Jadi Hamba Sahaya Budaya Konsumtif kok Bangga! (Sebuah Catatan Nyinyir atas Harbolnas)

Jadi Hamba Sahaya Budaya Konsumtif kok Bangga! (Sebuah Catatan Nyinyir atas Harbolnas)

yourstory.com

Sesaat setelah artikel ini ditayangkan di Voxpop, tuduhan tukang nyinyir yang sok moralis akan langsung disematkan di jidat saya. Tak apa, sudah biasa. Tapi sungguh saya terbelalak dengan prediksi pendapatan e-commerce atau perdagangan elektronik di Indonesia tahun ini yang bisa tumbuh lebih dari 50%.

Selama Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas 2015 diperkirakan meraup omzet Rp 33 triliun. Entah berapa total omzet e-commerce 2015, mungkin lebih dari Rp 300 triliun.

Rasanya tahun-tahun mendatang omzet perdagangan online ini akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, perubahan budaya konsumsi masyarakat, dan tentunya jaringan layanan data yang kian mapan.

Tak bisa dipungkiri bahwa budaya ‘shop till you drop’ telah menghinggapi masyarakat Indonesia terutama kelas menengah dan atas di kota-kota utama. Nilai omzet ratusan triliun itu tentunya sebuah potensi bisnis yang besar.

Angka Rp 200-300 triliun itu setara 1-1,5 juta unit rumah sederhana dengan harga Rp 200 juta per unit. Namun ini untuk belanja konsumtif. Konsumsi seperti inilah yang digadang-gadang memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sungguh sebuah anomali. Ketika ekonomi melemah dan terjadi ketimpangan ekonomi, serta peningkatan jumlah penduduk miskin, tapi daya beli masyarakat kelas menengah masih mampu menopang pertumbuhan. Ekonomi berbasis digital pun dengan cerdas ‘berhasil’ memaksa konsumen merogoh kantong mereka lebih dalam. Bahkan jika perlu ngutang.

Inikah bonus demografi yang diperoleh dari meningkatnya jumlah kelas menengah ketika pendapatan per kapita menembus US$ 3.000 per tahun? Jadi pilar pertumbuhan ekonomi sekaligus hamba sahaya atas budaya konsumtif?

Inilah era dimana underlying untuk sebuah konsumsi tidak lagi perlu. Inilah titik dimana kalimat: “Iiiih lucu banget” dapat membuat kita tanpa sadar menggunakan kartu kredit untuk membeli sesuatu yang belum tentu masuk prioritas utama kebutuhan jangka pendek.

Orang-orang memuji e-commerce Indonesia luar biasa. Transaksi kian efisien, karena harga lebih murah, memotong rantai distribusi, dan bahkan biaya investasi. Namun, saya sungguh khawatir dengan gaya hidup masyarakat, yang tanpa ada booming e-commerce saja sudah kerap disorientasi.

Belanja kalap tanpa memperhitungkan kemampuan, haus eksistensi, dan keinginan pamer di sosial media bakal makin menjadi-jadi. Gaya hidup kian tinggi karena demonstration effect.

Kebutuhan-kebutuhan yang merusak nilai uang karena harganya terus turun bahkan tak ada harganya lagi, kini menjadi seolah kebutuhan primer.

Simak sekitar anda. Berapa banyak yang gemar sekali berganti-ganti gadget, kendaraan bermotor, produk elektronik, dan liburan ke luar negeri, tapi nggak punya rumah sendiri dan hidup puyeng membayar kartu kredit setiap tagihan datang?

Lalu bagaimana cara para hamba sahaya budaya konsumtif tanpa underlying ini mencukupi belanjanya? Tentunya dengan memotong biaya hidup yang lain. Misalnya, dalam menggunakan kendaraan bermotor, mereka akan pakai BBM bersubsidi. Bahkan jika perlu beli gas melon 3 kg agar lebih irit memasak dan makan mi instan pada 10 hari terakhir untuk bertahan hidup.

Beberapa orang sampai kehilangan jiwa sosial dengan menggaji asisten rumah tangga semurah mungkin dan sudah lupa rasanya membelai kepala anak yatim di panti asuhan. Yang penting bisa belanja banyak dan pamer dimana-mana. Sungguh era totalitas dalam bernarsis ria ini merenggut banyak nilai-nilai kemanusiaan #cieeee #mulailebay

Merampas Kehidupan?

Baru kemarin saya browsing informasi mengenai populasi dunia yang menua. Saya terhenti pada informasi mengenai warga senior (senior citizen) di Korea Selatan, negara yang menuai banyak pujian karena kecepatan internet, film, boyband, girlband, dan tentu saja bisnis e-commerce.

Ternyata budaya Asia bahwa orang tua tinggal dengan anaknya atau didukung pengeluaran bulanannya mulai bergeser. Warga Korea kian kurang peduli dengan orang tua karena kondisi ekonomi yang mereka hadapi ternyata tidak mudah.

Speed internet yang luar biasa dan maraknya bisnis e-commerce yang memeras pendapatan masyarakat ternyata berpotensi merampas banyak sendi-sendi sosial berkehidupan.

Saya sungguh khawatir kalau e-commerce Indonesia tumbuh pesat luar biasa dan dipuji-puji sebagai pilar pertumbuhan ekonomi. Sesungguhnya itu hanya pilar yang rapuh. Ya, sebuah pilar artifisial yang justru merenggut setiap tetes keringat hasil kerja, karena sebuah kalimat ‘Iiih lucu banget’.

Sebuah pilar yang membuat masyarakat terjebak membeli berbagai barang yang belum tentu dibutuhkan atau justru nilainya terus turun tanpa mampu mengkapitalisasinya menjadi produktif. Sebuah kebanggaan jangka pendek akan budaya lapar mata yang sangat mungkin mengorbankan budaya menabung untuk kebutuhan strategis jangka panjang.

Gimana nyinyir saya hari ini? Oke kan?

  • sial keren.. nyinyir banget.. jadi pengen belanja malah.. *kartu mana kartu