Jilbab dan Hijrah, Apa yang Kamu Pahami?

Jilbab dan Hijrah, Apa yang Kamu Pahami?

Ilustrasi (blog.joincomb.com)

Ibu saya memutuskan memakai jilbab ketika saya kuliah. Dia bilang sudah waktunya menjalani agama secara total dan benar. Sebelumnya, ibu bekerja nyaris sendirian untuk membiayai kuliah saya dan saudara-saudara. Akibatnya, ia kerap melalaikan ibadah, termasuk tidak memakai jilbab.

Setelah kakak saya mapan, ibu mulai kembali fokus belajar agama, kemudian memutuskan secara total memakai jilbab. Ibu mulai ikut pengajian, aktif mendaras Qur’an tiap sore, dan sholat subuh berjamaah.

Ia menjadi orang yang nyaris sama sekali berbeda. Ibu juga mulai membaca buku soal kajian Islam, tentu saja yang ringan-ringan. Kadang ia sms-an dengan sesama ibu komplek tentang ayat Qur’an. Tujuannya sederhana, menyampaikan ayat untuk meningkatkan iman.

Barangkali apa yang dilakukan ibu saya banyak disebut sebagai hijrah. Yaitu, ketika orang yang dahulu fokus ke dunia, tiba-tiba secara total meninggalkan gaya hidup itu, dan fokus kepada agama.

Ibu jelas sangat masuk kriteria itu. Wong pakaiannya seperti ukhti-ukhti. Namun, ibu tidak suka ngomong mendadak ala-ala Arab. Dia Jawa yang besar di Bima dan hidup di lingkungan Madura. Ngomong ana, ukhti, dan sejenisnya mungkin bikin dia geli.

Menariknya, ibu saya tidak menyatakan diri sedang hijrah. Dalam bahasanya, ibu bilang sedang naik kelas. Setiap kelas punya ilmu dan pelajarannya masing masing. Toh, ia tak menganggap yang belum berjilban sebagai yang bukan temannya, atau mereka yang selalu pakai jilbab selalu suci. Ibu, seingat saya, selalu berada di antara itu.

Kita kerap menemukan hal seperti ini. Orang-orang yang moderat dan berada di tengah, tak bisa dikelompokkan dan tak perlu dikelompokkan. Misal, orang itu melakukan tahlilan, tapi kadang percaya kalau maulid itu bid’ah. Toleran dan bersahabat dengan orang Katolik, tapi tidak mau punya mantu Katolik.

Seperti ibu, saya percaya iman itu punya jenjang dan pelajarannya sendiri. Kamu tidak bisa mengejek anak TK yang belum paham aljabar, pun tak bisa menilai hermeneutika itu cabang sesat padahal belum mempelajarinya.

Sederhana saja, karena kita pernah menjadi orang yang belajar, maka tak perlu menghina yang sedang belajar. Karena kita belum mempelajari sesuatu, bukan berarti ia 100% salah dan tidak bisa diterima kebenarannya.

Saya agak keberatan dengan pemaknaan hijrah belakangan ini. Orang-orang yang mendadak santun, religius, dan memuja kesusilaan. Saya sebetulnya tak ada masalah dengan orang santun, religius, dan memuja kesusilaan. Saya bermasalah dengan sikap ujub.

Manusia macam itu agaknya paling tengik sedunia. Merasa diri lebih baik daripada orang lain, karena pernah jadi bedebah lantas bertobat.

Sebelumnya, mari kita sepakati bahwa menutup aurat bagi umat muslim, tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki, adalah kewajiban. Maka, ketika perempuan tidak memakai jilbab, sikap saya jelas, ia salah menurut standar agama. Tapi sebagai manusia, saya menghormati haknya untuk tidak memakai jilbab.

Perempuan muslim berhak tidak dipaksa memakai jilbab, begitu juga tak ada orang yang boleh melarang mereka memakai jilbab.

Tidak memakai jilbab itu dosa, sama dosanya dengan laki-laki yang menikmati aurat itu. Maka, perkara menutup aurat, saya kira berlaku dua arah. Ia kewajiban semua umat muslim.

Bagi perempuan ada area yang mesti ditutup, bagi lelaki juga. Maka pada satu titik, saya menyepakati sikap Prof Quraish Shihab soal jilbab, jika tidak mampu berjilbab, baiknya menutup aurat dengan standar kepatutan.

Saya kerap menemui kepongahan beragama, mereka yang merasa lebih baik dari yang lain. Saya juga kerap menemukan perempuan yang direndahkan, karena ia tidak memakai jilbab. Ada pula sesama perempuan yang menghakimi perempuan lain karena belum berjilbab.

Jika berjilbab adalah soal hidayah, semestinya itu hak Allah. Sesama muslim memang wajib mengingatkan, bukan wajib menghakimi.

