Inemuri Ala Menteri Pemerintahan Jokowi

Inemuri Ala Menteri Pemerintahan Jokowi

Susi Pudjiastuti (kompas.com)

Selama ini tertidur di tempat umum adalah hal biasa. Di kereta, kita mudah sekali menemukan beberapa orang yang mencoba tidur sambil berdiri. Begitu juga di angkot, tidak sedikit orang tertidur, meski dalam posisi duduk yang tidak ideal.

Kebiasaan tidur di tempat umum bukan cuma di Indonesia. Bahkan di Jepang sudah menjadi budaya. Inemuri, namanya.

Orang Jepang dikenal sebagai pekerja keras. Mereka seperti terobsesi dengan kerja. Mereka bahkan tak memiliki waktu tidur normal. Di sana, mudah sekali menemukan orang yang masih berpakaian kerja tertidur di tempat umum, seperti di kereta, stasiun, bahkan di pinggir jalan.

Bagi mereka, orang-orang yang menjalani inemuri dianggap sebagai seorang pekerja keras. Dan, label itu adalah sebuah kebanggaan. Namun, di sisi lain, inemuri juga rentan disalahgunakan oleh beberapa orang yang ingin dilabeli sebagai pekerja keras.

Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dari seseorang yang tertidur di tempat umum. Sampai kemudian ada seorang menteri yang kedapatan tidur di tempat umum, yang membuat hal yang biasa tadi menjadi istimewa dan layak untuk diperbincangkan.

Ada empat menteri dari kabinet kerja Pak Jokowi yang tertangkap basah tertidur di tempat umum. Semuanya tertidur di bandara. Duh, menteri-menteri ini kok kompak sekali, bahkan untuk urusan tertidur sekalipun.

Saking kompaknya, tiga menteri yaitu Susi Pudjiastuti, Khofifah Indar Parawansa, dan Hanif Dhakiri terlihat tertidur hampir pada waktu yang bersamaan. Hanya Imam Nahrawi saja yang waktu kejadiannya terpaut cukup jauh.

Susi Pudjiastuti, menteri kelautan yang hobi menenggelamkan kapal itu tampak terlelap di sofa Bandara JFK, New York, Amerika Serikat. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pun tak mau ketinggalan. Ia tampak tertidur di sofa Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

Berikutnya adalah Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri yang juga tertidur di sofa Bandara Juanda. Meringkuk seperti udang, Hanif terlihat tidur nyenyak.

Nah, sebelum tertidur di bandara menjadi sesuatu yang mainstream di kalangan menteri kabinet kerja, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi lebih dulu tertidur di bandara. Bisa dibilang Imam Nahrawi adalah hipster di antara para menteri untuk urusan tertidur di bandara.

Dari kolom komentar berbagai media yang memberitakan kejadian tersebut, saya menangkap bahwa respon yang muncul berupa apresiasi atau pujian. Lantas pertanyaan yang muncul: “Kenapa masyarakat menanggapi kejadian itu dengan begitu luar biasa?”

Mungkin selama ini posisi masyarakat dan pejabat negara telah terpisah cukup jauh bagai bumi dan langit. Ada semacam jurang pemisah antara masyarakat dan pejabat negara, sehingga ketika ada pejabat yang mengalami apa yang dialami oleh masyarakat, maka respon yang muncul adalah pujian.

Misalnya, ketika ada pejabat negara yang makan di warteg, masyarakat akan langsung memuji dan menilai bahwa orang tersebut adalah bagian dari masyarakat. Tertidur di tempat umum juga dianggap ‘masyarakat banget’. Dan, ketika ada menteri yang tertidur di tempat umum, masyarakat merasa terwakili.

Mayoritas mengatakan bahwa kejadian tersebut hanya bentuk spontanitas saja, karena mereka sudah terlalu lelah usai menunaikan tugas. Segelintir orang menganggap ini dengan wajah sinis bahwa itu hanya rekayasa belaka untuk mendulang citra.

Namun, terlepas dari perdebatan apakah yang terjadi itu spontanitas atau bukan, kejadian tersebut dengan sendirinya telah meningkatkan citra mereka di mata masyarakat. Mereka sudah dianggap sebagai pekerja keras. Tapi, sama halnya dengan inemuri, kejadian tersebut juga rawan disalahgunakan untuk memikat hati rakyat.

Tunggu dulu… Saya tidak sedang menuduh bahwa para menteri yang tertidur itu hanyalah upaya membangun citra di mata masyarakat. Saya hanya membuka ruang kemungkinan bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi.

Kalaupun yang terjadi hanyalah usaha membangun citra, saya tidak mempermasalahkannya sama sekali. Toh, di ranah politik, pencitraan bukanlah sesuatu yang diberi fatwa haram oleh MUI. Pencitraan adalah kosmetik bagi para politisi untuk memikat hati rakyat.

Ini seharusnya dijadikan pelajaran bagi seluruh pejabat di negeri ini, terutama mereka yang bekerja di kementeriaan dan lembaga pemerintah dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang sangat rendah.

Dan, para anggota DPR yang terhormat seharusnya juga mulai belajar untuk tidak hanya tertidur di ruang sidang.

  • i Jeverson

    Fenomena mentri tidur memang belakangan ini lagi marak. Tanggapan netizen juga beranekaragam, ada yang muji… ada yang bilang pencitraan.. haduh.

  • Rizqi Akbar

    Ya masyarakat lebih suka dengan sesuatu yg sama mereka lakukan.
    karena pas ada pejabat yg demikian masyarakat kebanyakan merasa “itu aku banget”