Jelajah Kuliner Banda Aceh, dari Kupi Khop sampai Ikan Kayu

Jelajah Kuliner Banda Aceh, dari Kupi Khop sampai Ikan Kayu

balistarnews.blogspot.co.id

Di luar segala pemberitaan soal penerapan syariat Islam yang katanya tak ramah pengunjung, Banda Aceh sesungguhnya kota yang sangat asyik buat anak nongkrong.

Di kota tersebut tak perlu masuk mal dan bayar pajak makanan mahal-mahal untuk sekadar berkumpul sama teman-teman atau mencari kecengan baru.

Sejauh mata memandang Banda Aceh, warung kopi ada di mana-mana. Ada yang sederhana, mewah, tradisional, modern, atau gabungan tradisional dan modern. Yang menyenangkan lagi, sangat banyak warung kopi yang harganya ramah di kantong dan buka 24 jam.

Maklum saja, Aceh memang terkenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, yaitu Arabica Gayo. Melimpahnya kopi di Aceh berpadu dengan kegemaran orang Aceh, terutama di Banda Aceh, bersosialisasi dengan secangkir kopi.

“Banda Aceh memang disebut kota seribu warung kopi. Orang-orangnya senang berkumpul sambil ngopi. ‘Ngupi’, ya kalau di sini, bukan ngopi,” ujar Bang Sani, salah satu kenalan kami di komunitas backpacker Aceh.

Dari sekian banyak warung kopi di sana, ada satu yang bakal melekat terus di ingatan saya, yaitu Warung Kopi Tubruk & Arabica. Malam itu, saya dan dua kawan dari Jakarta, Yessi dan Paijo, diajak Bang Sani ke warung kopi itu untuk berkumpul dengan teman-temannya.

Namanya memang Warung Kopi Tubruk & Arabica, namun menu andalan utamanya adalah Kupi Khop yang justru menggunakan kopi Robusta. Kupi Khop sendiri berarti kopi terbalik.

Cara menyeduh kopinya barangkali tak terlalu menarik, hanya kopi Robusta yang digiling kasar dan diseduh air panas tanpa disaring. Tapi, cara penyajiannya yang unik. Gelas berisi kopi disajikan terbalik dengan piring kecil menjadi alasnya. Sebuah sedotan dijepit di antara bibir gelas dan piring.

Bagi yang tak terbiasa, minum kopi dengan cara itu memang bukan hal mudah. Terbukti teman saya, Yessi, baru berhasil menyedotnya setelah mencoba selama setengah jam.

Saya sendiri butuh waktu beberapa menit, setelah diajari caranya oleh seorang teman Bang Sani yang duduk di samping saya – lupa namanya yang jelas dia ganteng.

Ternyata kita harus meniupkan udara lewat sedotan itu ke perbatasan antara bibir gelas dan piring kecil. Dengan meniupkan udara, kopi akan terdorong keluar menggenang di piring tersebut. Baru kita bisa menyeruput kenangan itu… eh maaf, maksud saya genangan… dengan sedotan.

aceh.tribunnews.com
aceh.tribunnews.com

Kopi Robusta Aceh memang sangat pahit, makanya rata-rata orang memesan Kupi Khop yang sudah dicampur susu kental manis. Paduan pahit, manis, dan gurihnya memang membuat saya tak rela menyisakan kopi itu barang setetes pun. Soal harga, segelas kopi di kedai yang cukup nyaman itu dibandrol di bawah Rp 20 ribu.

“Ngapain sih orang susah-susah banget minum kopi dibalik-balik begitu?” tanya saya pada rekan-rekan komunitas backpacker Aceh.

“Ini asalnya dari budaya penduduk Meulaboh, Aceh Barat. Mereka kan tinggal di pinggir pantai, anginnya besar, sementara mereka senang minum kopinya sedikit-sedikit,” tutur seorang rekan.

Penduduk Meulaboh biasanya menikmati Kupi Khop sambil ngobrol, kadang-kadang ditinggal nyari ikan dulu. Gelasnya di balik supaya panasnya bertahan lama dan tidak kena debu.

Saya pun manggut-manggut. Obrolan warung kopi pun berlanjut ke soal stereotype orang di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu. Pemuda-pemuda  Aceh ini menyesalkan media-media yang banyak sekali memberi citra buruk pada Aceh sebagai kota yang intoleran karena penerapan syariat Islam.