Ujub, seperti juga riya, itu serupa bara api yang membakar batang kayu amalan. Anda merasa lebih baik, lebih sholeh, lebih beragama, dan lebih suci daripada yang lain. Merasa bahwa praktik ibadah anda lebih baik dari yang lain.

Ini adalah bencana yang mengerikan. Ia digambarkan sempurna oleh AA Navis dalam “Robohnya Surau Kami”. Ujub, seperti juga riya, itu susah dirasakan tapi mudah dikenali.

Saya dan anda bisa mengalami ini. Saya ujub karena merasa lebih pintar, riya karena memamerkan pengetahuan, dan takabur karena merasa benar. Maka, hijrah apa yang hendak anda lakukan? Hijrah seperti apa yang hendak kita definisikan? Ini menjadi penting untuk perbaikan diri.

Hijrah adalah kepindahan. Tapi menyebut bahwa peristiwa hijrah adalah perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, tanpa ada kesadaran kritis tentang makna kebaikan itu sendiri, adalah kebebalan. Apa yang buruk? Dan apa yang baik?

Buat beberapa orang musik itu buruk, maka ia mesti ditinggalkan. Lantas, ia membakar alat musik miliknya seolah itu tindakan yang paling benar dan berpahala. Masalahnya, apakah makna buruk itu monolit dan tunggal?

Ada orang yang mengaku mesti menyatukan ukhuwah Islamiyah. Bahwa semua muslim mesti bersatu. Tapi pada sisi lain, ia menyerukan kebencian terhadap muslim yang tidak sepaham dengan dirinya.

Ia menunjukkan kebencian secara terbuka, seolah itu adalah hal yang baik dan berpahala. Lantas, apa makna ukhuwah yang ia sampaikan? Yang bukan golongan saya tak boleh ambil bagian?

Saat pulang ke rumah di Jawa Timur dan menemukan ibu menjadi lebih berbeda, saya kira ibu akan bersorak dan mendukung Ahok dipenjara. Tapi tidak, ia menilai Ahok tak sepantasnya dipenjara.

Ia setuju bahwa Ahok salah membahas surat Al Maidah, tapi tidak layak dipenjara. Ia geli saat saya cerita bahwa banyak orang yang menganggap memilih pemimpin kafir itu merusak iman.

Ibu bilang, keimanan seseorang tidak hanya diukur dari sekadar memilih pemimpin muslim atau tidak. Tapi bagaimana ia berlaku adil kepada orang yang dibenci. Jakarta kehilangan orang seperti Ahok dan mereka akan menyesal.

Ibu sekali lagi mengejutkan saya, ia jelas-jelas pendukung gerakan 212, menganggap bahwa umat Islam harus bersatu menegakkan syariat, tapi dia menolak Ahok dipenjara. “Kan sudah minta maaf, apalagi?” katanya.

Ibu juga bilang pemimpin sekadar pelayan, bukan seseorang yang menjadi imam saat sholat. Ia bilang Ahok peduli terhadap umat muslim, dengan memberikan kesempatan umroh untuk para marbot masjid di Jakarta. Pemimpin muslim belum tentu punya pikiran seperti itu.

Tapi tentu saja, segala puja-puji ibu untuk Ahok tidak membuatnya luluh untuk punya mantu beda agama. “Ya kalo bisa yang seagama, tapi itu hak kamu,” kata ibu.

Bagi beberapa orang, mereka yang di luar kelompoknya adalah sesat menyesatkan, maka perlu mengajak mereka ke jalan kebenaran dengan atau tanpa pentungan. Bagi beberapa yang lain, kebaikan adalah menyebarkan cinta kasih, merawat toleransi, menerima perbedaan, dan merayakan keberagaman.

Saya percaya baik dan buruk itu sangat tergantung dengan siapa anda bergaul, belajar, dan berinteraksi. Jika hijrah adalah perkara ahli mem-bid’ah-kan, menyesatkan, dan mengkafirkan orang lain, saya menolak untuk hijrah. Saya memutuskan untuk tinggal saja.

Jika hijrah adalah perkara berjihad ke tanah asing, membunuh orang yang tidak bersalah, menyembelih manusia yang tidak sepaham, dan menegakkan agama dengan darah, saya memutuskan untuk diam saja.

Hijrah Kanjeng Nabi adalah hijrah untuk merayakan cinta, keberagaman, dan juga rasa aman. Kanjeng Nabi mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, bukan membuat mereka saling bertikai satu sama lain.

Ketika hijrah, Kanjeng Nabi juga menyusun Piagam Madinah yang isinya toleransi, bukan seruan kebencian terhadap satu golongan. Jadi, jika anda mengaku hijrah, tapi masih menyerukan kebencian, anda itu niru hijrahnya siapa?