Jangan Khawatir, Masih Ada Orang Baik di Jakarta

Jangan Khawatir, Masih Ada Orang Baik di Jakarta

antaranews.com

Jakarta tetap saja menjadi magnet dengan segala kepadatan dan keruwetannya. Masih menjadi alasan mengapa orang rela berbondong-bondong memenuhi Jakarta, dari sekadar mengadu nasib sampai mati-matian mengejar materi.

Saking sibuknya, orang-orang cenderung individualistik, anti-sosial, segalanya harus diukur dengan materi. Entah sampai kapan istilah ‘tak ada yang gratis di Jakarta’ masih terasa relevan. Sulit untuk menemukan ketulusan di ibu kota.

Kondisi yang kayak gitu hampir membuat saya berkesimpulan bahwa Jakarta adalah kota penuh kepalsuan. Ternyata, anggapan itu tak sepenuhnya benar. Masih ada lho orang-orang baik di Jakarta, dari mereka yang gigih mencari rupiah maupun yang menetap untuk sekadar merebahkan badan.

Siapa saja mereka?

1. Penyayang kucing jalanan

Jakarta adalah kota yang penuh dengan ketergesa-gesaan, karena ada ancaman potongan gaji yang menyertai pekerja. Namun, di sisi lain, masih ada orang yang mau sejenak menghentikan langkahnya menuju kantor untuk bercengkerama dengan kucing jalanan. Kucing tak bertuan, yang sehari-hari mengeong demi sesuap tulang.

Pemandangan itu kerap saya temukan di seberang Stasiun Sudirman. Selepas membeli sarapan – yang kadang digabung sebagai makan siang saat tanggal tua – saya sering melihat seorang perempuan berhijab di sana, yang sedang asyik dengan beberapa ekor kucing jalanan.

Ia memberikan minum, membagikan makanan, dan mengelus-elus kucing tersebut. Sungguh pemandangan yang membuat saya ingin dielus-elus juga oleh mbaknya mengharukan.

Dalam agama Islam diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang mencintai kucing. Jika mbak-mbak hijab tadi menyayangi kucing, apa bisa dikatakan bahwa ia telah menjalankan salah satu sifat dan perilaku baik Rasulullah?

Jika iya, maka mengikuti sifat dan perilaku Rasul adalah hal baik. Melakukannya di depan umum dapat memberikan contoh baik pada setiap orang yang melihat. Apakah ini tergolong aksi bela Islam?

2. Orang baik di dalam antrean

Seperti yang saya katakan bahwa Jakarta adalah kota yang terburu-buru dan menghendaki segala sesuatunya harus cepat dan tepat. Orang Indonesia juga terkenal tidak sabaran ketika mengantre.

Namun, ada beberapa orang yang ternyata mau mengalah dan memberikan tempatnya untuk orang lain. Salah satunya antrean di bank.

Saya ingat betul pernah melihat seorang lelaki membawa banyak sekali slip setoran uang, sekitar delapan slip. Berdasarkan kebijakan dari unit kerja saya, kalau membawa slip setoran lebih dari tiga, maka transaksinya harus diseling.

Jadi, setidaknya dia harus mengantre terus-menerus selama tiga putaran untuk menuntaskan transaksinya. Kondisi antrean saat itu sedang padat-padatnya.

Namun, orang itu masih saja menyempatkan diri untuk menyilakan orang yang lebih tua di belakangnya untuk maju duluan. Tidak tampak di wajahnya raut keterpaksaan.

Ada juga kisah tentang pria asal Papua dalam antrean Bank. Suatu hari, ia sudah tinggal satu antrean lagi untuk dapat dilayani oleh teller, tapi tiba-tiba dia mundur selangkah dan menyilakan ibu-ibu di belakangnya untuk bertransaksi lebih dulu.

Teller sempat keheranan dan berkata, ”Loh, ini harusnya bapak duluan.” Kemudian, pria asal Papua itu berkata dengan logat khasnya, ”Ah tidak apa-apa, kakak. Orang Papua itu harus mendahulukan perempuan terlebih dahulu.”

