Inilah Sojek, Brigade Ojek Intelek

Inilah Sojek, Brigade Ojek Intelek

adiraclubmember.com

Fenomena ribuan sarjana daftar gojek membuat saya tersenyum kecut. Mereka rela antre berjam-jam untuk mendapatkan kesempatan bergabung dengan perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim tersebut.

Gojek kini memang sedang naik daun di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Bali. Perusahaan baru yang cukup hebat. Sejak digagas pada 2010 dan hingga saat ini anggota gojek sudah mencapai 10 ribu lebih.

Usaha Nadiem Makarim ini patut diacungi jempol. Lulusan Harvard University itu sebenarnya mendirikan gojek untuk membantu tukang ojek pangkalan. Biar profesi tukang ojek jangan melulu dicap sebagai pekerjaan kelas bawah.

Tapi, faktanya, tidak hanya ojek pangkalan, para sarjana pun banting setir jadi gojek. Mereka adalah brigade ojek intelek alias Sojek (sarjana ojek).

Ini bukan masalah pekerjaannya. Tidak ada niat untuk merendahkan pekerjaan tukang ojek. Tapi ini tentang orang (yang katanya) intelek. Kalau tidak salah, perlu empat sampai lima tahun untuk bisa mendapatkan ijazah sarjana.

Lalu ilmunya kemana ya? Kok memutuskan untuk menjadi tukang ojek? Ini benar-benar sebuah tamparan bagi pendidikan Indonesia.

Mereka ternyata tertarik dengan penghasilan yang menggiurkan. Bayangkan saja, pendapatan anggota gojek per bulan bisa mencapai Rp 5-6 juta. Pantas sarjana kita berebut masuk gojek.

Kita perlu salut dengan gojek. Setidaknya untuk dua hal. Pertama, bagaimana Nadiem Makarim mampu membalikkan paradigma tentang tukang ojek yang selama ini dianggap pekerjaan rendahan. Kedua, dengan maraknya ribuan sarjana daftar gojek, menunjukkan bobroknya arti pendidikan di negeri ini.

Kira-kira kemana ilmu yang didalami selama empat hingga lima tahun di kampus ya? Ada yang menggali ilmu akuntansi, ekonomi, pendidikan, elektro, otomotif, pertanian, peternakan dan ratusan jurusan lainnya.

Padahal, jelas-jelas, Nadiem menciptakan gojek untuk meningkatkan kualitas tukang ojek yang selama ini kurang produktif, karena waktunya habis di pangkalan. Kini, brigade ojek intelek menyerobot nafkah para tukang ojek.

Ijazah atau Ilmu?

Fenomena ini juga tidak lepas dari kesalahan pemerintah. Kenapa lapangan pekerjaan begitu susah? Mungkin ada yang berkata begitu sebagai alasan kenapa pasrah menjadi gojek. Lalu, yang menjadi pertanyaan besar, “Selama ini kuliah untuk apa? Ijazah atau ilmu?”

Jika kuliah mengejar ilmu, tidak akan ada ketakutan untuk sesuatu yang dinamakan ‘pekerjaan’. Pasti akan ada inovasi dari hasil kreasi otak yang mampu memberikan sesuatu yang disebut ‘pekerjaan’. Tapi kalau kuliah hanya untuk selembar ijazah, silakan mendaftar gojek.

Kalau kita lihat, usaha-usaha yang lain juga begitu. Seringkali kita melihat jenis pekerjaan ini yang bagus untuk dijalani atau barang ini harus dijual karena banyak orang yang sukses karenanya.

Kita pun berbondong-bondong untuk mulai berusaha dengan apa yang telah dilakukan orang lain, yang telah terbukti menciptakan kesuksesan harta benda. Tapi nyatanya, rugi besar. Kita tidak punya kemampuan apa-apa pada suatu hal yang sudah digerakkan oleh orang yang sukses tersebut.

Lihat si A sukses dengan usaha berdagang baju muslim, kita juga ikut menjual baju muslim. Melihat bisnis otomotif cukup menggiurkan, kita buka bengkel. Begitu seterusnya. Berbondong ke sana, berbondong ke sini.

