Jangan Main-main dengan Jomblo pada Hari Sumpah Pemuda

Jangan Main-main dengan Jomblo pada Hari Sumpah Pemuda

jagoanpaper.blogspot.com

Barangsiapa yang meremehkan apalagi membuli jomblo pada 28 Oktober bakal kualat. Sebab, jomblo ikut berjasa pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sebuah hari yang disebut Bung Hatta sebagai ‘letusan sejarah’.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini menegaskan cita-cita berdirinya NKRI, yaitu tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia.

Dari berbagai teks dan literatur disebutkan ada 13 tokoh yang menjadi pentolan dalam Kongres Pemuda II di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928, sebuah kongres yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda.

Sebut saja M. Yamin, Soenario, Soegondo Djojopoespito, Amir Sjarifudin, Karto Soewirjo, Moh Roem, Sie Kong Liong, dan WR Soepratman. Ya, WR Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya yang kisah cintanya penuh misteri.

Pada suatu waktu, WR Soepratman yang wartawan dan musisi itu pernah curhat kepada Imam Supardi, pemimpin redaksi Panyebar Semangat. WR Soepratman mengaku tidak merasakan kebahagiaan hidup karena percintaan.

Sementara itu, dalam catatan tangan Kusbini, karib sesama komponis, WR Soepratman kerap datang ke warung Asih di Kapasari atau warung Djurasim di Bubutan, Surabaya, untuk menghibur diri. Paling-paling, ia melamun ditemani kue dan secangkir kopi.

WR Soepratman menutup rahasia hidupnya di ‘Taman Asmara’, sebuah istilah yang disebut Kusbini untuk menggambarkan patah hati sahabatnya itu. Tengah malam, pada 17 Agustus 1938, sang komponis wafat pada usia 35 tahun. Sampai akhir hayatnya, WR Soepratman tidak beristri.

Miniatur WR Soepratman saat Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928
Miniatur WR Soepratman saat Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928

Meski jomblo, sejarah negeri ini mencatat bahwa beliau adalah orang yang pertama kali memperdengarkan lagu Indonesia Raya secara instrumental di hadapan peserta Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.

Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat, lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Lagu ini merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Setelah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan. Tetapi, pencipta lagu itu, WR Soepratman tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan dan percintaan.

Sumpah-Sumpahan

Selain Sumpah Pemuda, ada beberapa sumpah yang juga fenomenal. Salah satunya Sumpah Palapa. Sumpah ini diucapkan oleh Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit. Pejabat kerajaan itu bersumpah akan mempersatukan Nusantara dan sekitarnya.

Lain zaman, lain cerita. Di zaman modern ini, ada yang namanya Sumpah Jabatan saat pelantikan seorang pejabat pemerintahan.

Intinya,  Sumpah Jabatan itu ikrar kesetiaan, kesanggupan, dan komitmen atas nama Tuhan untuk secara sungguh-sungguh menjalankan amanat rakyat. Tapi, nyatanya, tidak semua pejabat yang sanggup menjalankan ikrarnya.

Kalau ada pejabat yang begitu, sumpahin saja dengan Sumpah Serapah. Ingat film trio komedian legendaris Dono Kasino Indro berjudul ‘Dongkrak Antik?’ Di film tersebut ada adegan Kasino ngomel-ngomel, “Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik..!!!”

Kalau nggak ngaruh juga, buanglah sumpah pada tempatnya. Ciyuss… Miapahh…? Sumpeh loee….