Kita Semua Bisa Jadi Julia Perez

Kita Semua Bisa Jadi Julia Perez

Julia Perez (indopopuler.com)

Saya sebetulnya tidak begitu suka citra Julia Perez sebagai seorang entertainer. Saya tidak memiliki ingatan yang baik terhadap karya-karyanya, baik dalam wujud lagu, film, maupun pengisi acara situasi komedi. Kariernya dipenuhi kontroversi.

Namun, sesuatu yang mengagumkan terjadi pada akhir hayatnya. Ada banyak penggalangan dana amal untuk membantu almarhumah secara finansial. Banyak sekali rekan entertainer dan sejumlah tokoh yang mendukung perjuangan beliau melawan kanker serviks.

Ia telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari itu semua?

Hidup ini selalu memberikan pilihan. Dan, pilihan itu akan selalu muncul dari setiap masalah. Kita selalu bisa memilih dua hal ini. Apakah hanya ingin menerima begitu saja atau berjuang sekuat tenaga, sehingga dapat melihat sisi yang tidak pernah kita duga-duga? Sebuah sisi yang jauh lebih baik?

Perjuangan heroik dari seorang Jupe mengingatkan saya kepada pejuang kanker di dunia sepak bola, yang hingga kini masih berjuang. Bradley Lowery, penggemar Sunderland, baru berusia enam tahun saat dokter memvonis bahwa ia mengidap kanker.

Namun, Bradley menunjukkan sikap kedewasaan yang luar biasa dan mungkin tak anda duga-duga muncul dari seorang anak kecil. Ia berani melawan rasa sakitnya dan berusaha semaksimal mungkin untuk hidup normal.

Nama Bradley Lowery kemudian harum di ranah penggemar sepak bola Inggris. Sebagian klub di Liga Inggris kemudian berlomba-lomba menolongnya, memberikan semangat agar ia tak surut bertahan hidup.

Dan, itu pula yang terjadi pada Jupe. Ia, Bradley, dan para pejuang kanker lainnya di muka bumi ini berada dalam satu garis perjuangan yang sama. Terutama bagi Jupe, dimana pada fase-fase paling krusial dalam hidupnya, ia berjuang untuk menjadi dirinya sendiri.

Ia melepas semua citra yang selama ini dibangun dari gosip murahan dan sejumlah kontroversi yang mewarnai kariernya sebagai konsekuensi dari citra perempuan seksi.

Hal ini tentu saja bersumber dari masalah yang ia hadapi. Setiap masalah, apakah anda sadar atau tidak, akan membuat pikiran menjadi jernih. Sebagaimana puisi Aan Mansyur kesukaan saya yang berjudul ‘Menikmati Akhir Pekan’. Kutipannya sebagai berikut…

“Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.”

“Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.”

Saat sakit, saya percaya itu adalah fase dimana Jupe menemukan visi hidup yang sejernih-jernihnya. Ia mulai fokus pada satu hal yang lebih serius: melawan penyakitnya sendiri. Itu demi menghargai arti sebuah kehidupan.

Kanker serviks disebut-sebut sebagai penyebab kematian No 1 bagi perempuan Indonesia. Di dunia, setidaknya setiap 2 menit ada 1 orang yang meninggal akibat kanker leher rahim tersebut.

Kanker serviks memang hanya dialami perempuan, tapi saat ini begitu banyak jenis kanker lainnya yang bisa menyerang kita semua. Dan, tidak mustahil, kita menjadi seperti Jupe atau Bradley Lowery, ikut merasakan bagaimana berjuang melawan kanker, apapun jenisnya.

Apa semua itu mudah?

Semua perpindahan dari zona nyaman selalu tidak mudah, kawan… Bayangkan saja, setiap hari, anda harus melawan keraguan di dalam diri anda sendiri. Jelas itu berat sekali. Maka, mulailah menghargai hidup anda dan orang lain sejak muda.

Saya rasa, pada akhirnya Jupe bangga atas transformasi dirinya. Dan, saya pun jatuh cinta pada kepribadiannya, meski ia telah tiada. Saya juga jatuh cinta pada pola pikirnya. Bagaimanapun, ia berusaha menunjukkan bahwa ia bisa lebih besar dari masalah.

Ia juga seolah ingin menunjukkan bahwa perjuangannya bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk bersama-sama melawan kanker serviks dan kanker-kanker lainnya sejak dini, tanpa adanya diskriminasi.

Itu, tentu saja, sangat mengagumkan dan berani.

Kita dapat melihat bagaimana kepalanya plontos akibat kemoterapi. Ia pun tak segan memotret dan menyebarkannya kepada dunia melalui media sosial. Kita tahu sebagian kalangan masih menganggap rambut sebagai mahkota seorang perempuan.

Tentu saja ini sangat berisiko. Bisa saja orang-orang menganggap Jupe sedang mencari sensasi. Tapi ia tidak peduli. Ia menyebarkannya, karena ia sadar bahwa ia perlu menyebarkan pesan kepada dunia. Bahwa kanker, sebagaimana diri kita sendiri, harus diterima apa adanya.

Namun, kita juga jangan lupa bahwa manusia adalah makhluk yang selalu belajar. Selalu berevolusi, selalu bertransformasi. Dengan begitu, manusia selalu punya potensi untuk menjadi dirinya yang lebih baik. Dan, Jupe berhasil memanfaatkan dirinya sebagai figur publik untuk menginspirasi banyak orang.

Kita selalu memiliki pilihan untuk menjadi seorang Jupe pada setiap masalah dan kesenduan. Kita selalu memiliki pilihan untuk percaya bahwa diri kita selalu lebih besar dari masalah itu sendiri.

Kita pun selalu punya pilihan untuk tak begitu saja menyerah pada nasib. Selalu ada jalan untuk menunjukkan sisi terbaik yang selama ini terbaikan oleh kita sendiri, yang justru itu adalah wujud diri yang paling sempurna.

Semoga dirimu tenang di alam sana, my love

  • i Jeverson

    yap, banyak hal yang bisa kita pelajar dari fenomena jupe. Tidak harus suka sama citranya sebagai entertainer untuk bisa mempelajari kisahnya, salah satu yang bisa banget untuk dipelajari bagaimana pentingnya vaksin kanker serviks secara dini sih..