Jangan Main-main dengan Penyuka Pedas Level Maksimum

Jangan Main-main dengan Penyuka Pedas Level Maksimum

vebma.com

Pagi ini saya dibuat kaget dengan teriakan mama yang begitu nyaring, “Gak ada sambal hari ini.” Waduh. Usut punya usut, setelah mama belanja di pasar langganan ternyata harga cabai makin naik. Dari sebelumnya Rp 120.000/kg kini menjadi Rp 180.000/kg. Edyan tenan. Harga cabai mengalahkan harga daging sapi yang masih berkisar Rp 130.000/kg.

Di rumah sebagian besar keluarga Indonesia, ketiadaan sambal terkadang menjadi suatu masalah. Mengapa? Sebab, berdasarkan hasil survei, sambal menempati urutan pertama makanan paling favorit di negeri ini. Sambal adalah kita. Gak ada sambal, pencinta rasa pedas terutama mereka yang menggandrungi level maksimum menjadi gusar.

Tapi apa daya, harga cabai rawit yang menjadi bahan pokok membuat sambal semakin hari semakin menggila. Baik itu cabai rawit merah, hijau, keriting, sampai cabai yang sudah di-rebounding. Entah karena permainan mafia dagang, kartel, atau memang panen cabai sedang terganggu.

Banyak juga yang bilang bahwa harga cabai meroket akibat sepinya hajatan. Lha, apa hubungannya? Memang ada benang biru antara cabai sambal dengan resepsi, misalnya kawinan? Ya kalau pakai cocoklogi bisa saja, terutama di kampung-kampung yang hajatannya sampai tiga hari-tiga malam.

Kalau kita mengacu pada ilmu yang lagi kekinian itu, harga cabai berarti bisa turun menjelang April-Mei. Biasanya kan musim kawin dimulai menjelang bulan Ramadan, apalagi musim hujan pula. Entah itu benar atau ngawur. Yang jelas, penentu harga cabai saat ini bukan petani atau pemerintah, melainkan tengkulak, mafia, kartel, dan kawan-kawannya! Itu…

Saya jadi teringat kejadian belum lama ini. Ketika sedang makan di rumah makan Padang langganan, saya ingin menambah sambal karena dirasa kurang pedas. Seketika saya kaget, karena ditegur oleh salah seorang pramusaji. “Maaf mas, harga cabai lagi urakan. Kalau ingin tambah sambal dikenakan biaya tambahan Rp 2.000.”

Duh, kasihan si pemilik warung. Mengurangi porsi sambal jelas tidak mungkin. Tapi memberi tambahan biaya pada sambal jelas sebuah dilema. Tapi mau bagaimana, demi lancarnya bisnis, maka lebih baik menerapkan tambahan biaya pada sambal.

Bukan itu saja, kalo misal kamu membungkus makanan dan meminta sambal, maka kamu justru dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 5.000. Walah-walah… Saya pikir kebijakan itu hanya berlaku di rumah makan Padang langganan saja. Eh, ternyata hampir semua warung yang mengutamakan sambal sebagai andalan utama menerapkan kebijakan serupa. Ada biaya tambahan, jika ingin menambah sambal. Duh…

Sambal memang identik dengan lidah orang Indonesia. Ibaratnya tanpa lauk pun, nasi dan sambal bisa membuat selera makan menjadi lahap. Sambal bisa dicintai, tapi juga sekaligus dibenci. Rasa pedas dan panas bisa membuat lidah dan perut seperti sedang menari balet. Tapi lama-kelamaan juga bisa membuat perut terkoyak dan lidah terhenyak.

Tapi asal kamu tahu bahwa mengonsumsi sambal atau cabai menghasilkan banyak manfaat. Katanya bisa enghentikan penyebaran sel-sel kanker prostat, menjaga kesehatan paru-paru, menjaga saluran pencernaan, dan saluran kandung kemih. Bahkan mengonsumsi cabai atau sambal secara rutin akan menurunkan risiko kematian hingga 14%. Bagaimana sobat sambal?

Selain itu, cabai atau sambal mengandung zat capsaicin. Zat tersebut yang menghasilkan efek pedas dan panas di lidah. Oh ya, ada yang tertinggal. Cabai itu memberi banyak vitamin, terutama vitamin A dan C. Jadi bagi kamu yang tak begitu suka jeruk, apel, wortel, atau tomat, makanlah sambal sebanyak-banyaknya, sepedas-pedasnya.

Tadi juga sudah disebutkan bahwa sambal berada pada urutan pertama makanan paling favorit di Indonesia. Itu jelas kabar membahagiakan bagi pencinta sambal, terutama penyuka pedas level maksimum. Tapi tunggu dulu. Sambal itu sebenarnya lebih identik dengan makanan? Kudapan? Lauk? Atau masakan?

Yang pasti, dalam pikiran saya, nasi panas ditambah dengan sambal terasi plus kerupuk adalah sungguh kenikmatan duniawi dalam citarasa. Di Indonesia, ada beberapa macam jenis sambal. Ada sambal bawang, sambal korek, sambal tumpang, sambal dabu-dabu, dan lainnya.

Tapi yang bikin heran, mengapa saat ini sambal selalu diidentikkan dengan sesuatu yang horor? Kalau kamu singgah di Jawa Timur, kamu dengan mudah menemukan sambal jenglot, sambal kuntilanak, atau sambal pocong. Apa iya, hantu juga suka sambal? Suka pedas sampai level tak terhingga? Setahu saya, mereka suka sate. Masih ingat sama Sundel Bolong ala Madame Suzanna? “Bang, satenya Bang! Sate 200 tusuk makan di sini.”

Dan percaya atau tidak, selain ada ajaran tobat nasuha dalam agama, ada pula yang dinamakan tobat sambal. Kata tobat sambal sudah saya dengar sejak duduk di Sekolah Dasar. Kata tersebut dialamatkan kepada siswa untuk tidak mengulangi perbuatan kotor oleh guru dan bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Oh mahabenar sambal dengan segala level kepedasannya.

Jadi, jangan main-main dengan pencinta sambal garis keras, mereka yang menyukai pedas sampai level maksimum. Sambal layaknya bahan pokok makanan rakjat. Masalah sambal atau cabai adalah urusan pangan nasional. Tahu sendiri kalau sudah mengusik urusan pangan. Revolusi Mesir itu dimulai dari masalah roti! Duh, kok jadi ingat sama roti-roti yang mana gitu?

Tapi omong-omong soal sambal, jenis sambal apa yang kamu suka? Kalo saya suka semua jenis sambal. Kecuali satu. Sambala sambala bala sambalado. Eh?

  • D Sukmana Adi

    selagi lombok mahal eh makan pedes2 itu memang sensasional