Jadi Mahasiswa Itu Memang Berat, Dik…

Jadi Mahasiswa Itu Memang Berat, Dik…

Selamat untuk Ronny Setiawan, yang tak jadi dipecat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Selamat menjalankan kesepakatan islah ya dik, kembali menciptakan suasana kampus yang sejuk dan kondusif penuh warna-warni nan mewangi.

Tentunya, sebagai ketua BEM yang prestisius, Ronny kini punya tugas tambahan yang tak kalah mulia dan luhur. Sibuk? Sudah pasti. Berat? Jangan ditanya lagi. Mungkin sekarang adik sedang membuat ralat pernyataan-pernyataan yang dimuat di media sosial. Pastinya susah untuk memilah, mana postingan yang fitnah, mana yang fakta. Islah, Rektor & Ketua BEM UNJ Sepakati Lima Poin …

Saya suka sekali tulisan singkat dik Ronny di linimasa akun medsos, yang kalau dilihat dari judul-judulnya saja orang pasti mengira adik ini super kritis nan cerdas. Ketua BEM yang diidolakan para mahasiswa dan tentunya mahasiswi, bukan? Sebut saja tulisan soal ‘UNJ Gawat Darurat!’ atau ‘Rektor UNJ: Bukan Rektor Biasa’.

Kalau itu bikin pak rektor geram, maklumin saja. Pak rektor kayak nggak pernah jadi mahasiswa saja? Mahasiswa itu memang harus kritis pak, nggak boleh melempem. Namanya juga agen perubahan cum agen sosial. Jangan pernah menodai perjuangan Engkus Kusnadi, mahasiswa UNJ yang gugur dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998.

Saya yakin dik Ronny nggak melempem, meski diikat kesepakatan islah. Saya tidak percaya idealismemu bisa dibarter begitu saja dengan pencabutan surat pemberhentian. Jangan pernah berkhianat ya dik. Bukankah itu yang diajarkan oleh agama?

Saya tak ingin berkhotbah di sini. Saya yakin dik Ronny lebih paham. Mahasiswa mana yang mengisi malam pergantian tahun dengan merayakan Maulid, berzikir, dan tausiyah diniyyah? Ya, dik Ronny ini. Kalo kamu?

Memang berat jadi mahasiswa. Selain menimba ilmu, anak-anak muda kelas menengah ini semacam punya tanggungjawab sosial. Tapi kalau pergerakannya diancam dengan surat pemecatan, ya galau juga. Bahkan melampaui kegalauan akibat diputus sepihak oleh kekasih.

Jangan samakan gerakan mahasiswa sekarang dengan dulu. Misalnya yang terdekat tahun 1998. Kenapa gerakan ketika itu terjadi secara massif untuk menuntut reformasi bahkan revolusi? Harus diakui, itu tak terlepas dari ideologisasi dan pengorganisiran yang efektif. Belum lagi momentum yang ada sangat pas.

Tapi boleh tanya ke beberapa aktivis mahasiswa ketika itu yang sekarang sudah merasakan empuknya kursi anggota DPR, seperti Adian Napitupulu atau Masinton Pasaribu. Berapa banyak aktivis yang ketika itu DO atau jadi mahasiswa abadi karena aktif di gerakan mahasiswa? Berapa lama Adian jadi mahasiswa UKI? Berapa lama Masinton jadi mahasiswa STHI Jakarta?

Bagaimana mau lulus cepet, kerjaannya cuma ngurus gerakan. Setiap malam tidur tumpuk-tumpukan di sekretariat, makan seadanya, demi menyusun sebuah gerakan yang ditakuti penguasa. Giliran pagi susah bangun. Yang ada nggak ke kuliah. Tapi apa harus begitu demi sebuah pergerakan? Ya tidak juga.

Mahasiswa dituntut untuk berprestasi dan tetap kritis dengan kuliah yang bener, aktif di wadah kajian, serta pergerakan. Buat apa? Agar bisa menawarkan solusi yang cerdas. Pilihannya hanya dua. Menjadi generasi penerus atau generasi yang tak bisa diteruskan.

Bukankah di era digital saat ini justru memudahkan mahasiswa untuk menyampaikan ide-ide dan pengorganisiran? Mahasiswa kini tidak lagi harus capek-capek mencetak agitasi propaganda, lalu membagi-bagikannya di jalan yang panas dan bising. Pergerakannya kini dibantu oleh media sosial. Tapi kenapa hanya berhenti sampai di situ? Linimasa medsos seolah-olah hanya menjadi tembok ratapan?

Kita bisa lihat apa yang terjadi di Hong Kong pada 2014, sebuah revolusi pemuda yang bergelora, karena dibantu oleh media sosial. Di sana, ada seorang pemuda bernama Joshua Wong. Ketika masih berusia 15 tahun, pria kurus berkacamata tebal yang tampak cupu ini memimpin gerakan pelajar ‘Scholarism’.

Gerakan itu sukses mencegah sistem yang hendak diterapkan Pemerintah Tiongkok di sekolah-sekolah di Hong Kong. Sistem tersebut mengharuskan para pelajar menumbuhkan dan mengembangkan sebuah ‘keterikatan emosional dengan Tiongkok’.

Dengan menggunakan akses dunia maya, Joshua membawa gerakan ‘Scholarism’ menjadi lebih dikenal dunia. Di dunia maya, Joshua dan ‘Scholarism’ memiliki pengikut hingga ratusan ribu orang.

Kepopuleran Joshua itu akhirnya sangat berguna, ketika ia memimpin revolusi di Hong Kong pada 2014. Joshua, yang saat itu berusia 17 tahun, menentang kebijakan anti demokrasi Pemerintah Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok terpaksa memblokir akses internet. Namun, Joshua cs tidak kehabisan akal. Ia menggunakan FireChat, sebuah aplikasi pengiriman pesan berbasis bluetooth. Alhasil, ‘Revolusi Payung’ yang dipimpin Joshua meraih 100 ribu pendukung tambahan dalam waktu 24 jam.

Kita juga bisa lihat lengsernya Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali pada awal 2011. Ini merupakan revolusi ‘media sosial’ pertama di dunia. Facebook dan Twitter yang bebas diakses via internet telah menyatukan rakyat Tunisia untuk meruntuhkan kediktatoran Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun.

Peran media sosial ketika itu sangat dahsyat, karena Ben Ali mengendalikan semua media konvensional, baik koran, radio, maupun TV. Berkat media sosial itu pula dukungan dari para aktivis prodemokrasi di negara mengalir deras, karena internet menyatukan dunia.

Inilah cyberutopianisme, sebuah pandangan yang percaya bahwa teknologi dan internet bisa mengubah dunia. Raja media Rupert Murdoch bahkan pernah berujar, “Perkembangan teknologi komunikasi jelas-jelas mengancam para tiran di seluruh dunia.”

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah senjakala mahasiswa di Tanah Air belum berlalu? Mari kita tanyakan sama Ronny Setiawan dan adik-adik mahasiswa lainnya, apakah ingin menjadi generasi penerus atau generasi yang tak bisa diteruskan? Kalau kamu masuk yang mana?

Foto: wealthmgt.wordpress.com