Tanda-tanda kalau Anda Kerasukan Bangsa Bonga di Instagram Stories

Tanda-tanda kalau Anda Kerasukan Bangsa Bonga di Instagram Stories

Ilustrasi (banksy via nytimes.com)

Berkat media sosial, manusia zaman sekarang makin sering kerasukan bangsa Bonga. Apapun soal keseharian, wajib hukumnya untuk dinarasikan dan dijelaskan. Nggak penting apakah itu sesuatu yang nyata atau palsu sekalipun. Misalnya…

“Duh, aku lagi galau ga bisa bobo”

“Lagi otw Bandung-Jekardah, macet!”

I’m busy enjoying my life, dear

“Nunggu Barca maen, nonton dulu Weekly Idol episode BTS, ngakak anjir!”

“Lagi baca The World as Will and Representation-nya Arthur Schopenhauer, mencerahkan!”

Tapi sebelum menunjuk orang lain, saya mengakui bahwa saya sendiri enggak bisa menahan godaan kerasukan bangsa Bonga. Baiklah, mungkin pada bingung, siapa pula itu bangsa Bonga?

Adalah Umberto Eco, penulis Italia yang beken di bidang semiotika, yang menyoroti kebudayaan ganjil orang-orang Bonga pada satu esainya. Eco menjelaskan dalam How to Be a TV Host bahwa bangsa Bonga punya kegilaan untuk menjelaskan segala hal, bikin setiap urusan jadi bertele-tele. Bahkan niat jahat sekalipun diumumkan.

Tanpa disadari, ponsel pintar bikin kita jadi selugu bangsa Bonga dari negeri yang terletak antara Terra Incognita dan Kepulauan Blest itu. Ponsel pintar, benda terakhir yang kita lihat sebelum tidur setiap malam, dan benda pertama yang kita pegang saat bangun tidur, punya pengaruh kuat dalam kehidupan modern.

Lewat media sosial, timbul semacam dorongan untuk menelanjangi keseharian kita dan untuk menonton ketelanjangan orang lain, baik secara maknawi bahkan arti harfiah.

Beberapa waktu lalu, sempat viral soal kasus fotografer pernikahan yang geram, karena teman dari pasangan pengantin lebih memilih mengabadikan momen itu di Instagram Stories.

Banyak komentar yang mengutuk si pelaku, karena momen bersejarah tadi hanya terekam di Stories yang cuma bertahan 24 jam, bukannya di tangan sang fotografer profesional. Saya enggak mau menghakimi siapa yang benar atau salah. Tapi saya pikir, si pelaku tadi sudah kerasukan bangsa Bonga.

Menurut Instagram, fitur Stories ini sudah digunakan lebih dari 200 juta orang setiap hari. Sementara, berdasarkan TechCrunch, pertumbuhan Instagram Stories benar-benar meningkat tajam. Ada 50 juta pengguna baru dalam dua bulan terakhir.

Fitur colongan dari Snapchat ini makin ngehits, bahkan Facebook dan WhatsApp pun ikut-ikutan. Dengan tambahan emoticon dan efek-efek lain, mengubah momen paling kasual dan keseharian yang biasa saja jadi sesuatu yang menyenangkan buat dibagikan.

Instagram Stories mengingatkan saya pada Jim Carrey dalam “The Truman Show (1998). Film satiris yang mengisahkan tentang seorang sales asuransi kantoran yang menyadari bahwa seluruh hidupnya hanya acara televisi semata.

Truman sebenarnya hidup dalam satu set raksasa di Hollywood, dengan orang-orang yang berakting, serta dilengkapi ribuan kamera untuk memantau semua aspek kehidupannya.

Sebuah reality show yang berusaha menangkap emosi dan perilaku manusia sebenar-benarnya, dan sukses secara komersial tanpa diketahui Truman. Dan, hari ini, dengan sadar diri, lewat Instagram Stories semua orang bisa seperti Truman.

Soal “The Truman Showsendiri, ini adalah film yang sering dijadikan referensi untuk menganalisis metafilosofi, simulasi realitas, eksistensialisme, dan realitas televisi.

Slavoj Zizek, seorang filsuf Marxis kondang asal Slovenia, menyebut bahwa film ini menggambarkan pada kita soal kapitalisme lanjut dan suatu dilema ketika kita menyadari kalau kita sebenarnya menjalani kenyataan yang tidak nyata.

Film itu memantik beragam pertanyaan lanjutan, apakah ketika Truman berhasil keluar dari dunia lamanya, dia berhasil menemukan realitas yang benar-benar realitas? Apakah semua hubungan yang kita jalani cuma akting belaka? Bagaimana jika seluruh hidup kita palsu?

Sebelum makin njelimet, kita balik lagi bahas Instagram Stories saja. Seperti heroin, nonton Instagram Stories bikin kecanduan, bisa disejajarkan dengan Youtube atau Netflix atau Pornhub.

Nonton Instagram Stories bersifat adiktif. Awalnya iseng-iseng kepoin cemceman kita, terus geser lagi, ternyata kecengan kita yang lain lagi galau. Mau nge-DM tapi mikir entar lagi aja, lalu geser lagi, ada selebgram yang lagi endorse produk, geser lagi, geser terus, tap lagi, tap terus, sambil enggak berhenti cengengesan.

Mau nonton film gratis dan legal? Tonton Instagram Stories orang-orang. Banyak sekuelnya. Berdasar kisah nyata pula atau lebih tepatnya kenyataan yang diada-adakan.

Lewat Instagram Stories, kita bisa jadi sang protagonis, jadi kameramen, penulis naskah, sutradara, dan video editor secara sekaligus. Bahkan, banyak Instagram Stories yang sekarang betul-betul terkonsep.

Tapi hati-hati, ketika kita merasa begitu penting dan ngartis sehingga harus mempertontonkan diri apalagi mempermalukan diri. Jangan-jangan kita juga mengidap sindrom Truman.

Sindrom Truman itu sebentuk skizofrenia betulan yang menganggap diri kita sedang direkam dan ditonton seperti dalam reality show. Semoga aja enggak. Pada akhirnya, kita bakal menyadari – cepat atau lambat – bahwa kita ini seorang Truman yang kerasukan bangsa Bonga.

  • [ endi ] www.tutorialumum.com

    wih serem amat
    nice artikel gan

  • Brilliant ! Artikel dan kata katanya dikemas sedemikian rupa jadi enak waktu baca, yah walapun agak ngeri tapi konteksnya untuk hal baik.