Jadi Presiden Tapi Miskin

Jadi Presiden Tapi Miskin

Presiden Uruguay, Jose Mujica (Pepe) telah resmi mengakhiri masa bhaktinya, setelah lima tahun menjalankan pemerintahan. Selama ini, Mujica dijuluki presiden termiskin di dunia.

Ketika berkuasa, ia menolak tinggal di istana megah. Sang presiden lebih memilih tinggal di peternakan milik istrinya yang bobrok, di luar ibukota Montevideo. Di tempat tinggalnya itu, pakaian dijemur di bawah matahari, air ditimba dari sumur, rumput dan ilalang yang tumbuh di sana sini.

Hanya ada dua petugas polisi yang berjaga di luar, serta Manuela, seekor anjing berkaki tiga. Gaya hidupnya jauh berbeda dari kebanyakan kepala negara di dunia.

BBC melaporkan, pria berusia 77 tahun itu memberikan 90% gajinya untuk amal, atau setara US$ 12.000 atau sekitar Rp 115,5 juta.  Penghasilan yang ia ambil hanya US$ 775 atau setara Rp 7,45 juta, setara dengan penghasilan rata-rata rakyatnya. Harta pribadi yang ia laporkan hanya sebesar US$ 1.800 atau Rp 17,3 juta, senilai satu-satunya mobil lawas yang dimiliki, Volkswagen Beetle tahun 1987.

“Aku disebut sebagai ‘presiden termiskin”, tapi aku tak merasa miskin. Menurutku yang pantas disebut miskin adalah mereka yang bekerja keras hanya untuk mempertahankan gaya hidup mewah. Selalu menginginkan lebih dan lebih,” ujar Mujica dalam sebuah kesempatan.

Mujica terpilih sebagai presiden pada 2009 . Pada 1960-1970-an, ia menjadi bagian dari pasukan gerilyawan Tupamaros, milisi bersenjata berhaluan kiri yang terinspirasi Revolusi Kuba. Ia pernah menghabiskan hidup selama 13 tahun di penjara saat masa kediktatoran militer. Ia pun pernah enam kali ditembak.

Bagi Mujica, hidupnya adalah sebuah pilihan. “Jika tak punya banyak harta, Anda tak perlu bekerja keras seumur hidup, seperti budak, hanya untuk mempertahankannya,” kata dia.

Mujica menyampaikan hal senada saat berbicara pada KTT Rio+20. Dia pun menyindir pembangunan berkelanjutan yang meniru model pembangunan dan konsumsi di negara kaya.

Meski hidup apa adanya, bukan berarti tanpa prestasi. “Saya menjadi presiden dengan idealisme yang tinggi, tetapi kemudian realitas ternyata menyakitkan” kata Mujica kepada media setempat yang dikutip oleh AFP.

Ia dinilai berhasil menempatkan Uruguay dalam peta dunia, mengubah Uruguay dari negara peternakan menjadi negara ekspor energi. Brasil, China, Argentina, Venezuela, dan Amerika Serikat adalah negara-negara yang menjadi pasar bagi barang ekspor Uruguay.

Berdasarkan data yang dikeluarkan World Bank, perekonomian Uruguay bertumbuh menjadi US$ 55 miliar, rata-rata meningkat 5,7% secara berturut-turut sejak 2005.

Uruguay juga berhasil mempertahankan tren menurunkan rasio utang terhadap PDB dari 100% pada 2003 menjadi 60% pada 2014. Uruguay juga berhasil memangkas biaya utang dan mengurangi ketergantungan pada dolar dari 80% pada 2002 menjadi 50% pada 2014.

Selama 10 tahun yang lalu, 39% masyarakat Uruguay hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, pemerintahan Mujica telah menekannya menjadi sekitar 11%, serta mengurangi kemiskinan dari sebelumnya 5% menjadi tinggal 0,5%.

Namun, selama berkuasa, Mujica bukan berarti tanpa kritik. Ia menjadi sorotan gara-gara dua langkah kontroversialnya. Pertama, ia tak memveto keputusan kongres yang melegalkan aborsi hingga usia kehamilan 12 minggu.

Ia juga dikritik karena mendukung legalisasi konsumsi ganja dalam UU, yang akhirnya memberi kewenangan negara untuk memonopoli perdagangannya. “Menurutku, konsumsi ganja bukan hal yang paling mengkhawatirkan. Masalah utama justru pada perdagangan narkotika,” tutur Mujica.

Ia pun tak terlalu ambil pusing soal popularitasnya yang anjlok. Sayang, berdasarkan konstitusi Uruguay, ia tidak boleh maju lagi sebagai presiden.

Namun, Mujica tak khawatir lengser dari jabatannya dan hidup hanya dari uang pensiun yang diberikan negara. Yang penting, ia bisa hidup nyaman, menghabiskan masa tuanya dalam kesederhanaan. Bagaimana dengan presiden anda?