“Jalan-jalan Melulu, Kaya Ya?”

“Jalan-jalan Melulu, Kaya Ya?”

Natalia Oetama

Pertanyaan seperti itu belakangan semakin santer menyapa. Mengalun begitu manis dari mulut seorang teman, tak peduli kita sedang lapar dan matahari lagi terik-teriknya.

Tapi itu justru membawa saya kembali pada kenangan mengunyah plecing kangkung sembari menyimak dongeng Putri Mandalika.

Teringat lagi pada pengalaman pertama snorkeling di tengah lautan lepas dan menikmati pulau tak berpenghuni di Lombok Selatan, juga cerita-cerita satire tentang perempuan yang dinikahi karena properti.

Itulah mengapa kenangan harus dibiarkan hidup, tak mau membunuhnya sebab takut dihantui. Tapi, angin sepoi dan tepukan di bahu mengembalikan saya dari kenangan yang tiba-tiba membanjiri. Maaf, lapar memang salah satu pemantik imaji paling yahud.

Sekian lama berlalu, kristal-kristal pengalaman itu masih bisa diingat jelas. Membuat saya hangat dan tersenyum manis. Bahkan kriuk-kriuk dari kangkung yang saya kunyah ketika itu masih terasa di ujung lidah. Ya betul, bisa jadi ketika itu sedang laper-lapernya.

Semenjak perjalanan pertama yang begitu membekas, saya pun menjadi satu dengan banyak pecinta perjalanan. Rasanya bikin ketagihan, dari satu perjalanan ke perjalanan selanjutnya. Lagi, lagi, dan lagi, persis seperti jingle iklan, namun sungguh ini benar adanya.

“Justru karena ingin kaya, makanya saya bertualang!” seru saya dengan senyum kemenangan mengembang di wajah.

Bagaimana bisa?

Petualangan membuat kita yang tadinya miskin ide dan kerdil tentang dunia menjadi kaya raya. Melimpah-limpah dan meruah-ruah, menemukan banyak hal dan berbagai cara baru untuk melihat lingkungan sekitar. Seperti kacamata dengan berbagai filter yang membuat dunia menjadi lebih teduh dan menyenangkan.

Saat mengambil keputusan untuk berpetualang, kita membuka diri untuk segala kemungkinan yang ada. Meninggalkan sesaat dunia nyaman yang kita kenal dan bersiap dengan pengalaman baru. Seperti seorang bocah yang siap untuk apa saja.

Kita pun menjadi akrab dengan keingintahuan, memperhatikan dengan lebih saksama, dan seakan menggunakan kaca pembesar untuk mengamati sekeliling. Menyediakan ruang untuk memunguti hadiah dari kehidupan. Menjadi lebih kaya dengan syukur.

Pemandangan indah yang terbentang di depan mata, santapan yang menggoyang lidah, kebudayaan unik yang membuatmu berdecak kagum, dan cerita-cerita legenda yang mengalir begitu saja. Inilah harta yang selalu berhasil membuat saya dan mungkin anda menjadi tergila-gila.

Mereka memenuhi kepala, mata, dan hati dengan hal-hal luar biasa, yang menjadikan kita kaya dengan pengalaman. Mereka membuka bukan hanya mata, tapi juga pikiran dan hati.

Saat sebagian besar orang menginvestasikan uang pada benda-benda, seperti perhiasan, baju, motor, mobil atau rumah, saya yang tidak kaya ini memilih menginvestasikan uang pada pengalaman nyata.

Melalui pengalaman-pengalaman nyata di perjalanan, saya memilih untuk mentransformasikan diri menjadi manusia yang lebih baik, lebih peka, dan lebih berwawasan. Tsah…

Memang apa hadiah paling mewah yang bisa kita berikan untuk diri sendiri? Meng-upgrade diri? Kalau saya sih yes. Dan, perjalanan adalah satu dari banyak cara untuk itu. Oh ya, satu lagi rahasia terbesar yang sering luput dari pandangan banyak orang bahwa perjalanan membuat kita kaya dengan teman.

Perjalanan selalu punya cara tersendiri untuk mempertemukan raga-raga yang sejiwa. Orang asing yang tadinya tak pernah kenal bisa berubah menjadi seorang karib. Di dunia ini, tak ada yang lebih berharga dibanding menemukan seorang sahabat di tengah kota yang asing.

Nikmat mana lagi yang kau dustakan, ketika ada orang yang memberimu tumpangan dan membawamu ke tempat-tempat yang hanya diketahui oleh penduduk asli? Yah, semacam tour guide pribadi gitu yang cukup ‘dibayar’ dengan semangkok es krim.

Maka, jika saya terus bertualang, itu bukan karena saya kaya. Namun, karena saya ingin menjadi kaya dengan bertualang. Saya ingin mengumpulkan lebih banyak lagi cerita, menabung lebih banyak syukur, lalu mendulang lebih banyak pengalaman. Dan, tentu saja lebih banyak lagi teman.

Karena di akhir, perjalanan selalu punya cara untuk membuat kita mengucap ribuan terima kasih dan menjadikan jiwa kita kaya. Sebab, harta tidak semata membuat kita merasa kaya lantas jalan-jalan. Namun, penjelajahan lah yang membuat kita kaya di kehidupan yang hanya sekali ini.

Hayo, siapa yang tidak mau jadi kaya?