Jokowi Jalankan Strategi ‘Catenaccio’ Ala Italiano?

Jokowi Jalankan Strategi ‘Catenaccio’ Ala Italiano?

Dalam sepak bola dikenal berbagai macam strategi permainan. Ada total football ala Belanda, kick and rush ala Inggris, catenaccio ala Italia, dan strategi grasak grusuk ala Indonesia.

Tapi kita lewatkan saja yang grasak grusuk. Mari fokus ke catenaccio yang menjadi ciri khas permainan Gli Azzurri, ‘Si Biru Langit’ Italiano.

Catenaccio pertama kali dicetuskan oleh Karl Rappan, pelatih Austria pada 1930-an. Tapi, pada 1960-an, Helenio Herrera mempopulerkan catenaccio ketika menukangi Inter Milan. Sampai akhirnya, tim-tim di Italia menggunakan strategi bertahan itu. Kini, catenaccio menjadi identitas sepak bola Italia.

Dalam bahasa Italia, catenaccio berarti kunci atau gerendel. Ini adalah strategi bertahan bak prajurit Romawi, yang menempatkan pemain untuk tetap berada di garis pertahanan. Tujuannya untuk mencegah serangan hebat dari lawan.

Dalam catenaccio, munculah peran baru, yakni libero atau sweeper. Secara harfiah, posisi ini artinya penyapu. Dalam sepak bola, peran libero atau sweeper adalah untuk membuang bola (clearance). Libero juga menjadi pemain pertama yang membangun serangan (build up).

Tidak semua pemain bertahan mampu menjadi sweeper. Bek yang memiliki kemampuan khususlah yang mampu mengisi pos ini. Bek yang mampu membaca serangan lawan dan memiliki kemampuan long pass yang cantik.

Catenaccio sendiri bukanlah strategi yang tidak mementingkan kemenangan. Justru ia bertahan untuk menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Serangan balik cepat adalah ciri khas dari catenaccio.

Saat tim lawan fokus untuk menyerang dan melupakan pertahanan, disitulah serangan balik cepat sangat mematikan. Sebuah sepak bola efektif yang tidak terlalu lama memegang bola. Itulah indahnya catenaccio!

Namun, setiap strategi memiliki kelemahan masing-masing. Tak ada strategi yang sempurna. Begitu pula catenaccio. Titik lemah catenaccio adalah ketika pemain bertahan melakukan kesalahan. Artinya, catenaccio akan jebol akibat kesalahan sendiri atau blunder pemain bertahan.

Gelandang Spanyol Andres Iniesta dikepung para pemain Italia. (theguardian.com)
Gelandang Spanyol Andres Iniesta dikepung para pemain Italia. (theguardian.com)

Serangan Balik

Saya yakin Jokowi paham sepak bola. Beliau tampaknya mengadopsi strategi catenaccio dalam pertahanannya. Jokowi lah sang allenatore (pelatih) bagi Pemerintahan Indonesia.

Seperti yang dijelaskan di atas, catenaccio adalah pertahanan gerendel. Strategi bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik yang cepat dan mematikan.

Ini pula yang saya rasakan selama satu tahun dipimpin Presiden Jokowi. Selama ini, Kabinet Kerja bentukan Jokowi terlalu sering diserang lawan. Lawan yang selalu menyerang Kabinet Kerja adalah parlemen.

Sejumlah anggota DPR sempat bermanuver untuk mencoba merusak garis pertahanan yang dibangun Kabinet Kerja. Tapi apakah Kabinet Kerja kecolongan? Tidak sama sekali.

Sesekali memang mengancam, tapi belum ada yang sukses menembus pertahanan rapat yang digalang Rizal Ramli ‘Sang Rajawali Kepret’ sebagai libero.

Serangan lawan dimotori oleh trio SFF (Setya Novanto, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah). Trio SFF ini galaknya bukan main. Mereka bahkan lebih galak dibanding trio BBC (Benzema, Bale, dan Cristiano Ronaldo) di Real Madrid ataupun trio MSN (Messi, Suarez, dan Neymar) di Barcelona.

Tapi, sampai saat ini, pertahanan Kabinet Kerja masih kokoh. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kelemahan catenaccio adalah ketika pemain bertahan melakukan blunder.

Beruntung, pemain bertahan yang melakukan blunder, seperti Rahmat Gobel dan Tedjo Edhy tak sampai mengakibatkan kabinet kebobolan. Kesalahan dua pemain bertahan hampir meruntuhkan kokohnya pertahanan Kabinet Kerja.

Jokowi pun sigap dan melakukan pergantian pemain. Rahmat Gobel dan Tedjo Edhy akhirnya harus rela digantikan pemain baru yang lebih berpengalaman.

Yang kurang dari permainan catenaccio ala Jokowi adalah serangan balik cepat. Bentuknya berupa kebijakan pro rakyat yang membungkam serangan parlemen yang subhanallah sekali.

Baru-baru ini, Setya Novanto dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh Menteri ESDM Sudirman Said terkait dugaan kasus ‘papa minta saham’. Ini adalah salah satu serangan balik ala Jokowi yang dilakukan oleh winger lincah Sudirman Said.

Patut ditunggu gebrakan lain yang dilakukan barisan penyerang Jokowi. Misalnya saja Anies Baswedan yang mulai menampakkan kehebatannya memimpin dunia pendidikan Indonesia.

Jangan lupakan juga Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga. Beliau adalah tumpuan serangan sebenarnya pemerintahan Jokowi. Bagaimana tidak, ia adalah harapan dari puluhan juta rakyat Indonesia yang mencintai sepak bola.

Ini menarik untuk terus dicermati. Apakah strategi catenaccio ala Jokowi bisa efektif atau justru jebol akibat blunder para pemain? Saksikan siaran langsungnya di televisi anda yang keren maupun yang butut itu…

Foto: goal.com

  • Menurut saya jokowi bukan allenatore, tapi kapten di lapangan..
    Cuma sayangnya, ibarat pemain bola, jokowi ini pemain bola yang minim pengalaman, kualitas teknis pas-pasan, dan visi permainan yang sangat kurang.
    Entah kenapa sang ‘allenatore’ memilih jokowi sebagai kapten lapangan, mungkin karena hanya jokowi satu-satunya pemain yang mengerti keinginan sang ‘allenatore’..