Ini Pesan Madridista Garis Keras untuk Tukang Duel Kekinian

Ini Pesan Madridista Garis Keras untuk Tukang Duel Kekinian

idfootballdesk.com

Minggu dini hari, 3 April 2016, saya yakin mata publik sepak bola bakal merem melek menikmati laga sarat gengsi, Barcelona v Real Madrid. Duel bertajuk El Clasico ini akan lebih impresif daripada nonton versus-versusan lainnya macam Batman v Superman atau Captain America v Iron Man cs sekalipun.

Kali ini, rival abadi sejak 114 tahun silam tersebut bakal bentrok di Stadion Camp Nou, kandang Barcelona. Real Madrid datang dengan status peringkat tiga klasemen, lantaran tertinggal 10 poin dari Barca sebagai pemuncak klasemen dan satu poin dari tetangga berisik, Atletico Madrid pada peringkat dua.

Jarak poin yang cukup jauh dari sang rival membuat Los Blancos, Los Merengues, dan Los Vikingos – beberapa julukan untuk Real Madrid – kesulitan menginjak tangga juara musim ini. Tentu sebagai seorang Ahok lover garis keras Madridista garis keras, saya akui kalau Barcelona adalah kandidat kuat pemenang pilkada La Liga.

Bukan mau ikut-ikutan baper, saya pun kecewa dan sedih dengan performa Real Madrid sejauh ini, meski tim paling kaya raya sejagad itu dibesut oleh Zinedine Zidane. Tapi saya tidak ingin larut dan pesimis begitu saja. Sebab, masih ada beberapa pertandingan ke depannya. Filosofi ‘bola itu bundar dan telanjang bulet’ merupakan akidah yang harus dijaga.

Selama peluit tanda akhir kompetisi belum ditiup, El Real masih tetap punya peluang juara. Namanya juga Madridista garis keras. Ya begitu deh. Saya pun masih percaya bahwa cinta kepada tim sepak bola itu tulus dan gajah. Maksudnya sebuah kecintaan yang besar dan kuat, melebihi cinta-cintaan Rangga dan Cinta di AADC 2.

Laga El Clasico ini tidak hanya milik para pecinta Spanish Primera Division, melainkan semua orang di berbagai belahan dunia manapun, termasuk Darth Vader dan Princess Leia di kubu Galactic Empire di luar angkasa sana. Asalkan saluran televisi mereka tidak terblokir saat laga berlangsung, seperti yang sering terjadi di daerah saya. #Life

Kalau boleh curhat sedikit, ya begitulah kenyataannya. Ketika hendak menonton siaran langsung sepak bola luar negeri, kami terkadang hanya disuguhi kegelapan, Darkness! Mungkin saat siaran, gerhana matahari total ikutan nonton kali. “Jangan ngalangin kiper, woiii!”

Mau menonton bola saja kami harus beli alat sana-sini. Padahal, menurut saya, tayangan sepak bola itu jauh lebih adiluhung daripada sinetron ‘Anak Jalanan’ ataupun ‘Mars Perindo’ yang semakin dihafal anak-anak. Khusus tentang ‘Mars Perindo’, saya yakin partai baru pimpinan Hary Tanoe itu akan menjadi partai besar. Setidaknya 15 tahun lagi, karena harus menunggu anak-anak balita beranjak menjadi seorang remaja dan punya hak pilih. Kalau sekarang? Entahlah…

Balik lagi soal El Clasico Barcelona v Real Madrid. Saya pikir pertandingan Minggu dini hari pada awal April ini merupakan momentum baik tentang kebermaknaan sebuah kompetisi. Begitulah argumentasinya. Memang ini baru sekadar sebuah hipotesis, jika Barca dan Madrid nantinya menyuguhkan permainan berkelas, atraktif, dan sportif.

Dan, sudah barang tentu, hipotesis itu harus dibuktikan. Tapi, berdasarkan tontonan saya selama ini, partai El Clasico selalu sengit dan kompetitif. Karena itu, perseteruan keduanya pada awal April ini bisa jadi inspirasi yang baik untuk ‘mengangkangi’ perseteruan-perseteruan lain dalam aspek kehidupan mana pun.