Entahlah, kita semakin lupa hakikat jiwa manusia. Ada yang hakikatnya menjadi pelukis berbakat, tetapi terpaksa masuk ke fakultas ekonomi. Ada yang berbakat menjadi guru, tetapi karena putus sekolah terpaksa jadi montir.

Lalu, ada juga yang berjiwa seni, tetapi karena gajinya tidak akan mencukupi kebutuhan, ia memilih bekerja di kantor sebagai karyawan. Itulah Indonesia saat ini.

Anda pernah salah jurusan? Saya pernah dan pastinya hal itu telah membuang banyak waktu dan tenaga. Apalagi kalau tersesat di jurusan yang belum pernah kita singgahi sebelumnya. Be your self, Bro!

Apa perlu Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan menambahkan satu mata kuliah lagi untuk para mahasiswa, yaitu Pelajaran Mengemudi Sepeda Motor dengan Baik dan Benar (PMSMdBdB)? Dari singkatannya saja sudah ribet, haha…

  • Rio Wibowo

    Slogan para mahasiswa “Agent Of Change” hanyalah bualan belaka ternyata. Lebih baik di hilangkan saja. Harapan masyarakat pada MAHASISWA/Lulusan Sarjana adalah membuat Inovasi yang berpeluang membuka lapangan pekerjaan buat yg bukan mahasiswa. Bukan malah berbondong2 daftar jadi anggota Gojek yang tadinya di bikin untuk menaikan harkat dan martabat para tukang ojek pangkalan. Sepertinya klo tujuan si Nadiem tepat sasaran ga bakalan deh ada konflik antara ojek pangkalan dan gojek.

  • Ya betul sekali bro Rio. Beberapa profesi dan pekerjaan lainnya juga begini realitanya di Indonesia. Semua semata-mata untuk uang. Bagaimana bisa maju coba? Jangankan maju, jadinya malah ada konflik berkepanjangan.. Semoga revolusi mental itu memang bisa dijadikan nyata..

    • Rio Wibowo

      Revolusi Mental Gak akan pernah berjalan mas Awang, wong websitenya aja udah gak ada, “revolusimental.go.id” – “This web page is not available”… lol

      • Semoga masyarakatnya bisa ingat untuk menggerakkan revolusi mental ini Bro Rio..hahaha.. Seperti halnya yang digerakkan oleh orang-orang di voxpop.id. 🙂

  • Septri Lediana Lanis

    sudah saatnya para sarjana tak lagi menjadi pencari dan peminta minta kerja. Tapi menciptakan banyak hal yang sebenar benar berguna bukan hanya untuk sekedar duit saja…

    • Iwan Fals di lagunya yang berjudul “Teman kawanku punya Teman” bilang begini, sarjana begini banyak di negeri ini, tiada bedanya dengan ROTI.

    • mereka mencari gajih bukan untuk menggajih

  • Indonesia banyak meniru, tp meniru yg tdk baik . jiwa kepemimpinan dan keberaniaannya belum terasah . terlalu banyak cemas menuntut ilmu setelah lulus dijadikan untuk menuntut pendapatan. memang terlalu banyak org yg menuntut….

    • Sangat setuju sekali dengan pernyataan Si kakak Fauziah, memang sebagian masyarakat Indonesia suka meniru. Tapi sayangnya cuma meniru secara dangkal, yang ditiru cuma ‘style’ bukan tentang pergerakan, pemikiran atau hal-hal positif dari sebuah tren.

      • dari obrolan disini ada yang berani gak buat suatu gebrakan anak muda dari berbagai wilayah untuk bersatu menjadi interpreneur?

  • Dahayu Citrani

    Harusnya semakin banyaknya mahasiswa yang Lulus Jadi Sarjana, semakin banyak pula Lapangan Pekerjaan yang terbuka. Bukan malah menuh2in kuota dan ngabisin jatah buat para non mahasiswa.

    • mba yg non mahasiswa juga bisabuka lapangan pekerjaan saya punya teman namanya kang yosep mustofa m. skrg tinggal di inggris bersama istrinya yg juga orang inggris dia memiliki banyak usaha di indonesia jug ada restoran namanya Dapur Prasmanan silahkan cek di TINTAHIJAU . sebenarnya jgn saling menyalahi antara sesama kita sadar diri untuk bisa membuka peluang usaha ga harus kerja diperusahaan . harus percaya diri .

