Ini Hanya Pesan Ecek-ecek buat LGBT dan Simpatisannya

Ini Hanya Pesan Ecek-ecek buat LGBT dan Simpatisannya

Tanggal 26 Juni 2015 sepertinya menjadi momen terindah bagi pasangan gay, Joe Tully dan Tiko Mulya. Pada tanggal tersebut, pria asal Amerika Serikat dan Indonesia itu dikabarkan menggelar resepsi pernikahan di New York, AS.

Pada tanggal yang sama, entah kebetulan atau tidak, Amerika resmi melegalkan pernikahan sejenis di 50 atau seluruh negara bagian. Tanggal tersebut menjadi tanggal keramat bagi para lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Setelah peristiwa itu, para LGBT dan simpatisannya di dunia termasuk di Indonesia larut dalam sebuah euforia. Di media sosial terutama Facebook, banyak orang memamerkan foto profil bernuansa pelangi sebagai bentuk dukungan. Selama ini, para LGBT kerap menjadikan warna pelangi sebagai simbol.

Di Indonesia, beberapa artis ternama seperti Anggun dan Sherina Munaf secara terbuka mendukung LGBT. Begitu juga dengan sebagian masyarakat melalui postingan di media sosial.

Aksi berani itu akhirnya menuai kecaman dari masyarakat yang anti LGBT dan pernikahan sejenis. Alasannya tidak sesuai budaya, agama, dan hukum di Indonesia.

Namun, rupanya yang terjadi baru-baru ini, sangat mengejutkan. Entah sengaja atau tidak, nekat atau tidak tahu, muncul postingan di media sosial yang memamerkan foto-foto perayaan pernikahan Joe Tully dan Tiko Mulya di Bali.

Disebut perayaan, karena kedua pria itu dikabarkan sudah menikah di Amerika. Meski hanya perayaan, masyarakat di Tanah Air tetap bereaksi keras. Polisi pun ikut menyelidiki. Malang benar nasib si Tully dan Tiko.

Tiko Mulya dan Joe Tully
Tiko Mulya dan Joe Tully

Yang menjadi pertanyaan besar? Kemana orang-orang yang selama ini berkoar-koar membela LGBT? Ohh… sunyi senyap.

Ketika Amerika melegalkan pernikahan sejenis, semua orang termasuk di Indonesia larut dalam sebuah euforia. Tapi ketika terjadi di Indonesia, meski hanya sebuah perayaan, nyaris tak terdengar suaranya. Padahal, Joe Tully itu warga negara Amerika lho..

Foto-foto yang diduga perayaan pernikahan Tiko Mulya dan Joe Tully di Bali
Foto-foto yang diduga perayaan pernikahan Tiko Mulya dan Joe Tully di Bali

Realistis

Ada yang sudah nonton film The Sun, The Moon, and The Hurricane? Saya sudah. Kebetulan film soal gay ini merupakan satu dari 115 film yang diputar di Q! Film Festival (QFF) di Jakarta. Acara itu berlangsung pada 11-20 September 2015.

The Sun, The Moon, and The Hurricane banyak berbicara soal ketakutan terhadap perasaan kesepian. Kalimat yang paling saya ingat dari salah satu adegan di film ini adalah, “I’m not afraid of being old. But I’m just afraid of being old, and lonely.”

Sebagaimana visi sang sutradara, Andri Cung, judul film ini merujuk kepada tiga fase hidup yang yang dilewati tokoh utama Rain (William Tjokro). Hurricane mewakili fase remaja, Sun adalah periode umur 20-an, dan Moon mengisahkan usia 30-an. Film menuturkan kisah jatuh bangun Rain menjalin hubungan dengan Kris (Natalius Cendana).

Film ini bukan soal skandal drama hubungan sejenis yang heboh. Tidak ada adegan kepergok ketika berhubungan seks. Apalagi adegan cemburu buta yang disudahi saling membunuh.

Satu-satunya konflik yang paling menggemaskan adalah pergulatan tokoh Kris. Laki-laki yang memutuskan menikah untuk hidup lurus demi tuntutan di masyarakat. Dia yang memilih discreet atau tidak terbuka soal orientasi seksual yang sebenarnya. Familiar di Indonesia bukan?

Emosi dari hasil menonton film ini, bagi saya, lumayan kena. Kemungkinan karena chemistry para aktor dan musik pendukung. Terlebih dari itu, film ini bisa dibilang cukup personal. Andri Cung memang pernah bilang, sekitar 35% film ini tentang pengalaman hidup dia.

Nah, poinnya di situ. Film ini merefleksikan kehidupan seseorang, bahkan sebagian orang. Kris adalah satu dari sekian juta laki-laki yang belum sanggup berhadapan dengan realita di masyarakat terutama di Indonesia.

Di sisi lain, sekarang kita tidak bisa lagi kolot-kolot banget, mempertanyakan pilihan orientasi seksual seseorang. Misalnya, “Kenapa dia gay, padahal dia ganteng?” atau “Kok bisa ya? Apa dia nggak takut azab Tuhan!”. Konyol? Banget.. Tapi realitanya seperti itu.

Indonesia, yang pada buku PPKn disebut sebagai negara bertoleransi, apa mungkin melegalisasi pernikahan sejenis seperti di Amerika? Kawan saya pernah bercanda, orang paling gay sekalipun nggak akan seoptimis itu. Jadi realistis saja, tidak perlu berkoar-koar.

Tapi baiklah, segala hal mengenai kebijakan pemerintah tidak bisa dijawab dengan taktis. Tapi, bagaimana dengan kata toleransi? Kaum minoritas biasanya kerap menuntut toleransi. LGBT di Indonesia adalah minoritas. Bisa ditarik kesimpulan sederhana dari situ.

Kita masih hidup di masyarakat, yang kadar toleransinya masih seperti ini. Sekarang apa yang bisa diperbuat? Toleransi itu tidak membuat orang terpojok, hanya karena masalah pilihan orientasi seksual.

Pada akhirnya, bukankah yang diharapkan dari cinta itu adalah kedamaian? Siapa yang mau hidup menua dan sendiri di dunia ini?

Foto utama: carlienroodink.nl

  • Kadang sulit membedakan antara toleran dan permisif. makanya yg punya stance kuat, takut terjerumus jadi permisif. Mungkin.