Pada bulan sebelumnya, sebagian dari kita mungkin sudah terlalu jenuh oleh perseteruan-perseteruan dan ujaran kebencian yang hanya bikin kepala pening. Mulai dari pro-kontra LGBT, Belok Kiri Fest, jalur independen Ahok, pelarangan monolog Tan Malaka, hingga derby angkutan umum konvensional versus angkutan online.

Tentu, masih ada perseteruan-perseteruan lain yang bila saya runut satu per satu bisa bikin jidat anda berkerut tujuh. Perseteruan yang terjadi cenderung mengabaikan nalar kritis lagi sehat. Lebih parah lagi, orang tidak bosan-bosannya mempergunjingkan suatu persoalan yang sebenarnya tidak perlu. Jelas itu tidak sama bosannya dengan Louis van Gaal yang selalu punya argumentasi yahud tiap kali Manchester United kalah.

Bulan Maret lalu memang punya kenangan tersendiri soal ketegangan-ketegangan itu. Dunia maya pun menjelma jadi ladang empuk untuk saling nyinyir, iri, benci, dan menjatuhkan. Syukur saja bisa baca Voxpop yang selalu kritis tapi jenaka. Ciee… Ciee…

Syahdan, bulan April ini dibuka dengan sebuah tajuk ‘perseteruan sehat’ melalui laga Barcelona kontra Real Madrid. Menonton laga El Clasico barangkali bisa memberikan stimulus bagi kesegaran otak para tukang duel kekinian. Melihat bagaimana aksi Lionel Messi yang menyihir atau Cristiano Ronaldo yang selalu jadi fantasi cewek-cewek kesepian.

Setidaknya ada dua buah makna saat menonton El Clasico. Tentunya ini sangat bermakna untuk para tukang duel kekinian itu. Orang-orang yang selalu cari masalah dan kerap memprovokasi hal kecil menjadi besar. Bukannya menyelesaikan masalah tanpa masalah. Lho?!

Pertama, dalam berduel atau apalah itu, anda harus tahu bahwa anda berduel untuk mencapai tujuan mulia. Dalam sepak bola, tujuan mulia itu adalah kemenangan yang fair. Kemenangan itu selalu lahir dari proses dan kerja keras.

Jadi, sebaiknya anda harus punya argumentasi yang kuat dan mendalam untuk memberikan pendapat, menyebarkan tautan, ataupun mengomentari suatu hal. Jangan asal ikut arus dan dibodohi oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Seorang pemain bola tahu bahwa ia bekerja bagi tim, sehingga tujuannya jelas; kemenangan sejati, kemenangan yang penuh respect.

Semoga saja kalian yang suka cari perkara sama orang lain punya tujuan jelas. Bukan hanya sekadar bermain atau ikut ramai supaya dibilang manusia kekinian. Yang paling banal jika anda turut mengafirmasi (baca: men-share ataupun men-tweet) doktrin-doktrin intoleransi ciptaan orang atau organisasi tertentu. Bedebah.

Kedua, El Clasico adalah sebuah partai besar. Maksudnya, laga ini punya muatan historisnya tersendiri. Apalagi, kedua tim punya sederet gelar yang menimbulkan decak kagum. Dengan begitu, kemenangan yang diburu sudah tentu merupakan nyawa bagi harga diri tim. Di sini, harga diri adalah keutamaan. Karena itu, hendaknya setiap pergunjingan yang diproklamasikan harap tidak menciderai harga diri anda sendiri.

Di sini, manusia kehilangan otonomi sekaligus otentisitas dirinya. Sikap kritis melempem, karena indoktrinasi dunia maya yang tak kenal item selektif. Akhirnya, harga diri pun dikorbankan. Lantas anti-klimaks bisa saja terjadi. Diserang balik kemudian bungkam seolah tak terjadi apa-apa atau bikin pembenaran diri ngawur serentak kemayu.

Tapi saya yakin, para pembaca Voxpop adalah orang-orang cerdas dan sehat jasmani maupun rohani. Yang juga sudah siap menyaksikan laga El Clasico yang sudah ditunggu-tunggu. Terlepas dari siapa yang keluar sebagai pemenang, semoga saja duel kedua tim ini bisa memberikan inspirasi. Salam damai selalu, meski saya Madridista garis keras…