat pengalaman baru, tetapi juga penduduk setempat.

Misalnya, tetangga saya di kota Tuluá, Kolombia, jadi tahu kalau Indonesia adalah negara berpenduduk terbanyak nomor empat di dunia. Informasi itu baru mereka dapat dari orang Indonesia yang baru kali pertama mereka temui. Mereka pun terheran-heran melihat saya tak beralas kaki di dalam rumah demi alasan kebersihan.

“Kalau bule mengamen atau mengemis berarti mereka mengambil jatah orang yang membutuhkan.

Komentar di atas menunjukkan perbedaan perspektif antara pandangan penduduk di dunia ketiga dan negara maju. Di beberapa negara, status pengamen pinggir jalan gak dianggap sebelah mata. Bahkan kalau mau mengamen harus mendaftarkan diri kepada pemerintah daerah setempat. Para calon pengamen tersebut juga harus ikut audisi untuk mengetes apakah mereka layak unjuk bakat di sudut kota yang telah disediakan.

Hal lain yang ditunjukkan komentar di atas adalah kecenderungan bahwa bule akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar dibanding pengamen dan pengemis lokal. Ah, ini mah tergantung niat yang akan memberikan uang aja sih.

Misalnya, saya sudah pasti gak akan memberikan uang pada pengemis. Kalau urusan pengamen, saya baru akan memberikan uang kepada mereka yang memang memiliki kualitas penampilan yang bagus, bukan sekadar kecrek-kecrek botol bekas. Hal itu berlaku buat pengamen lokal maupun interlokal.

Banyak yang gak setuju karena tujuan para begpacker mengamen adalah untuk membiayai perjalanan mereka berikutnya. Traveling adalah kebutuhan tersier. Rasanya gak pantas meminta uang dari masyarakat dunia ketiga, yang terkadang untuk makan sehari-hari saja tidak ada, begitu kata netizen.

Begini ya, setiap orang yang mencari duit punya tujuan masing-masing akan diapakan penghasilannya itu. Lalu apa bedanya travel writer dengan ‘begpacker’ yang sama-sama punya tujuan menggunakan penghasilannya untuk traveling?

“Kok, bule kere?”

Ini komentar paling absurd yang sempat saya baca dari banyaknya netizen yang mencibir kelakuan begpacker. Saya sebenarnya gak mau ngomong seperti ini, tapi sepertinya harus dilakukan, “Makanya banyakin piknik!”

Kenapa? Biar makin sering ketemu orang asing dan jadi tahu kalau mereka ya sebenarnya manusia biasa aja. Warna kulitnya gak pernah bisa bikin rekeningnya membengkak. Lagipula, di luar negeri sana, juga ada gelandangan, pengemis, pengangguran, dan segala macamnya. Orang miskin bukan cuma di Indonesia.

Yah, meskipun kita bisa seenak hati melabeli seseorang dengan sebutan traveler kere, tapi bisa jadi mereka melihat lebih banyak hal dari kita. Pengalaman hidupnya lebih kaya.

Kolombia, 15 April 2017.

  • Menurut saya ini bukan masalah kere apa nggak, tapi persiapan. Saya juga kere kok, tapi saat traveling, saya siapkan budget yang cukup. Supaya saat di negeri orang, seluruh kebutuhan saya bisa tercukupi tanpa harus “mengemis” 😀

  • Fajar Asmara

    Pernah tinggal cukup lama di sebuah backpaker hostel di daerah bugis singapur.. apa yg ditulis mbak ini benar adanya..