Jangan Diremehkan Dulu, Dunia Musik Butuh JKT48

Jangan Diremehkan Dulu, Dunia Musik Butuh JKT48

popmagz.com

Saya bukan pemerhati musik. Tapi merasa miris dengan kebiasaan banyak orang yang terbiasa mengunduh lagu secara gratis di internet alias bajakan. Hasil karya para musisi handal Indonesia seolah tak dihargai sama sekali. Sudah direnggut, dinikmati, dicampakkan pula. Gangbang!

Pembajak lagu bahkan lebih menakutkan daripada bajak laut tersohor macam Henry Morgan di Perairan Afrika atau John Ward yang katanya jadi inspirasi tokoh Jack Sparrow. Selain bikin musisi melarat, pembajakan lagu juga menghantam toko-toko musik ternama, seperti Aquarius dan Disc Tara.

Hanya bermodalkan pulsa dan telepon pintar, orang-orang bisa membajak lagu kapanpun dan dimanapun. Apalagi kalau sering nongkrong di tempat yang ada wifi gratis, paling enak ya download, bukan? Mulai dari lagu, games, film, sampai bokep. Ngaku ajalah…

Entah secara sadar atau tidak, aksi unduh gratis lagu itu melanggar Undang-Undang No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Kalau melihat data Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), musik bajakan menguasai 95,7% pasar di Indonesia sejak 2007. Sementara musik legal hanya sekitar 4,3%.

Kemudian berdasarkan catatan Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) pada 2013, kerugian akibat pembajakan musik rekaman mencapai Rp 4 triliun per tahun.

Kalau menurut saya, melawan pembajakan tidak cukup dengan kampanye dan regulasi. Butuh strategi khusus di lapangan. Tapi, untuk menyusun strategi, kita harus banyak belajar dari siapapun. Misalnya belajar dari JKT48. Iya JKT48, grup idol yang imut dan manis-manis itu. Stop! Tahan dulu tawamu bro, sis…

Suka atau tidak suka, JKT48 adalah salah satu grup yang penjualan CD originalnya masih sangat bagus. Indikatornya apa? Jadi begini, saya sempat iseng-iseng melakukan penelitian. Di JKT48 dikenal yang namanya Handshake Event (HS), yaitu event dimana member JKT48 bisa ‘salaman’ dengan fans.

Caranya adalah fans membeli CD versi theater, yang sekarang berupa music card dan fans mendapatkan ‘jatah’ 10 detik per music card yang terjual. Tapi fans diperbolehkan beli berapapun tiket HS yang ia mau.

Dalam satu event HS, massa yang datang bisa sebanyak ribuan orang. Dan ribuan orang tersebut, tidak hanya punya satu tiket. Mereka memegang banyak tiket. Bahkan mencapai puluhan tiket.

Intinya adalah strategi marketing dari JKT48 yang begitu menjanjikan. Belum ada konsep musisi yang seperti JKT48. Konsep yang mereka usung ‘Idol You Can Meet atau idola yang bisa kalian temui. Setiap hari – biasanya – Senin libur – JKT48 perform di salah satu mal di Jakarta, yang mereka sebut sebagai theater. Jadi mereka mendekatkan diri dengan fans. Hal yang selama ini tidak dimiliki oleh musisi lain.

Lihat bagaimana militannya fans JKT48. Meskipun batas antara militan dan ‘gila’ sangat tipis. Tapi bagi manajemen JKT48, semakin militan fans JKT48, maka mereka semakin untung. Bagaimana tidak untung, kalau setiap show saja, 200-an penonton hadir. Kalau seminggu saja, mereka sukses mendatangkan 1.200 penonton.

Dan itu belum mencakup event-event JKT48 di luar theater. Karena seperti yang saya sebut tadi, ada event lain seperti HS. Belum konser yang hampir setiap tahun, mereka mengadakan tur keliling Indonesia.

Jangan ditanya mengenai pemasukan. Tidak kere pastinya. Jangankan bayar parkir, beli mal-nya juga sanggup. #KamiTidakKere. Setiap show di theater, satu fans bisa merogoh kocek sebesar Rp 100 ribu. Demi bisa menyalurkan hasrat yang terpendam. Hitung sendiri pemasukan mereka dalam sehari, seminggu, dan sebulan.

Dan, ini yang belum dilakukan oleh musisi-musisi Indonesia yang lain. Kalau Korea terkenal dengan K-Pop yang begitu mendunia dan Jepang dengan J-Pop yang juga tak kalah meriah.

Indonesia belum memiliki identitas khusus yang bisa dijual. Jangankan identitas, dangdut yang katanya music of my country saja masih banyak yang enggan mendengarkan, meski terkadang ikut goyang oplosan juga.

Sudah seharusnya musisi-musisi di Indonesia belajar banyak dari JKT48. Dunia musik butuh strategi perang ala JKT48 untuk melawan pembajakan. #MenolakTakluk.

Ourya Oi!