Jalan Kebijaksanaan dan Sentilan Batin Kaligrafi Sutra Hati

Jalan Kebijaksanaan dan Sentilan Batin Kaligrafi Sutra Hati

justgola.com

Ini masih urusan jalan-jalan. Selain bersenang-senang, perjalanan juga memberi banyak sekali hikmah. Ya betul, termasuk perjalanan asmaramu yang fana itu.

Meski saya traveling bersama teman yang sama-sama cengengesan, bukan berarti nggak pernah ada tempat dan momentum buat merenung atau melakukan pencarian makna. Tapi bukan soal arti hadirnya kamu. Sudah jelas kamu seperti kotak di pojokan papan mainan monopoli: hanya lewat.

Nah, salah satu destinasi yang menyentil otak sekaligus batin saya adalah Wisdom Path di Pulau Lantau, Hong Kong. Dalam Bahasa Mandarin, Wisdom Path disebut Xing Jing Jian Lin atau Jalan Kebijaksanaan dalam Bahasa Indonesia.

Wisdom Path berada dalam komplek objek wisata yang cukup terkenal di Hong Kong, Ngong Ping. Tapi, karena jarak tempuh yang cukup jauh dari gerbang utama Ngong Ping, Wisdom Path memang tak begitu populer di kalangan wisatawan. Apalagi, kalau dibanding dengan objek utamanya, seperti kereta gantung, kuil Po Lin, dan patung Big Buddha.

Wisdom Path terletak di kaki gunung Lantau Peak, berupa 38 tiang kayu setinggi 8-10 meter yang diukir dengan kaligrafi huruf kanji berbahasa Mandarin dan disusun dengan bentuk angka 8.

justgola.com
justgola.com

Saya dan seorang travelmate dari Jakarta, Yessi, memutuskan untuk trekking ke Wisdom Path saat berada di Ngong Ping. Alasannya, pemandangannya bagus buat leyeh-leyeh sejenak. Padahal, siang itu cuaca lagi terik-teriknya, sekitar 36 derajat Celcius. Bukan cuaca yang asyik untuk trekking.

Tapi ya begitulah, kami memang suka sok-sokan anti-mainstream. Lagipula, dari atas kereta gantung yang sebelumnya kami tumpangi, jalur trekking ke arah Lantau Peak tampak sangat rimbun dengan pepohonan besar. Plang penunjuk arah memberi harapan yang sesungguhnya palsu dengan menyebut perjalanan ke Wisdom Path hanya 15 menit berjalan kaki.

Ya, mungkin kaki bule-bule yang tingginya dua meter dan kecepatan jalannya dua kali lebih cepat daripada langkah-langkah imut nan manis gadis asli Indonesia semacam saya. Kenyataannya, trekking memakan waktu lebih dari 30 menit.

Angin gunung menyapu keringat begitu sampai di Wisdom Path yang areanya terbuka, tidak begitu rimbun dengan pohon. Saya membaca keterangan tentang Wisdom Path yang tertera di sebuah batu. Ternyata isi dari tiang-tiang Wisdom Path berisi bait-bait doa prajna paramita hrdaya sutra (Bahasa Sanskerta) atau heart sutra (Bahasa Inggris) atau sutra hati (Bahasa Indonesia).

Itu adalah salah satu doa yang paling dikenal di kalangan umat Buddha, Kong Hu Cu, dan Taoisme. Kaligrafi di atas kayu khusus yang didatangkan dari Afrika itu merupakan karya seniman Profesor Jao Tsung-I. Jao mengutarakan niatnya pada Pemerintah Hong Kong untuk membuat kaligrafi di Lantau pada 2002. Proyek tersebut baru selesai pada 2005.

Jao sendiri terinspirasi membuat kaligrafi sutra hati dari kunjungannya ke Gunung Taishan di Shandong, Tiongkok, pada 1980. Di sana terdapat patung Buddha dari batu yang juga diukir dengan kaligrafi berisi sutra hati.

16hrsahead.wordpress.com
16hrsahead.wordpress.com

Yang membuat saya tersentil adalah makna dari sutra hati itu sendiri. Sutra hati berisi doktrin tentang kekosongan. Dalam filosofi Buddha, kosong bukan berarti tidak ada. Segala fenomena yang ada itu kosong tanpa inti. Saat seseorang mengerti tentang kekosongan yang dimaksud, maka dia akan tercerahkan alias bijaksana.

Inti sutra hati yang bisa saya tangkap setelah proses perenungan sambil selfie (yap, itu salah satu keahlian multitasking saya) ialah kita harus melepas semua ego yang melekat, termasuk keinginan, kesombongan, dan justifikasi untuk bisa memandang sesuatu dengan lebih bijaksana.

Dengan kata lain, saat hati dan otak berada dalam posisi netral, maka kita bisa berpikir jernih.

Kalau kita menjalankan doktrin kekosongan ini, niscaya nggak bakalan deh baper sama roti. Nggak akan lagi kita sembarangan menganggap orang yang nggak sependapat sebagai pecundang. Lah, kenapa jadi ngomongin roti?

Balik lagi ke Wisdom Path. Nah, saat manusia tidak kosong atau terlalu ‘berisi’ (dengan justifikasi atau fanatisme tertentu), maka dia dengan mudah bertindak tanpa dasar logika yang bisa dipertanggungjawabkan alias jauh dari kata bijaksana.

Dari sanalah, kebencian dengan gampangnya muncul. Jangankan yang kontra, yang netral saja dibenci. Kira-kira begitu hasil perenungan saya.

Di luar semua perenungan itu, Wisdom Path adalah pemandangan yang antik juga karya seni yang bernilai tinggi. Jadi, menurut saya, tempat ini tetap menjadi destinasi yang penting dikunjungi saat berjalan-jalan di Pulau Lantau, terlepas mau meresapi makna prajna paramita hrdaya sutra atau sekadar menikmati pemandangan.

Bila berminat ke tempat ini, anda bisa menaiki MTR dan turun di Tung Chung Station dan melanjutkan perjalanan dengan kereta gantung ke Ngong Ping. Kalau tak berminat naik kereta gantung atau ingin opsi yang lebih murah, bus No 23 yang tersedia tak jauh dari Tung Chung Station bisa menjadi pilihan lainnya.

Jadi, gimana, kamu mau merenung? Ah sudahlah, lupakan aku…