Jangan Copot Mas Fahri Hamzah, Please…

Jangan Copot Mas Fahri Hamzah, Please…

en.fonditos.com

Saya bingung kenapa banyak orang sebel sama mas Fahri Hamzah? Padahal, beliau kader PKS yang cerdas nan gagah perkasa. Buktinya, mas Fahri berani bentak-bentak penyidik KPK di DPR yang bawa-bawa pasukan Brimob bersenjata plus bertopi baja dan rompi anti peluru. Aduh mas Fahri, kalau kita-kita pasti moncong senjata sudah tepat di jidat.

Mas penyidik KPK sama mas Brimob kayak nggak tahu aja. Yang berada di sana itu para anggota dewan yang terhormat. Apalagi mas Fahri Hamzah itu wakil ketua, sudah pasti levelnya pimpinan. Seharusnya datang baik-baik, lalu beri hormat. “Lapor pimpinan!” Begitu.

Ini kok datang cuma lapor Setjen DPR. Bawa Brimob kayak mau nangkep teroris. Itu kan rumah wakil rakyat, yang harus dijaga kesuciannya. Mereka itu cuma icip-icip duit rakyat. Paling banter minta sedikit komisi proyek dari pejabat.

Tapi setidaknya dari gaya marah-marah mas Fahri, saya bisa belajar bagaimana membela orang dengan membabi buta. Dari mas Fahri pula, saya belajar teknik membentak dengan mata melotot plus muncrat pula. Sungguh, mas Fahri adalah guru yang baik, yang mengajarkan kita bagaimana caranya membuat kegaduhan.

Saya bukan simpatisan, apalagi pemilih mas Fahri. Bukan pula kader PKS. Tapi saya perlu sampaikan pesan ini kepada mas Sohibul Iman, Presiden PKS yang terhormat. Nuwun sewu mas, bila saya urun pendapat.

Akhir-akhir ini ramai diberitakan, mas Fahri bakal dicopot dari jabatannya sebagai wakil ketua DPR. Mas Fahri lalu mempertanyakan alasan kenapa ia akan dicopot. Beliau menganggap itu bentuk pendzaliman pada dirinya.

Kenapa perlu dicopot ya mas? Beliau itu selama ini bersuara lantang, termasuk membela habis-habisan pak Setya Novanto. Mosok sampeyan tega. Mas Sohibul paham kan bagaimana psikologis orang yang dicopot dari jabatan? Apalagi ini jabatan yang bikin orang begitu dihormati. Ini jabatan yang membuat seseorang naik kelas.

Karikatur ilustrasi Fahri Hamzah di Koran Tempo.
Karikatur ilustrasi Fahri Hamzah di Koran Tempo.

Saya kasih ilustrasi begini. Seorang karyawan di sebuah perusahaan besar yang kaya dan banyak aset, baru saja dapat promosi jabatan. Tentunya itu bikin senang. Apalagi si karyawan dipromosikan jadi wakil direktur utama. Mantap kan?

Nah, baru saja si karyawan itu coba mencicipi bagaimana jadi wadirut, tiba-tiba sekarang mau dicopot. Pasti sedih bukan main. Dia pasti galau, karena tak ada lagi yang bisa dibanggakan pada anak istri, kerabat, kawan, kolega, atau siapa pun. Tidak bisa lagi membusungkan dada, “Saya pimpinan di sini!”

Jadi tolong mas Fahri jangan diganti, please… Saya paham kalau di PKS itu jabatan adalah amanah. Tapi kalau akhirnya dicopot, nanti komentar-komentarnya kurang berbobot. Yang rugi tentu PKS juga kan? Karena kalau mas Fahri tak berkomentar, para netizen kurang bersemangat berkicau.

Mas Fahri itu bisa dibilang salah satu sumber kreativitas para netizen menghasilkan produk lucu-lucuan. Banyak orang terhibur. Bukankah bikin orang bahagia itu ibadah?

Mas Fahri juga salah satunya yang membuat Republik Twitter Indonesia tetap bergairah. Kami sudah bosan dengan Jonru dan sejenisnya. Ya kalau nama PKS terbawa-bawa, anggap saja itu promosi gratis. Bukankah dengan begitu PKS semakin dikenal masyarakat?

Tapi bila memang mas Sohibul sudah tak punya rasa kasihan lagi, silahkan saja copot mas Fahri. Mungkin ini jalan terbaik menurut mas. Namun, nuwun sewu sekali lagi mas Sohibul, saya kira republik ini masih butuh mas Fahri. Hidup di negara ini akan datar-datar saja, kalau beliau dicopot. Banyak yang akan merasa kehilangan dan terbunuh kreativitasnya. Ini tentu kerugian kita bersama.

Lihat saja mas, begitu kreatifnya para netizen mem-bully para pelaku teror bom Thamrin, Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, bos ISIS sendiri Abu Bakr al-Baghdadi yang jadi sasaran bully. Para netizen bisa begitu, karena diasah oleh ulah mas Fahri. Jadi tolong, nggak ada mas Fahri, nggak rame…