4 Petunjuk untuk Memahami Ujaran Kaesang Pangarep

4 Petunjuk untuk Memahami Ujaran Kaesang Pangarep

Instagram/Kaesang Pangarep

Badan saya masih meriang akibat pilek berkepanjangan ketika seorang teman mengirim pesan berisi tautan di Whatsapp. Ia berkata, dengan awalan emoji cengengesan, “Cepatlah buka biar harimu makin berwarna.”

Maka, dengan hidung meler, saya membuka tautan itu yang ternyata mengantar saya pada situs berita daring. Dan, judul berita tersebut tak main-main: “Putra Jokowi Terancam Bui”.

Berita tersebut mengabarkan Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi, dilaporkan ke polisi akibat materi video blog bikinannya yang dituduh mengujarkan kebencian. Sang pelapor, Muhammad Hidayat, menyorot penggunaan frasa ‘dasar ndeso’ yang diulang-ulang Kaesang pada vlog tersebut.

“…Mengadu-ngadu domba dan mengkafir-kafirkan, nggak mau mensalatkan padahal sesama muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin, apaan coba, dasar ndeso.”

Bagian itulah yang menjadi dasar pelaporan Muhammad Hidayat. Dan, tepat setelah berita itu rampung saya baca, semua keluhan tentang hidung meler dan badan meriang yang saya derita mendadak lenyap, seolah tak pernah mengalaminya.

Saya ucapkan hamdalah berulang-ulang sembari mengirim pesan kepada teman saya tersebut bahwa berita yang ia bagikan benar-benar tokcer.

Namun, setelah euforia itu usai, saya jadi teringat pada sosok Prita Mulyasari, seorang ibu di Tangerang Selatan yang pernah diperkarakan oleh rumah sakit Omni bertahun-tahun dengan pasal yang sama.

Curhatan Prita mengenai pengalamannya saat dirawat di sana pada surelnya dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut.

Kasus itulah yang mengawali tren menggalang uang koin untuk solidaritas. Aksi ‘Koin untuk Prita’ berhasil mengumpulkan ratusan juta rupiah, yang semuanya tentu saja berupa duit receh.

Uang itu dipakai untuk membayar denda yang dijatuhkan hakim kepadanya dan membantu penghidupan keluarganya selama ia dua tahun mendekam di penjara.

Sejak itulah aksi menggalang uang koin menjadi tren, yang sayangnya juga berbanding lurus dengan makin banyaknya pelaporan pencemaran nama baik dan penghinaan.

UU ITE dan khususnya pasal 310 KUHP, memang bermasalah. Batasan pada keduanya teramat longgar, sehingga siapapun bisa dijerat meski dengan alasan remeh-temeh sekalipun.

Anda yang kebetulan bermukim di Surabaya dan punya kecenderungan gampang sakit hati, bisa melaporkan teman karib anda yang kebetulan melintas dan menyapa anda dengan berkata, “Cuk, piye kabare?”

Anda juga bisa melaporkan mantan kekasih anda, yang saat minta putus mengatakan bahwa anda seburuk-buruknya orang di dunia untuk dipacari. Anda pun bisa menyeret atasan di kantor karena ketika briefing pagi berkata bahwa anda adalah karyawan yang payah.

Kini, giliran Kaesang yang dipolisikan dengan memakai pasal karet tersebut. Tapi, benarkah ia bersalah?

Ada empat jenis ungkapan yang maknanya tidak dipahami oleh orang-orang, sehingga sering terjadi kesalahkaprahan. Ungkapan-ungkapan tersebut adalah hate speech, blasphemy, sarkasme, dan ironi.

Untuk memahami perbedaan di antara keempat ungkapan tersebut, mari kita jadikan hate speech sebagai kunci. Sebab, tiga lainnya, oleh karena keofensifannya, sering disepadankan dengan hate speech, terutama oleh si objek penderita.

Hate speech ujaran kebencian – harus bersifat defamasi, false statement, fitnah. Blasphemy, sarkasme, dan ironi justru sebaliknya: ia selalu berawal dari hasrat untuk menyatakan kebenaran. Relasi antara hate speech dengan tiga yang lain selalu bertentangan.