  • Oh ya, membaca komen teman-teman di atas, saya jadi kepikiran.. Apakah kampus juga mengajarkan kepada mahasiswanya bagaimana menyerobot lapangan pekerjaan orang lain?? Tolonglah sarjana dan sarjani, ciptakan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang didapat dari kampus. Jangan semuanya di serobot. Anda kan intelek.. hehehe..

    • ga ada mas kalo pelajaran nyerobot lapangan pekerjaan org lain. tp dibangku sekolah dasar,menengah sampai atas dan tinggi sekalipun gak ada tambahan ilmu interview padahal perlu tuh . kalo dr prinsip negara malaysia dan singapure didunia pendidikan mereka dibekali jiwa2 interpreneur apalagi israel wah dinegara tsb kalo mahasiswa mau ngerjain skripsi disuruh buat usaha bisnis yg laba nya harus bener2 diatas harga rata2.

  • Asti

    Bukan maksud menyerobot ya temen2, tapi memanfaatkan peluang. Kan perusahaan2 rata2 sekarang maunya nerima karyawan yang lulusan S1 doank. Nah kalo saya cuma lulusan SMA doank, gak jamin deh bakalan diterima…

  • Memang ada beberapa poin yang mungkin tidak tertulis, yaitu ribuan sarjana ini berbondong masuk gojek karena 1.Sambil menunggu panggilan dari perusahaan yang ia idamkan dan 2. untuk cari modal buka usaha.. Saya maklum jika itu alasannya. Tetapi jika mereka memilih masuk gojek karena penghasilan yang menggiurkan (5 sampai 6 juta sebulan), saya tak tahu mau bilang apalagi..hehhe.. Kadang kita lupa, uang bukan segala-galanya hingga membuat hakikat jiwa dan ilmu ditelantarkan.. Duh kok jadi tausiah gini hehehe..

    • ya kan pikirnya kalo udah sarjana bisa dapet gaji gede setara dengan harga pendidikan yang ia jalankan selama 4 smpai 5 tahun itu . tp pengalaman sya HRD jg pilih dan memilah lulusan yang punya skill yg akan dipake eh yg akan dipekerjakan contoh bisa komputer bisa komunikasi dan bekerja dgn Team.

  • Dilema sich… ya abis kampus juga sistem pendidikannya hanya orientasi nilai dan materi. Jadinya sarjana2 seperti robot, bukan pencipta robot

  • leo

    Sebenarnya nadim hampir tercapai sasarannya untuk meningkatkan taraf hidup ojek..
    Karena awal2 gojek berdiri, kebanyakan yg jadi karyawannya memang ojek pangkalan..
    Sayang pas booming gojek, banyak yg ngerasa “lahan”nya diambil dan menghasut ojek2 konvensional sehingga gak mau gabung gojek..
    Sayang sih, mereka yg terhasut gak bisa liat potensi ekonomi gojek..hingga akhirnya diambil orang lain..
    Yg ujung2nya larang gojek mangkal..

    • ada ojek jd jarang ada angkot yg 24 jam deh indonesia semakin banyak konsumtif motornya

  • Saya pernah dengar, dulu (puluhan tahun yang lalu), semua orang yang berpredikat mahasiswa atau sarjana dipanggil ‘guru’ oleh masyarakat banyak. Maklum, untuk dapat masuk ke perguruan tinggi adalah hal yang susah (penyaringannya ketat). Kalau sekarang? Ah, maklum sajalah.. Ada uang, bisa jadi maha(L)siswa..

  • Fahmi yuhendra

    Numpang komen bro….. Simple saja. Tuntutan kehidupan menjadikan semuanya tabu. Membutakan semua yang terlihat jelas. Rp…? menjadikan semua cara itu baik bahkan terbaik (katanya). Faktanya memang, sekarang sarjana itu hanya pelengkap nama saja (sebagian besar). Namun itulah yang terjadi, Rp…? mengalahkan idealis (pada umumya), yang tersisa hanya segelintir, mencoba untuk meluruskan hakikat manusia.

  • Pingback: 8 Artikel Terbaik di Voxpop 2015 | Voxpop Indonesia()