Jika Pancasila adalah Manusia: Yang Kamu Lakukan ke Saya itu… Jahat!

Jika Pancasila adalah Manusia: Yang Kamu Lakukan ke Saya itu… Jahat!

missingbeatsoflife.blogspot.com

Tak ada seorang pun yang suka di-PHP-in. Siapa yang suka dikodein tanpa diberi kepastian? Siapa yang suka diimingi janji, lalu kecewa, karena janji tak pernah ditepati? Siapa? Tak ada!

PHP-in teman kampus, teman curhat, teman Ahok, atau teman kokok aja sudah keterlaluan, apalagi PHP-in ideologi? Ya betul, memberi harapan palsu tak hanya sama manusia saja, tapi bisa juga terjadi pada ideologi. Bingung?

Tanggal 1 Juni adalah hari kelahiran Pancasila. Setiap sila dan butir-butirnya adalah tulang punggung penyangga negeri ini, tapi seolah-olah hanya menjadi simbol yang seenak udel ditarik kesana-kemari oleh mereka yang punya kepentingan pribadi atau kelompok.

Ketika muncul isu palu arit atau isu-isu lainnya yang dianggap ‘mengancam’, Pancasila dipakai sebagai tameng, sebagaimana para pseudo-nasionalis sering berkoar-koar tentang kesaktian Pancasila.

Pada saat itu, Pancasila seakan dikerek ke atas puncak gunung, lalu begitu dipuja. Itu sebenarnya tak akan terlalu menjadi masalah, jika berbanding lurus dengan implementasinya.

Ketika isu tentang palu arit reda, Pancasila seolah diturunkan lagi dari gunung, lantas dimasukkan ke dalam kotak yang digembok, kemudian disimpan di dalam gudang.

Dengan kata lain, saat tak ada ‘ancaman’ (menurut mereka), Pancasila yang katanya ideologi dasar negara ini justru hanya menjadi barang usang yang tak lagi dipakai. Habis manis sepah dibuang, kalau nangis sini ke pelukan abang.

Lalu, muncul pertanyaan, siapa sebenarnya yang mengkhianati Pancasila? Untuk menjawab itu, mari kitorang lihat satu-satu implementasi Pancasila secara kekinian.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Di situ tak ada satu diksi pun berbunyi tentang suatu agama. Tak ada pembedaan antara mayoritas dan minoritas. Sebab, mayoritas di suatu wilayah, bisa saja menjadi minoritas di wilayah lain. Lalu kenapa yang terjadi justru dominasi?

Syiah, Ahmadiyah, dan lain-lain hidup dalam kengerian. Padahal jelas dalam sila pertama Pancasila tak melarang mereka untuk eksis. Bagaimana kalau kata Syiah dan Ahmadiyah kita ganti dengan Sunni dan Wahabi?

Pada butir 3 sila pertama disebutkan bahwa saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Dan, yang menjadi ironi, pemerintah yang seharusnya menjadi pengadil, justru ikut terseret dalam pusaran konflik. Ditarik oleh kelompok tertentu tanpa mengindahkan hak orang banyak. Ini sama saja punya teman yang katanya mau nyomblangin, tapi sebenarnya dia yang suka. Sakit kan?

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Ada tiga kata kunci dalam sila tersebut. Kemanusiaan, adil, dan beradab. Mari kita ingat-ingat lagi tentang aksi ibu-ibu Kendeng yang menolak pabrik semen, yang jelas-jelas mengancam ekologi dan masa depan anak-anak mereka. Atau, terbunuhnya Salim Kancil?

Beta rasa itu sangat jauh dari tiga kata kunci di sila kedua tersebut. Lah, gimana mau beradab kalau buku-buku, diskusi, pementasan, dan pemutaran film dokumenter dilarang-larang.

3. Persatuan Indonesia

Butir satu dalam sila ketiga ini menyatakan bahwa masyarakat Indonesia harus menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Beta rasa ini sangat jelas bagaimana elit politik betul-betul cuek dengan kepentingan bangsa. Kalau mereka menghayati, tentu praktik korupsi dan sebagainya yang merugikan negara tak akan terjadi. Nyopet duit berjamaah sudah terlalu mainstream di negeri ini.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

Ya salam, musyawarah yang diwakilkan? Oh tentu itu tak masalah, jika yang mewakili kita paham dengan statusnya sebagai wakil, sebagai pelayan sebagaimana birokrat. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Jual suara rakyat, main proyek sana-sini, gemar terima suap.

Nah, giliran ketangkep senyam-senyum. Sudah bebas, jadi anggota dewan lagi. Yang parah, kita tetap memilih blio-blio. Sudah tahu bikin patah hati, kok masih saja. Ini namanya gagal move on garis keras.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sila ini adalah inti dari Pancasila, setidaknya menurut beta. Bagaimana mau dikatakan adil, kalau di ujung Timur sana masih bergulat dengan kemiskinan, dengan beragam penyakit, dengan eksploitasi alam?

Buku berjudul ‘Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di Tanah Papua’ karya Filep Karma bisa membelalakan mata kitorang bahwa keadilan itu betul-betul menjadi omong kosong di Papua.

Sampai di sini, kitorang bisa dapati Pancasila yang ditarik kesana-kemari tergantung kepentingan tertentu. Jadi, sekali lagi, muncul pertanyaan yang sama. Siapa sebenarnya yang mengkhianati Pancasila? Siapa yang memberi harapan palsu kepada Pancasila? Pikir aja ndiri…

Kalau Pancasila adalah manusia, ia mungkin sudah protes setengah memelas, “Yang kamu lakukan ke saya itu… Jahat!”