Kalau Aku Yahudi, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Kalau Aku Yahudi, Memangnya Kamu Lebih Baik?

dailymail.co.uk

Muslim dan Yahudi memang terkenal dengan sejumlah kisah permusuhan yang panjang. Mulai dari zaman Nabi Muhammad, dimana kaum Yahudi kebanyakan tak ingin masuk agama Islam. Atau masa kini, dimana kisah mengenai perang Palestina-Israel yang begitu menyayat hati.

Kita pun kerap tersihir oleh propaganda anti-Yahudi. Itu terjadi di mana-mana, termasuk di jejaring sosial ciptaan orang-orang keturunan Yahudi sendiri. Saya tentu mafhum, sebagai Muslim, rasa sinisme kepada kaum Yahudi itu kemudian muncul.

Kisah tentang kekejian Yahudi bahkan diceritakan secara turun menurun bak dongeng sebelum tidur. Setidaknya di sejumlah keluarga Muslim di Indonesia. Satu cerita klasik favorit saya adalah kisah bagaimana Nabi Muhammad diludahi oleh seorang Yahudi. Andai anda lupa, biar saya ceritakan.

Seorang Yahudi datang dan memanggil Nabi Muhammad. Saat Nabi Muhammad menoleh, orang Yahudi itu lalu meludahi beliau. Itu terjadi terus-menerus, namun tak sekalipun Nabi Muhammad melawan. Suatu hari, Nabi Muhammad mencari orang Yahudi itu. Ia tahu bahwa orang Yahudi itu sakit. Lalu, Nabi Muhammad memberinya obat-obatan. Pada hari itu juga, orang Yahudi tersebut menjadi Muslim.

Sebenarnya sungguh menyenangkan membaca kisah-kisah semacam ini. Namun, kisah ini seringkali dinarasikan sebagai superioritas Muslim dan chauvinisme sempit terhadap Islam itu sendiri. Seolah tak ada agama lain yang sesempurna Islam.

Saya ingin membeberkan fakta lucu tentang diri saya. Saat saya remaja, saya sempat ingin menutup akun Facebook dan uninstall Windows dari laptop, karena saya ketahui dalam postingan ala Jonruisme, kedua produk itu dibuat oleh seorang keturunan Yahudi.

Saya sempat terbuai dengan ajakan boikot produk Amerika, karena kabarnya negara adidaya dan beberapa perusahaan besar di sana memberikan bantuan untuk Israel. Lalu apa kabar Turki yang hubungannya kembali menghangat dengan Israel? Atau, Arab Saudi yang diam-diam tapi mesra? Tapi ya itu, pokoknya budaya Barat harus dicela, sementara kita harus berkiblat pada budaya Timur.

Saya juga sempat percaya dengan ungkapan yang viral dengan wajah Hitler tentang Holocaust. Bunyinya begini, “Saat saya biarkan mereka, kelak anda tahu betapa kejamnya mereka.” Tapi lima hari berselang setelah “memboikot” Facebook dan Windows, rupanya sulit. Saya balik lagi. Lagipula, bukankah pesan tersebut juga saya temukan di Facebook? Sebuah keabsurdan yang hakiki.

Waktu pun terus berlalu, tapi rupanya tidak berkembang-kembang amat. Kini, Pokemon disebut-sebut memiliki arti “Aku Yahudi” dalam bahasa Syriac. Entah bagaimana bisa muncul, tapi lucunya ini menimbulkan perdebatan yang seru. Ada yang percaya, banyak pula yang membela. Bahkan walikota Banda Aceh benar-benar percaya kalau Pokemon memang berarti demikian.

Propaganda ini tentu menyebalkan dan menjadi upaya pembodohan secara hakiki. Semuanya terada paranoia dan terlalu eksposur berlebih. Dipimpin oleh pemuka adat di dunia maya dan gerakan masif di dunia nyata, mereka berombong-rombong melakukan apa yang dikritik Nietzsche: lebih banyak kata persuasif, sehingga terkekang dalam berpikir.

Lucunya lagi, pikiran kita semakin pendek. Dikekang oleh paranoid yang berlebihan. Kita kerapkali terbuai dalam politik identitas. Jika Yahudi jahat, lalu apa yang membuat anda lebih baik?

Kita terkekang dan tersihir. Kita tak bisa melihat kebenaran dengan sepatutnya kebenaran: tanpa ilusi, tanpa benar dan salah. Kita sendiri mewajibkan bahwa ada sebuah nilai yang harus dipegang. Bahkan saat nilai itu tak sungguh-sungguh ada.

Kebencian kita sesungguhnya hanya ikut-ikutan nge-hype saja. Biar kekinian dan dianggap paling saleh. Padahal, Nabi Muhammad sendiri tak pernah berperang melawan kaum Yahudi. Dalam kisah tadi pula digambarkan betapa santunnya beliau sebagai seorang Rasul.

Beliau tak pernah sememaksa itu untuk mengajak seseorang masuk Islam. Pada masanya, kaum Yahudi dan Muslim hidup berdampingan. Padahal, bukan suatu keanehan, jika kemudian beliau melakukan konfrontasi. Toh, selama hidupnya sudah berapa kali ingin dibunuh.

Beliau sangat tak memaksa. Menyanjung dan memahami kekuatan personal branding adalah sebab mengapa beliau menjadi figur yang dikagumi, bahkan oleh agama lain. Jika ada sebuah perang yang terjadi, itupun karena pilihan paling akhir dan lebih pada membela diri.

Islam selalu mengedepankan kasih sayang, meski dalam situasi perang. Kasih sayang yang begitu khas, hingga menyentuh semua sisi kehidupan. Apa yang dipraktikkan Nabi Muhammad dalam peperangan menunjukkan ketinggian dan kemuliaan akhlak, bukan ekspresi liar hingga liang lahat.

Perang Badar, misalnya, terjadi karena Nabi Muhammad ingin dibunuh oleh kaum Quraisy. Meski hanya memiliki 300 pasukan Muslim melawan 1.000 tentara kaum Quraisy, beliau tetap memenangi perang. Etos perang itupun sangat luar biasa: tak boleh membunuh orang tua, anak kecil, dan perempuan.

Selain itu tak boleh juga memaksa para tawanan perang untuk pindah agama. Para tawanan harus diperlakukan selayak-layaknya sebagai manusia, tanpa melihat apakah orang itu musuh bebuyutan atau bukan.

Sayangnya, sekarang ini sinisme hadir tanpa dasar. Hanya berdasarkan dendam yang jauh dari akhlak Islam. Lalu dijejali oleh beragam kedustaan. Seperti pengecer obat-obatan di pinggir jalan, banyak sekali orang macam ini. Orang yang disebut sebagai manusia penyampah: hanya ingin didengar tanpa mau mendengarkan. Lalu semuanya dihiperbola dan disebarkan secara viral.

Kemudian, kata-kata itu ditelan bulat-bulat. Dan, menjadi kotoran yang diperdebatkan datangnya darimana. Setelah semua itu, hanya ada kekacauan dalam perdebatan. Lalu kalau sudah menang apa? Anda akan menjadi manusia tersoleh? Manusia yang paling berhak mengkavling tanah surga, sedangkan yang lain ngontrak?

Oh ya, balik lagi soal Pokemon yang lagi kekinian. Setelah googling, saya ingin berikan fakta menarik. Jika ingin didedah kata per kata, Pokemon memiliki arti yang sangat jauh dari kata “Aku Yahudi”. Sebab, “poke” itu artinya “sodok”. Kalau “mon” itu artinya “saya”. Kalau digabungin jadi apa? Ya, silahkan jawab sendiri!