Ini Langkah Darurat agar di Luar Jawa Tak Bergiliran Mati Listrik

Ini Langkah Darurat agar di Luar Jawa Tak Bergiliran Mati Listrik

bahanamahasiswa.co

Target pembangunan pembangkit listrik hingga 2019 sudah pada tahu semua dong? 35 ribu MW. Perkiraan kebutuhan investasinya Rp 1.100 triliun. Entah sudah termasuk transmisi atau belum.

Dengan pasokan listrik akhir 2014 berkisar 45 ribu MW, maka 31 Desember 2019, total pasokan listrik adalah 80 ribu MW. Target elektrifikasi kalau tak salah 97%. Mungkin 3% yang tak teraliri listrik adalah kelompok jomblo yang tak ingin menyalakan lampu tekad untuk mencari jodoh. #halah

Selama 1,5 tahun berjalannya rezim Jokowi, pencapaian tambahan pasokan listrik mencapai 1% dari target 35 ribu MW. Kalau dihitung sungguh-sungguh, sejujurnya kurang dari 1%. Tapi untuk amal, angka pembulatan 1% itu bisa saya terima. Saya sungguh pemaaf dan permisif. Admin Voxpop yang bikin gara-gara dengan twit aneh-aneh saja saya perbolehkan. Malah saya yang akhirnya minta maaf ke pembaca.

Pencapaian selama 1,5 tahun ini tentunya sangat mengecewakan sekaligus membahayakan. Mengecewakan karena belum ada langkah nyata. Membahayakan karena pasokan listrik adalah jantung yang memompa darah untuk pertumbuhan ekonomi.

Pada Januari 2016, konsumsi listrik dari angka pasokan listrik terjual mengalami peningkatan sekitar 7% year on year (yoy). Total listrik terjual 17,57 terra watt hour. Terra watt ya, bukan Terra Patrick (gosah browsing).

Data Oktober 2015 menunjukkan konsumen listrik rumah tangga menduduki posisi pertama dengan kontribusi 44%, industri 32%, komersial 18%, sosial dan pemerintah 5%. Sisa 1% komisi untuk saya. Eh?

Data tersebut sungguh menarik. Karena akhir 2012, kontribusi konsumsi listrik rumah tangga mencapai 41%, sedangkan industri 35%. Berarti peningkatan pertumbuhan konsumsi listrik rumah tangga mengalahkan industri dengan cukup telak. Komersial, pemerintah, dan sosial relatif stabil dalam lima tahun terakhir.

Selama 2004-2005, konsumsi listrik industri masih lebih tinggi dari rumah tangga, walau cuma terpaut 1-2%. Pada 2006 sama, sebesar 39%. Pada 2007 hingga sekarang, konsumsi rumah tangga melesat meninggalkan industri dan rasanya deviasi Oktober 2015 cukup tajam. Ini gejala deindustrialisasi? Susah untuk disangkal. Untuk catatan juga, dari 2006-2015, proporsi konsumsi listrik untuk bisnis (commercial) juga meningkat 2-3% dari 15% menjadi 18%.

Listrik sungguh vital. Untuk pertumbuhan ekonomi 1%, dibutuhkan pertumbuhan pasokan listrik untuk dikonsumsi 1,5% bahkan 2%. Jika ekonomi per tahun tumbuh 5%, pasokan listrik yang dibutuhkan bisa butuh pertumbuhan 7,5% bahkan 10%. Banyak ya? Walau tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan saya per tahun.

Pada saat target 35 ribu MW membahana ke seluruh pelosok Nusantara, rolling black out terus terjadi. Nias sempat 11 hari gelap gulita. Aceh dua PLTU entah bagaimana tak bisa memasok listrik. Medan mati listrik bagai makan, 3 kali sehari. Palu mati listrik 12 jam sehari, juga Ambon. Belum termasuk Kalimantan yang bergelimang batubara juga akrab dengan terputusnya aliran listrik.

