Jejak Soekarno selain Urusan Asmara di Bumi Rafflesia

Jejak Soekarno selain Urusan Asmara di Bumi Rafflesia

Ilustrasi ( stokisabebandung.com)

Betapa pedasnya kritik Soe Hok Gie kepada Soekarno yang mengatakan bahwa founding father kita itu hanyalah kelanjutan raja-raja Jawa zaman dulu, terutama dengan beristri banyak.

Ketika diasingkan ke Bengkulu saja, Bung Karno yang berstatus suami Inggit Garnasih, masih bisa menggaet Fatmawati, kembang desa muda belia pada masanya, yang kemudian menjadi ibu negara pertama kita.

Bagi saya, yang kebetulan seorang perempuan, Bapak Proklamator tersebut tetap saja sosok yang mengagumkan. Sebab, di Bengkulu, kampungnya Bu Fatma, saya seperti menemukan sisi lain dari Bung Karno.

Ketika diasingkan selama empat tahun, dari tahun 1938 sampai 1942, gerak-gerik Bung Karno sebetulnya dipantau ketat oleh Belanda, karena dianggap membahayakan. Tapi justru itu, Bung Karno mampu menghasilkan berbagai karya yang keren abis. Dari mana saya tahu?

Jadi begini, saya diajak akamso alias anak kampung sono bernama Yessi untuk mengelilingi Bengkulu pada suatu perjalanan. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah rumah pengasingan Soekarno, yang kini diabadikan menjadi sebuah museum.

Rumah pengasingan Soekarno (Maggie NM)
Rumah pengasingan Soekarno (Maggie NM)

Berbagai benda dan dokumentasi yang berkaitan dengan jejak-jejak Bung Karno di Bumi Rafflesia itu disimpan rapi di tempat yang dijaga seorang lelaki tua.

Saya kaget, ketika mengetahui ternyata Bung Karno bersama kawan-kawan pergerakannya; AM Hanafi, Zahari Tani, dan Manaf Sofyan, pernah mendirikan kelompok teater bernama Monte Carlo. Benar-benar berjiwa seni presiden pertama kita itu.

Beberapa karya sandiwara yang sempat dipentaskan oleh perkumpulan ini adalah Dr Sjaitan, Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Chungking Djakarta, Koetkoetbi, Si Ketjil (Klein “Duimpje”), dan Hantoe Goenoeng Boengkoek.

Drama Dr Sjaitan dan Rainbow (Poetri Kentjana Boelan) adalah pementasan yang paling disukai masyarakat Bengkulu pada waktu itu. Konon, tujuan Bung Karno mendirikan perkumpulan itu untuk menyatukan para pemuda. Ia memasukkan nilai-nilai sosial dan nasionalisme dalam setiap naskah drama yang ditulisnya.

Foto-foto dan beberapa kostum panggung Monte Carlo dipajang di dalam lemari. Dari klub teater inilah, Bung Karno selaku pembina sekaligus sutradara pementasan berkenalan dengan Fatmawati yang menjadi anggota klub. Di beberapa foto, Fatmawati bahkan tampak berdampingan dengan Inggit.

Selain Monte Carlo di Bumi Rafflesia, jiwa seni Bung Karno juga tampak di beberapa karya yang lain. Perpaduan antara seni dan titel insinyur telah memoles sejumlah bangunan, salah satunya Masjid Jami di Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu.

Masjid karya Soekarno (Maggie NM)
Masjid karya Soekarno (Maggie NM)

Masjid itu semula adalah tempat belajar anak-anak selain di madrasah. Tapi, karena kondisi masjid ketika itu memprihatinkan, Bung Karno memutuskan untuk merekonstruksi masjid yang dulunya berbahan kayu dan beratap rumbia itu. Oleh Bung Karno, atap masjid dibuat berbentuk limas, dengan tiga lapisan sebagai simbol Iman, Islam, dan Ihsan.

Selain masjid, beberapa rumah tinggal rancangan Bung Karno di Bengkulu juga masih berdiri dan ditempati sampai saat ini. Masa pengasingan dulu tampaknya bukan akhir bagi seorang Bung Karno dalam menghasilkan berbagai karya.