Saya belum pernah ke Papua dan belum punya teman asli orang Papua, sehingga tidak benar-benar tahu budaya mereka. Namun, jika itu adalah kebiasaan yang ia lakukan di kampung halamannya, lalu tetap ia terapkan di Jakarta, maka itu adalah sesuatu yang baik.

Hmm… Saya jadi terpikir, apakah mereka yang menghina gambar pahlawan di dalam uang Rp 10 ribu itu punya perilaku yang lebih baik dari kedua pria tadi?

3. Mereka yang mendoakan orang lain

Saat itu sudah hampir jam 7 malam. Setelah selesai melaksanakan sholat Maghrib di mushala di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, saya yang sedang suntuk karena harus lembur memutuskan untuk berjalan-jalan keluar gedung.

Orang pertama yang saya temui saat di pintu keluar adalah seorang perempuan berhijab, pegawai sebuah lembaga badan amil zakat swasta. Ia pernah saya buatkan rekening di bank tempat saya bekerja, sehingga tak heran jika saya dan dia saling sapa satu sama lain.

Tetapi yang terjadi di luar dugaan. Biasanya, yang namanya menyapa hanya sekedar ‘hai’ atau ‘halo’, tapi ini berbeda. Setelah ber-‘hai-hai’ ria, perempuan itu langsung meluncurkan kalimat-kalimat doa dari mulutnya kepada saya secara bertubi-tubi:

“Semoga mas selalu dilancarkan segala urusannya.”

“Semoga mas selalu dilancarkan rezekinya, usahanya, pekerjaannya.”

“Semoga mas selalu dicintai Allah SWT.”

“Semoga mas senantiasa diberikan perlindungan di dunia, juga di akhirat, ketika hari kebangkitan nanti.”

Saya pun dengan perasaan bercampur senang, haru, dan canggung hanya sanggup membalas, ”Doa yang bagus, doa yang sama juga untuk mbaknya ya, hehe…”

Gimana gak terharu coba? Mungkin selama ini hanya ibu saya, perempuan yang rela dan tulus mendoakan saya dengan berbagai kalimat seperti itu. Nah, sekarang muncul dari mulut perempuan lain yang sebenarnya juga sangat jarang bersapa.

Setelah saya bertanya kepada satpam, perempuan itu ternyata juga sering melakukannya kepada orang lain. Saya tidak paham apakah memang SOP di lembaga tempat ia bekerja memang seperti itu atau bagaimana. Faktanya, saat itu sudah malam. Beberapa menit lagi tutup stand, tapi masih sempat-sempatnya mendoakan orang.

Saya sangat jarang melihat orang yang mau mendoakan orang lain seperti itu di Jakarta. Yang ada lebih sering mendengar sumpah serapah, caci-maki, nyinyiran, dan kawan-kawannya. Hmm…

4. Kalian yang mengharumkan diri

Saya selaku pengguna jasa kendaraan umum Jabodetabek mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah berpartisipasi mengharumkan diri masing-masing. Tanpa kalian, mungkin saya akan kehilangan napas saya di dalam desakan.

Sungguh, tanpa bermaksud menyinggung perasaan para pembaca sekalian, sekadar mengharumkan ketiak dan mulut adalah hal baik paling minimal, yang benar-benar dapat berdampak baik untuk sekeliling.

Setidaknya, itu tidak menambah masalah hidup dari orang yang menghirup aroma tubuh kalian. Bayangkan, ada orang dengan gaji tidak seberapa, berangkat kerja dari rumah dengan berdesakan di kereta, sampai kantor diomelin atasan, ancaman potong gaji membayangi, eehhh… pas pulang mencium aroma yang bikin kepala mabuk kepayang.

Saya juga berterima kasih kepada orang-orang baik lainnya, yang tidak dapat saya sebut satu per satu di dalam tulisan ini. Hal-hal baik di atas dapat kita praktikkan bersama untuk membuat Jakarta menjadi lebih bersahabat.

Hal paling mudah tentu mengharumkan diri dan mengucapkan doa. Khusus dalam hal mengucapkan doa, mungkin tidak perlu serinci yang dicontohkan perempuan berhijab tadi. Cukup katakan, “Barakallah”, “God bless you”, atau “I love you”. Siapa tahu dapat jodoh juga… 🙂