Yang Tidak Dibahas pada Laga Final Juventus v Madrid

Yang Tidak Dibahas pada Laga Final Juventus v Madrid

(mirror.co.uk)

UEFA Champions League 2016/2017 telah berakhir. Pada laga final di Millennium Stadium, Cardiff, Wales, Real Madrid keluar sebagai juara, setelah berhasil mengalahkan Juventus dengan skor telak 4-1.

Real Madrid melaju ke final setelah sukses menjungkalkan tim sekotanya, Atletico Madrid. Sedangkan Juventus menyumpal mulut tim besar lainnya, Barcelona.

Duel Juve v Madrid menjadi pertemuan ke-19 bagi kedua tim selama mengikuti kompetisi kasta tertinggi di Eropa tersebut. Itu juga menjadi final ulangan 19 tahun silam. Kala itu, Madrid juga keluar sebagai kampiun setelah menang dari Juve 1-0.

Dan, menariknya, Juve dahulu diperkuat Zinedine Zidane. Kini, Zidane malah menukangi Madrid. Kira-kira, bagaimana perasaan Zidane ketika berhadapan dengan mantan klubnya?

Zidane datang ke final bukan lagi bersama Juve guna membalas dendam, melainkan bersama tim yang dulu pernah memupus harapannya meraih gelar juara. Tentu ini tekanan berat bagi sang maestro.

Ibarat datang ke kondangan bersama gebetan baru, lalu ketemu mantan yang dulu terpaksa berpisah karena alasan klasik: “Ya, kita memang udah nggak cocok aja.” Pedih…

Namun, Zizou – sapaan akrab Zidane – adalah pelatih profesional. Ia mampu melewati hajatan laga super penting itu dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, meski ia mengaku Juve selalu memiliki tempat khusus di hatinya. Eeaa….

Selain masalah mantan dan kenangan, berbagai macam analisis canggih juga bertebaran sejak beberapa hari sebelum final. Semuanya masuk akal dan terukur. Analisis-analisis teknis, seperti kekuatan tim dan strategi permainan, terus berkembang hingga pertandingan usai.

Namun, dari itu semua, ada beberapa hal yang tidak dibahas. Sesuatu yang bahkan tidak masuk akal, tapi nyata dan dialami oleh para pemirsa se-Indonesia raya. Bahwa ada sisi lain dari menonton final Liga Champions kali ini. Mari disimak…

1. Penghibur Kaum Jomblo

Saya menduga-duga salah satu alasan kuat UEFA menetapkan akhir pekan sebagai ‘hari H’ final Liga Champions – selain menarik lebih banyak penonton – juga untuk memberikan hiburan bagi kaum jomblo, terutama mereka yang terindikasi sebagai penggemar sepak bola garis keras.

Momen itu membuka kesempatan bagi mereka untuk melepas rasa gelisah gundah gulana, karena salah satu sajian sepak bola paling bergengsi tersebut bisa mengusir rasa sepi pada akhir pekan. Bersorak-sorai saat gol atau mengelus-elus dada ketika terjadi kemelut di depan gawang.

Ini seolah menjadi bentuk pelampiasan yang nyata cum mujarab bahwa “tanpamu, hatiku tetap bisa bergetar. Tanpamu, jantungku tetap berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Dan, tanpamu, darahku tetap mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala”. #BukanLaguAhmadDhani

2. Mewaraskan Pikiran

Berbicara tentang dunia maya, wabil khusus media sosial, dengan ragam hiruk-pikuknya memang menjenuhkan. Semakin banyak gagasan tentang kaidah sehat dan bijak bermedia sosial, semakin menjadi-jadi pula aroma dampak buruknya. Semakin diingatkan, malah tambah serampangan.

Maka, menonton pertandingan sepak bola sekelas final Liga Champions menjadi momen bagus untuk mewaraskan pikiran kamu yang terlampau jenuh dengan hal-hal tak punya juntrung, semisal ujaran kebencian, hasutan, dan hoax.

Bagi kamu yang gemar bercokol di media sosial dan kebetulan suka sepak bola, pastinya menemukan kebahagiaan kecil ketika menonton dibandingkan memelototi beragam status di linimasa.

Ingat, sekitar 80% keseharian warganet di media sosial hanya kamuflase. Bisa dibilang itu pencitraan. Kehidupan nyatanya bisa jadi tak seperti di dunia maya. Sementara sepak bola, 100% nyata. Status di media sosial itu fana, sepak bola abadi.

3. Menyatukan Kembali Kebersamaan

Pele, sang legenda hidup itu, mengatakan bahwa sepak bola adalah bahasa perdamaian. Sementara Che Guevara melihatnya sebagai wajan kebersamaan dan persatuan, selain sebagai senjata revolusi tentunya.

Gagasan-gagasan itu cocok diterapkan saat menonton sepak bola. Terlebih, bagi kamu yang selama ini bersitegang karena beda pendapat, beda pilihan politik, dan beda junjungan.

Kamu bisa ‘balikan’ dan baikan lagi sama temanmu sesama Madridista ataupun Juventini, yang selama ini sempat nggak saling tegur sapa karena dia mendukung cagub A, sedangkan kamu mendukung cagub B.

Kalian seharusnya bisa nonton bareng dan sama-sama memberikan dukungan kepada klub kesayangan. Bayangkan, bila sebelumnya kalian lebih sering megang spanduk dan poster bernuansa dukung ini-dukung itu, kini satu spanduk mendukung klub idola. Mantap djiwa!

4. Berimajinasi

Barangkali ini yang paling bijak, ehm… Real Madrid adalah tim yang beberapa musim terakhir sering masuk semifinal, bahkan final. Begitu pula Juventus. Pada musim 2014/2015, Juve sempat melenggang ke final, meski akhirnya takluk 1-3 dari Barcelona.

Tentunya, para pendukung Madrid dan Juve sudah terbiasa dengan atmosfer final, apalagi semewah Liga Champions. Tapi bukan berarti partai final hanya milik Madridista dan Juventini.

Itu seharusnya menjadi kesempatan bagi fans klub lain untuk nimbrung merasakan bagaimana antusiasme tim kesayangan berlaga di final. Kalian bisa membayangkan satu-dua tim yang lain. Misalnya, Manchester United. Atau, Liverpool. Atau, Arsenal? Ah, namanya juga berhayal.

Bisa juga mereka yang belum move on mengimajinasikan itu sebagai duel Barcelona v Atletico Madrid. Sial sekali, memang. Liga Champions tak memakai format perebutan tempat ketiga. Padahal, saya yakin fanatisme pendukung kedua tim lebih cetar daripada euforia fans Madrid di belahan mana pun.

Namun, yang paling esensial dalam menyaksikan sepak bola ialah menikmati seni berolahraga, peragaan bola dari kaki ke kaki, gocekan tanpa bola, hingga bahu-membahu sebagai sebuah tim. Siapapun pemainnya, apapun klubnya, tetap satu dalam sepak bola, seperti kata Pele dan Che Guevara tadi.

Begitu juga dengan kita. Siapapun junjungannya, apapun pilihan politiknya, tetap satu dong ah… Hidup Arsenal!

*Artikel ini telah diperbarui