Saat di rumah pengasingan, tepatnya di bagian belakang rumah, terdapat sebuah sumur air. Menurut Yessi, ada kepercayaan yang berkembang; jika kita mandi, cuci muka, atau berwudhu dengan air di sumur itu, kita bakal jadi orang besar.

Sumur di rumah pengasingan (Maggie NM)
Sumur di rumah pengasingan (Maggie NM)

Yap, saya memutuskan untuk tidak memakai air dari sumur itu, karena takut mitos itu ternyata benar. Kalau benar, saya mau sebesar apa lagi coba? Sekarang aja kalau pakai baju harus ukuran L (lebar).

Saya langsung nyeletuk, “Gue pengen ke masjid ini, Yes.” Jari telunjuk saya yang imuts ini menunjuk foto masjid karya Bung Karno. “Ayo, kita sekalian sholat Ashar di sana,” ujar Yessi.

Masjid itu ternyata terletak di tengah kota dan cukup mudah dijangkau. Hingga kini, masih ramai orang yang sholat dan mengaji di sana. Atap masjid masih seperti dulu, hanya lebih bersih karena sepertinya dicat ulang.

Usai sholat Ashar di masjid itu, saya meminta Yessi mengantar ke rumah Fatmawati. “Nggak tau, ya, itu dibuka buat umum atau nggak. Karena setiap gue lewat pagernya selalu ditutup,” kata Yessi.

Ternyata, rumah yang terletak di Jl Fatmawati No 10 itu dibuka untuk umum, meskipun sepertinya nggak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Saat saya datang, pagarnya terbuka, pintu rumah panggungnya juga terbuka, tapi nggak ada sama sekali orang yang jaga.

Rumah itu sudah menjadi museum, tapi pemerintah seperti kurang niat buat menjaganya. Padahal, isinya bagus loh. Ada foto-foto Fatmawati dan Bung Karno, juga berbagai dokumentasi tulisan. Bahkan ada beberapa  koleksi baju dan aksesoris milik Fatmawati.

Rumah Fatmawati (Maggie NM)
Rumah Fatmawati (Maggie NM)

Ketika muda, Fatmawati yang merupakan kembang desa itu bersinar mata lembut dan berpipi chubby. Begitu gambaran gadis cantik zaman dulu. Huh, coba saya lahir tahun 20-an, mungkin bisa masuk golongan kembang komplek!

Nah, menurut silsilah dan kisah yang dipajang di rumah itu, Fatmawati adalah anak dari seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Usianya terpaut 22 tahun dari Bung Karno. Ia dan Bung Karno menikah pada Juni 1943, setelah Bung Karno dinyatakan bebas.

Konon, Bung Karno naksir Fatmawati sudah lama, namun Fatmawati masih terlalu remaja. Ketika Fatmawati berusia 20 tahun, barulah Bung Karno mengungkapkan isi hati. Ia ingin menikahi Fatmawati dan memiliki anak lelaki darinya.

“Semua orang, kecuali Soekarno, punya anak lelaki,” begitu isi suratnya kepada Fatmawati, terdegar seperti keluhan karena ia dan Inggit tak dikaruniai seorang putra.

Surat cintanya yang lain juga saya temui di museum, yang dulunya adalah rumah orang tua Fatmawati itu. Mau tahu bagaimana penggalan isi surat cinta ala Soekarno?

“Engkau menjadi terang dimataku. Kau yang akan memungkinkan aku melanjutkan perdjuanganku yang maha dahsyat.”

Ada lagi seperti ini.

“Dari ribuan dara di dunia. Kumuliakan engkau sebagai dewiku. Kupuja dengan nyanyian mulia, kembang & setanggi dupa hatiku.”

Fatmawati pun sepertinya klepak-klepek dan mau menerima pinangan Bung Karno juga mendampinginya menuju gerbang kemerdekaan. Bung Karno yang ganteng, cerdas, romantis, serba bisa, laki banget, dan berkharisma itu mungkin yang membuat para perempuan jatuh hati.

Nah kamu, yang mukanya lusuh kayak spanduk pecel lele, kerjaannya cuma update status, nggak berkarya apa-apa buat bangsa, lalu sok buka cabang di sana-sini, jangan terlalu mudah menjustifikasi Bung Karno.

Tanyalah apa yang sudah kamu berikan kepada negara, jangan tanya kapan saya nikah!