Lalu apa langkah jangka pendek yang dilakukan pemerintah? Beberapa langkah jangka pendek yang saya yakin berbiaya tinggi dilakukan bagai obat pereda rasa nyeri sementara. Di lain sisi, Menko Maritim mengatakan 35 ribu MW adalah program sulit untuk direalisasi. Tapi tak keluar angka konkret dari beliau berapa MW yang doable untuk terbangun di Indonesia hingga 2019.

Akhir-akhir ini saya membaca berita Menteri ESDM berbalas pantun dengan Dirut PLN mengenai harga pembelian listrik swasta. Entahlah, apakah perang cocot ini akan mencukupi kebutuhan listrik dan menyelesaikan pemadaman bergilir. Ruwet memang. Menteri ESDM berpegang aturan, Dirut PLN juga dan bertanggung jawab ke Menteri BUMN. Pemdanya juga saya tidak tahu melakukan apa untuk rakyatnya. Terus saja begini sampai Liverpool juara Liga Inggris.

Saya melihat beberapa langkah jangka pendek yang belum ditempuh adalah penghematan terhadap pemborosan listrik di Jawa, khususnya kota-kota besar. Misalnya mal wajib menggunakan panel surya, lampu hemat energi, dan penataan instalasi listriknya agar efisien. Ada ribuan mal se-Jawa yang mengonsumsi listrik dengan rakusnya.

Media luar ruang juga harus dikurangi atau sekalian dilarang kalau perlu. Lebih baik menggunakan komunikasi digital atau cara lain yang lebih efektif. Bisa juga menggunakan jasa saya sebagai konsultan komunikasi. Eh?

Rumah dengan konsumsi listrik di atas 3.000 watt wajib menggunakan lampu hemat energi, bahkan panel surya yang sesuai dengan kebutuhan rumahan. Perkantoran juga demikian. Rasanya kalau konsumsi di Jawa dapat dikurangi 10-15%, maka pemadaman bergilir di daerah lain dapat berkurang.

Saya sempat berbincang dengan seorang eksekutif di bisnis penghematan energi. Jika penghematan tersebut dilakukan, ada 5.000 MW yang bisa didistribusikan di luar kota besar. Itu lebih dari 10%. Tapi untuk mengaplikasikan penghematan tersebut 20%, dibutuhkan teknologi dan 80% manusia yang disiplin. Di sini saya merasa kembali pesimistis. Revolusi mental banget nih yang dibutuhkan #FansMbakPuan.

Demikian juga rencana strategis pembangunan pembangkit listrik agar tidak lagi berpusat di Jawa. Saya sampai sekarang masih bingung dengan pembangkit listrik yang akan menghasilkan ribuan MW di selatan Jawa Tengah. Menggunakan tenaga batubara rencananya. Coba mikir dikit. Batubara ada di Kalimantan. Dibawa ke selatan Jateng menggunakan apa? Kapal turun di Pantura, lalu jalan darat? Alangkah borosnya.

Runtuhan batubara sepanjang perjalanan darat juga akan menghasilkan kotoran. Mau dibawa kapal dengan berputar di Bali atau Merak menuju laut selatan? Bingung saya. Mengapa tidak dibuat saja di Kalimantan yang dekat tambang batubara? Entahlah. Saya yang bodoh – dan kaya karena kebetulan – merasa makin bodoh.

***

Rezim bercita-cita menarik investasi habis-habisan, create jobs puluhan juta jiwa, namun gagap dengan produksi listrik. Masyarakat diminta sabar, sementara pejabat saling lempar tanggung jawab. Kesabaran menghadapi pemadaman listrik bergilir selama bertahun-tahun jauh lebih menyakitkan dibanding menunggu kekasih selama 14 tahun dalam AADC 2.

Yang mati listrik mau usaha sulit, tapi disuruh sabar. Pejabatnya pinter goblok gajian dan tidak merasakan 8-12 jam sehari tanpa listrik. Dapat panggung tiap hari di media mengesankan bekerja keras dalam perdebatan yang tak berujung pangkal. Hasil? Ah, itu soal lain.