Lalu, di mana letak perbedaan blasphemy dengan sarkasme dan ironi? Blasphemy – penghujatan, penistaan – bermaksud meyakinkan pendengar, sehingga ia melakukan atau menjadi apa yang diinginkan pengujar.

Blasphemy mengatakan A dengan A. Relasi A dengan A inilah yang membedakannya dengan sarkasme dan ironi. Sedangkan sarkasme dan ironi menyatakan A dengan -A atau sebaliknya.

Sementara perbedaan sarkasme dengan ironi ada pada intensinya. Ironi tak melulu ofensif, sehingga tak semua ironi merupakan sarkasme, meski semua sarkasme adalah ironi. Pendeknya, sarkasme selalu intensional, tapi tidak dengan ironi.

Bingung dengan penjelasan saya? Emang enak!

Mari kita membuat pengandaian supaya mudah… Anda adalah seorang perempuan yang tak pandai merias wajah dan memiliki selera estetika yang remuk, sehingga memakai bedak dengan ketebalan lima senti.

Anda juga memulas bibir dengan acuan gaya Joker, membubuhkan eye shadow dengan berkiblat pada gaya hantu Suzanna, dan memoles blush on banyak-banyak pada pipi sehingga tampak seperti korban KDRT.

Untuk busananya, anda memilih tank top motif kulit macan yang dipadukan dengan rok hitam sepaha yang bertaburkan glitter. Biar bling-bling gitu.

Kemudian, anda pergi ke acara reuni teman sekolah. Jika ada teman yang nyeletuk, “Berapa tarif lo semalam suntuk?” maka itulah hate speech. Jika teman anda berkata, “Lo tolol banget kalau berdandan. Norak, tahu!” maka itulah blasphemy.

Namun, jika teman anda bilang, “Muka lo putih banget, sampai bisa disendoki bedaknya”, maka itulah sarkasme. Dan, jika teman anda berkata, “Kamu lebih cantik kalau tanpa riasan”, maka itulah ironi.

Lantas, apa posisi frasa ‘dasar ndeso’ pada ujaran Kaesang yang menjadi dasar pelaporan ke polisi?

Frasa tersebut Kaesang gunakan untuk menghujat pihak-pihak yang mengadu domba, mengkafirkan, hingga enggan menyembahyangi jenazah sesama agama, karena perbedaan dalam pilihan pemimpin.

Frasa tersebut adalah bentuk makian, sama belaka dengan frasa ‘dasar tolol’ atau kalau di Surabaya dan sekitarnya: ‘jancuk’.

Namun, janganlah terjebak pada frasa makian tersebut. Fokuslah pada konteks kalimat tempat frasa makian itu melekat. Apakah benar ada pihak-pihak yang mengadu domba dan mengkafirkan pihak lain?

Apakah benar ada pihak yang enggan menyembahyangi jenazah saudara seimannya sendiri karena perbedaan pilihan pemimpin? Siapakah pihak yang melakukan itu semua? Dan, apa bentuk adu domba yang pihak tersebut lakukan?

Jangan tanya saya, siapa pihak yang dimaksud oleh Kaesang, sebab ia membuat vlog itu tanpa meminta bantuan saya, sih. Itu tugas kepolisian untuk menyelidikinya.

Namun, ada baiknya bila pasal-pasal karet tersebut kita usulkan untuk ditinjau ulang di Mahkamah Konstitusi. Penggunaan pasal-pasal karet itu selama ini lebih banyak sebagai alat balas dendam dan pembungkam kritik, yang tentu saja telah menyimpang jauh dari tujuan pembuatannya.

Tapi, mengingat wakil-wakil kita yang memiliki wewenang tersebut sedang sibuk berseteru dengan KPK, yang paling mungkin kita lakukan saat ini adalah memahami perbedaan antara keempat ungkapan di atas agar tak sembarangan mengajukan gugatan.

Bagaimanapun, pengetahuanlah yang mendekatkan kita pada keadilan…