Siapa Bilang Perempuan Sunda Mata Duitan?

Siapa Bilang Perempuan Sunda Mata Duitan?

Happy Salma sebagai Inggit dalam sebuah monolog (gatra.com)

Indonesia, yang kita tahu, adalah negara kepulauan. Ada Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Namun, ada salah satu pulau yang dibumbui mitos percintaan nan dramatis. Mitos itu berasal dari tanah Jawa.

Apakah anda pernah mendengar mitos bahwa laki-laki Jawa pantang menikahi perempuan Sunda karena dibilang mata duitan? Saya pastikan itu ada dan dialami perempuan Sunda yang pacaran dengan laki-laki Jawa. Terlebih, orang tua si laki-laki masih konservatif.

Istilah mata duitan itu sendiri merujuk pada makna serakah terhadap uang, bahwa yang terpenting dalam hidup adalah uang. Jadi, kalau anda termasuk perempuan Sunda yang diterima oleh keluarga pasangan anda yang orang Jawa, selamat!

Tapi, jika anda perempuan Sunda yang ditolak oleh keluarga pasangan anda yang orang Jawa karena anda Sunda, maka selamat datang di barisan sakit hati.

Ketika kuliah di Yogyakarta, teman-teman saya yang orang Solo, Yogyakarta, Surabaya, Lamongan, Wonosobo, Semarang – pokoknya daerah yang masuk Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta – mengkategorikan saya sebagai orang Sunda. Padahal, Sunda itu dari Jawa Barat. Sama-sama Pulau Jawa, tho?

Orang tua atau keluarga mereka juga sudah membisikkan ajian dan mantra-mantra pada anaknya terutama yang laki-laki, kalau perempuan Sunda itu mata duitan, suka bersolek, dan pemalas.

Salah satu teman kuliah saya, seorang laki-laki dari Solo, pernah terang-terangan mengaku kalau ibu dan bapaknya bilang, “Lek, di Jogja jangan pacaran sama orang Sunda ya, mata duitan dan banyak maunya.”

Padahal, setiap nggak punya uang, ia biasa minta sama saya. Ya buat makan, bensin, jajan, sampai minta tambahan uang SPP. Entah dari mana mitos itu berasal, karena sebagai perempuan Sunda tulen, saya tidak merasa mata duitan.

Kalaupun saya dibayari pacar untuk sekadar jajan atau makan, itu karena saya sedang tidak punya uang, bukan mata duitan. Tapi mengapa mitos perempuan Sunda itu mata duitan tetap lestari? Saya pun tidak tahu persis, karena simpang siur.

Dari hasil penelusuran, ada banyak versi soal itu. Ada yang bilang karena sentimen perang Bubat antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, lalu survei ala-ala media sosial, dan mitos turun-temurun para orang tua di Jawa.

Daripada sensi bahas mitos perempuan Sunda dan laki-laki Jawa – seolah saya menebar kebencian pada orang Jawa – mending saya utarakan bukti bahwa perempuan Sunda tidak mata duitan, yang ditilik dari tokoh sejarah, Inggit Garnasih.

Di antara nama-nama tokoh perempuan Indonesia, tanpa mengurangi rasa hormat pada yang lain, saya anggap Inggit Garnasih sangat mewakili perempuan Sunda yang bisa meruntuhkan mitos selama ini. Inggit berasal dari tanah Sunda – tepatnya Bandung – dan dia tidak mata duitan.

Faktanya, Inggit menikah dengan Soekarno, yang ketika itu masih mahasiswa. Belum punya penghasilan, bahkan untuk kuliah pun Soekarno masih dikirimi uang oleh kakaknya, Soekarmini, atau sang ayah.

Inggit Garnasih (boombastis.com)
Inggit Garnasih (boombastis.com)

Bekerja untuk menghidupi suami

Untuk kebutuhan rumah tangga mereka, Inggit harus mengusahakannya sendiri. Bekerja, meracik pupur dan lulur, kemudian menjualnya. Tak hanya itu, Inggit rela menjadi agen sabun cuci sampai menjahit untuk menutupi biaya hidup dengan Soekarno, seperti yang digambarkan Ramadhan KH dalam buku ‘Soekarno Kuantar Ke Gerbang’.

Kalau zaman sekarang, mungkin Inggit tidak akan malu jadi sales atau reseller produk kecantikan untuk menghidupi keluarganya. Tak jarang Inggit memberi uang saku untuk Soekarno, yang saat itu sibuk melakukan kegiatan politik.

Situasi itu berlangsung hingga Soekarno lulus menjadi insinyur. Bahkan Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayahanda Soekarno, berterimakasih banyak kepada Inggit karena sudah mengurus dan menghidupi anaknya sampai lulus, seperti yang dituangkan dalam buku ‘Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno – Kisah Cinta Bung Karno Dengan 9 Istrinya’ karya Haris Priatna.

Saat Soekarno menjadi tahanan di Penjara Banceuy, Inggit benar-benar total menjadi kepala keluarga khususnya untuk urusan nafkah. Ia tak ragu menyelipkan uang di antara bekal makanan supaya Soekarno bisa membeli surat kabar, meski di penjara.

Kalau perempuan Sunda mata duitan, tidak mungkin Inggit meninggalkan Haji Sanusi yang memberi kehidupan mapan untuk Inggit dan berpaling memilih Soekarno, yang dulu masih bokek. Faktanya, Inggit si perempuan Sunda, malah menafkahi Soekarno.

Memilih tidak menjadi Ibu Negara

Jangankan dipoligami, perempuan mata duitan alias matre juga pasti mau dijadikan istri simpanan pejabat atau nikah di bawah tangan. Namun faktanya, Inggit mundur ketika Soekarno berniat untuk poligami. Inggit memilih berpisah dengan Soekarno pada akhir perjuangan menuju kemerdekaan.

Inggit lebih memilih harga dirinya daripada masa depan menjadi perempuan nomor satu di Indonesia. Padahal, ia sejak awal mendampingi Soekarno merintis karir politiknya di Bandung sampai mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Inggit yang lahir pada 17 Febuari 1888 di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung ini artinya Sunda asli. Inggit, memilih mengikhlaskan Soekarno berdampingan bersama Fatmawati, teman anak angkatnya, Ratna Djoeami, sekaligus anak angkatnya selama pengasingan di Bengkulu.

Setelah dua puluh tahun membina rumah tangga bersama Soekarno, akhirnya Inggit resmi bercerai pada 1942 di Jakarta, dengan disaksikan oleh Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur.

Sejarah mencatat bahwa Inggit lah sosok perempuan di balik kesuksesan karir politik Soekarno. Inggit sosok yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan. Inggit berani menyelundupkan data dan dokumen yang diperlukan Soekarno saat ditahan di Penjara Banceuy.

Atas jerih payah Inggit itulah, Soekarno akhirnya berhasil menyusun pledoi yang termasyhur ‘Indonesia Menggugat’, yang dibacakan di Landraad Bandung pada 18 Agustus 1930.

Sebetulnya masih banyak sosok atau tokoh perempuan Sunda yang tidak mata duitan, yang kebetulan menikah dengan laki-laki Jawa. Jadi, siapa berani menikahi perempuan Sunda?