“Jadi, Gebetan Kamu NU atau Muhammadiyah?”

“Jadi, Gebetan Kamu NU atau Muhammadiyah?”

Ilustrasi/kompas.com

Di Fesbuk, saya sering mengajukan candaan kepada papah idola Iqbal Aji Daryono yang sejak lama mengaku sebagai Muhammadiyah. Ketika ia mulai membuat status tentang ulama dan agak-agak relijiyes, saya sebagai bocah yang dibesarkan dalam keluarga yang kental dengan kultur nahdliyin, wabil khusus NU, pun berujar, “Diam kau antek Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak punya kiai.”

Tapi ketika saya berada di atas angin dan percaya diri dengan legitimasi sanad keilmuan para guru kaum Aswaja, Om Iqbal membalas komentar dengan emoticon nyengir langsung dari Perth, Ostrali. ”Iya nggak punya kiai. Muhammadiyah punyanya profesor.”

Sial betul. Selama ini, Nahdlatul Ulama (NU) memang identik dengan nilai-nilai konservatif, sedangkan Muhammadiyah tampil moncer dengan nilai kemodernan. Ada sebuah guyonan yang nggatheli, tetapi fakta. Begini…

Jika mau tahu bedanya NU dan Muhammadiyah, cukup kau lihat halaman parkir pondok pesantren masing-masing. Di pesantren-pesantren NU, saat musim akhirussanah (semacam akhir tahun akademik), ketika santri selesai ujian dan orang tua hadir untuk menerima rapor sekalian merayakan haul dan tabligh akbar para pendirinya, halaman parkirnya penuh dengan bis-bis kecil, mobil bak terbuka, dan motor-motor butut.

Santri bersarung dan santriwati berjarik kemudian menerima sangu dari kampung berupa beras berkarung-karung, panenan hasil kebun, dan lain-lain.

Sedangkan di pesantren-pesantren modern Muhammadiyah, halaman parkir dipenuhi mobil-mobil kinclong pesaing Alphard milik capres Kokok Dirgantoro. Santrinya memegang ATM dan boleh beredar di mall mahal sesekali. Di pesantren As Salam Solo milik Muhammadiyah itu, misalnya, jika sedang akhirussanah, mobil berjejer mulai dari halaman pesantren meluber berkilo-kilo hingga ke jalan utama.

Berdasarkan sejarah, realitas yang nampak dari guyonan di atas itu memang dapat dilacak dengan terang. Hadratush Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah dua murid pada guru yang sama: KH Sholeh Darat.

Ketika pergi ke Mekkah tahun 1890, beliau berdua kembali satu guru pada Syekh Akhmad Khatib Al Minangkabawi. Mereka berdua begitu sama dalam semua, kecuali dalam objek dakwah yang mereka hadapi. Ingat, bukan visi dakwah, tetapi objek dakwah.

KH Ahmad Dahlan kala itu berhadapan dengan lingkungan Keraton Yogyakarta yang feodal serta pendidikan sekolah kolonial. Perjuangan Muhammadiyah adalah melawan apa-apa yang dimiliki oleh kolonial. Hingga kini, kita melihat segala aset yang dimiliki kolonial saat itu pasti juga dibangun oleh Muhammadiyah, seperti sekolah, badan usaha, dan rumah sakit.

Pendirian NU sendiri erat kaitannya dengan pendirian Laskar Hizbullah di Jawa Timur. Di era kolonial, KH Hasyim Asy’ari menarik diri ke pelosok-pelosok terpencil untuk mendirikan pesantren, menanamkan pendidikan tauhid untuk melawan penjajah dungu yang merasa lebih mulia hanya karena berkulit putih. Kelak, hingga kini, pesantren itu memiliki kultur serta tradisi yang khas untuk turut serta merawat kehidupan berbangsa.

Candaan semacam itu biasa, dan sama sekali tidak bermaksud saling menista. Saya justru heran dengan anak-anak muda jebolan pesantren emperan kampus akhir-akhir ini yang gemar meletakkan posisi NU dan Muhammadiyah seolah-olah berlawanan.

Situasi amat menyedihkan itu tergambar dari meme-meme yang membandingkan Syekh Hasyim Asy’ari dengan KH Ahmad Dahlan, atau lebih parah lagi membandingkan ucapan Gus Dur, Buya Syafii Maarif, Amien Rais, Gus Mus, dan Din Syamsuddin seolah cendekiawan-cendekiawan tersebut saling berbenturan dan memusuhi.

Semua cendekiawan Muslim yang ilmunya jelas terverifikasi tersebut seketika dicap liberal dan sesat oleh orang-orang jebolan pesantren emperan kampus. Sungguh, tiada yang bisa saya katakan selain, “Aku berlindung kepada Allah dari segala kebodohan yang terkutuk…”

Ketika Masyumi terbentuk pada 25 Januari 1944 sebagai pengganti MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang dibubarkan Jepang, KH Hasyim Asy’ari bertindak sebagai Ketua Besar dan Ketua Muda KH A Wahid Hasyim. Dalam struktur pengurus, kita menemukan nama KH Mas Mansur. Sebagai penasihat, tercatat Ki Bagus Hadikusumo dan KH Wahab Hasbullah.

Tokoh NU dan Muhammadiyah yang bekerja sama dalam mesin politik terkuat yang mewakili kaum Islamis pasca kemerdekaan itu membuat saya membayangkan betapa repotnya mereka ketika akan sholat berjamaah. Yang satu harus qunut, yang satu tidak. Yang satu kudu dzikir keras-keras, yang satu lirih saja.

Namun, saya jadi teringat cerita perihal KH Ahmad Dahlan sepulang bertemu para reformis semacam Sayid Jamaludin Al Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha dari Mekkah. Ia mencoba mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya, yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat).

Jika Muhamadiyah dikenal tidak bermazhab, sesungguhnya peristiwa yang diputuskan KH Ahmad Dahlan sungguh sangat syafiiyyah. Artinya, NU dan Muhammadiyah memiliki tradisi toleransi yang khas untuk khilafiyah soal ibadah. Perbedaan di ranah itu, telah selesai sedari dulu.

Persoalan-persoalan candaan mengapa gedung pertemuan Muhammadiyah lebih megah dari gedung NU, dapat kita jawab dengan canda pula: bahwa kampus-kampus atau rumah sakit Muhammadiyah biayanya lebih mahal dari kampus dan rumah sakit milik NU. Mengapa bisa begitu? Jawabannya sangat khas: NU yang bermahzab pada empat imam itu berkonsekuensi sangat fiqih-sentris, sedang Muhammadiyah yang modernis lebih luwes.

Kotak amal di Masjid NU selama bertahun-tahun akan utuh, sebab debat fikih atasnya begitu lama. Sedangkan pada kondisi yang sama, manajemen badan usaha Muhammadiyah memutar roda begitu tangkas.

Sejak Pemilu 1955, tokoh kedua organisasi ini memutuskan membentuk mesin politik yang berbeda. Alasannya, tentu saja, sebab visi-visi identik seperti yang telah diurai di atas, yakni hanya karena “nggak Muhammadiyah banget” atau “nggak NU banget”. Tetapi pada setiap situasi genting, keduanya selalu bisa balikan dan satu suara. Itu semua karena rasa cinta kepada umat dan negeri.

Jadi, pertanyaannya sekarang, gebetan kamu NU atau Muhammadiyah? Segera temui bapaknya, lalu bilang, “Kita begitu sama dalam semua, termasuk urusan cinta.”

  • saatnya NU-Muhammadiyah bahu membahu mengamankan bangsa