Belum lagi rumor lama yang menyebut Aceh adalah surga ganja. “Padahal mencari ganja di sini sama sulitnya dengan di Jakarta, kok. Kalau dicari ya ada, tapi bukan berarti dijual bebas di warung-warung. Soal syariat juga, itu kan penerapannya untuk kami dan nggak sekejam itu,” ungkap mereka.

Wisatawan yang datang ke Aceh nggak wajib pakai hijab. Warga setempat yang non-muslim juga nggak akan dirazia. “Kami ini baru saja menikmati kedamaian setelah era GAM (Gerakan Aceh Merdeka) berakhir, harus menghadapi pula stereotype semacam itu,” ujar seorang dari mereka.

Pulang dari warung kopi itu saya pun mendapat pencerahan dan tertawa sendiri, mengingat sebelum pergi ke Aceh saya repot sekali riset untuk mengetahui pakaian apa yang boleh dan tidak boleh dipakai perempuan di Aceh. Padahal, sehari-hari saya toh berhijab.

Ya, sejauh yang saya alami, Banda Aceh tetap kota yang nyaman untuk wisatawan apalagi cowoknya cakep-cakep. Yessi yang sehari-hari tak berhijab memang memilih menggunakan selendang untuk menutup kepalanya dan berpakaian sopan.

Itu semata-mata untuk menghormati adat istiadat setempat yang terbiasa berpenampilan sopan. Tak ada yang memaksa anda menggunakan hijab, meskipun billboard-billboard iklan di kota itu sama sekali tak menampilkan perempuan tanpa hijab.

Tak ada juga yang memandang aneh saat kami para perempuan dibonceng dengan motor oleh laki-laki tengah malam buta untuk pulang ke hotel. Banda Aceh tak semenyeramkan itu, apalagi kota itu dihiasi dengan berbagai kuliner – selain kopi – yang membuatmu ingin menghancurkan semua timbangan badan yang ada di dunia ini.

Kuah pliek 'u (bandaacehtourism.com)
Kuah pliek ‘u (bandaacehtourism.com)

Sebut saja mie Aceh yang termasyhur itu. Saya dan Yessi berdebat tak berkesudahan tentang mie Aceh mana yang paling enak, Mie Ayah atau Mie Razali. Mie yang dimasak dengan rempah-rempah dan dilengkapi aneka seafood, siapa coba yang tega menolaknya?

Meskipun bergaya sama, cita rasa mie Aceh yang disajikan restoran Mie Ayah dan Mie Razali sedikit berbeda. Di restoran Mie Ayah, makanan itu dimasak di atas tungku tradisional dengan rempah-rempah khas Aceh yang sangat kuat rasanya.

Sementara di Mie Razali, mie Aceh yang disajikan rasanya lebih ringan dan gurih, namun isian seafood-nya agak lebih banyak. Berdebat soal ini seperti menentukan mana yang paling ganteng di film AADC 2, Trian (Ario Bayu) atau Rangga (Nicholas Saputra). Semua tergantung selera.

Lepas dari mie Aceh, masih ada sederet masakan khas Aceh lainnya yang sayang jika dilewatkan. Untungnya, di Aceh, ada beberapa rumah makan yang dengan lengkap menyajikan berbagai menu masakan khas Aceh.

Keumamah atau ikan kayu (tokomesin.com)
Keumamah atau ikan kayu (tokomesin.com)

Salah satunya yang berhasil kami datangi – setelah nyasar berkali-kali karena GPS yang ngaco – adalah RM Hasan 2. Ayam tangkap, kari kambing, pliek’u, dan keumamah (ikan kayu) sangat memanjakan lidah.

Ayam tangkap adalah masakan ayam goreng rempah yang ditaburi oleh daun pandan, cabe ijo, bawang merah, dan daun kari yang digoreng. Kari kambing khas Aceh tak seperti kari pada umumnya yang berkuah santan kental, melainkan lebih menyerupai sop namun dengan rempah yang lebih banyak.

Kalau pliek’u adalah masakan yang terdiri dari daun melinjo yang difermentasi, udang ebi, santan, cabe, dan beragam bumbu lainnya. Sedangkan keumamah adalah masakan dari daging ikan tongkol yang sudah disuir dan dikeringkan hingga menjadi mirip serpihan kayu.

Daging ikan kering itu direndam terlebih dahulu sebelum ditumis dengan rempah-rempah. Konon, ikan kayu dulu dibuat untuk bekal bahan makanan perang gerilya atau perjalanan jauh karena tahan lama sebelum dimasak.

Enak semua? Oh jelas…

Jadi, masih mau diet?

  • Iya benar bangat. Aceh sangat ramah, berita hanya membesar-besarkannya