Industri Manufaktur dan 6 Penulis Voxpop

Industri Manufaktur dan 6 Penulis Voxpop

anneahira.com

Industri pengolahan (manufaktur) adalah salah satu sektor penting yang menunjang perekonomian Indonesia. Namun, selama hampir satu dekade, kontribusi manufaktur terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus menurun.

Pada 2009, sebuah masa dimana Indonesia tersambar lidah api krisis global – kontribusi manufaktur masih 26,35%. Terus turun setiap tahun hingga 2015 mencapai 20,84%.

Memprihatinkan, karena manufaktur merekrut banyak tenaga kerja. Meski demikian, ada sinyal positif dari jumlah investasi langsung di bidang manufaktur: nilainya naik terus dalam lima tahun terakhir dan dua tahun ini peningkatannya luar biasa.

Ketika mencoba mengakrabi angka dan data tentang manufaktur Indonesia, saya sembari membaca-baca artikel dari beberapa penulis muda yang tayang di Voxpop.

Ada enam orang yang saya tabulasi dan sepertinya mirip sekali kondisi manufaktur Indonesia. Saya akan coba mengulasnya. Semoga tidak ada yang gugat kalau tidak cocok.

1. Pertumbuhan Investasi dan Arif Utama

Arif Utama adalah mahasiswa Universitas Padjadjaran. Kini tinggal di Bandung, Jawa Barat. Kekuatan utama dalam tulisannya adalah kecepatannya merespon isu yang lagi ngetren di kalangan anak muda kekinian. Mungkin dia hipster sejak dalam pikiran. Yang pasti, Arif ini merepresentasikan kecepatan.

Sama dengan kecepatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang merilis aturan izin investasi selesai dalam tiga jam. Arif juga merepresentasikan rasa optimis saya terhadap generasi masa depan Indonesia, tua banget yak saya. Rasa optimis ini yang juga saya rasakan melihat angka realisasi investasi di sektor manufaktur.

Pada 2011, nilai investasi manufaktur mencapai Rp 99,6 triliun atau 39,6% dari total investasi yang masuk ke Indonesia. Pada 2012 meningkat menjadi Rp 158,8 triliun atau berkontribusi 49,7%.

Pada 2013 naik lagi menjadi Rp 201,1 triliun atau menyumbang 50,5%. Lalu, pada 2014, turun sedikit menjadi Rp 199,1 triliun atau berkontribusi 42,9%. Dan, akhirnya pada 2015, meningkat tajam menjadi Rp 236 triliun atau menyumbang 43,2%.

Yang sangat membanggakan, pada semester I-2016, investasi manufaktur menembus Rp 180,3 triliun dengan proporsi 60,5% dari total realisasi investasi yang masuk.

Jika dibandingkan semester I-2015 yang sebesar Rp 112,8 triliun, berarti ada kenaikan 59,8% pada semester I-2016. Franky Sibarani ini boleh juga. Saya boleh cium tangan pak? Moga prestasi Franky dilanjutkan Thomas Trikasih Lembong.

2. Memecah Kebuntuan Birokrasi dan Ichsan Maulana

14572807_1150880281657971_2387307733405080494_n

Ichsan Maulana tinggal di Banda Aceh. Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Syiah Kuala. Ichsan spesialis menulis tema sosial, politik, dan kehidupan beragama. Tulisannya menari-nari di luar nalar mainstream.

Penuh terobosan dan pemikiran yang kita tak pernah pikirkan. Sampai sesudah selesai membaca tulisannya, kita akan bergumam: sebenarnya sederhana ya. Itu impresi saya terhadap tulisan Ichsan Maulana.

Ichsan menurut saya sangat mirip dengan layanan investasi pendukung manufaktur yang menjawab banyak pertanyaan pengusaha: ada tidak sih koordinasi pusat-daerah untuk mengawal investasi? Seringnya di pusat cepat, di daerah ribet.

Awal 2016, BKPM membuat semacam pilot project dengan beberapa daerah. Pilot project itu bernama KLIK yaitu layanan kemudahan investasi langsung konstruksi. BKPM bekerjasama dengan 6 gubernur dan 9 walikota-bupati untuk KLIK.

Secara sederhana, investor yang ingin membangun cepat bisa dilayani. Izin di pusat 3 jam, survei lahan dan membelinya, langsung boleh konstruksi dan izin IMB, Amdal dan lainnya dikerjakan paralel dengan konstruksi. Loh kok bisa? Bisa. Karena lahannya khusus yaitu di kawasan industri.

Per juli 2016, sudah ada 52 perusahaan yang memanfaatkan layanan KLIK dengan total nilai investasi Rp 65,86 triliun di 806,5 hektare lahan yang tersebar di sembilan kawasan industri. Sederhana, namun dalam. Khas Ichsan Maulana banget.

3. Membangun dari Pinggiran dan Elvan De Porres

Elvan De Porres tinggal di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak hebat ini berbeda dengan mahasiswa filsafat yang kerap membuat saya harus berpikir keras atas ucapan dan tulisannya. Elvan tulisannya mengalir dan bisa menulis berbagai bidang yang berjauhan dengan santainya.

Politik dan olahraga ditulisnya dalam sudut pandang kefilsafatan, tapi dengan tetap menggunakan bahasa yang mudah dicerna awam. Membumikan bahasa langit bukanlah kerja yang mudah, tapi Elvan melakukannya dengan mudah, sepertinya. Belum lama ini, Elvan memenangi lomba nulis esai di Belok Kiri Fest 2016. Selamat ya!

Elvan adalah representasi potensi daerah. Selama ini tak tergali, karena tak pernah diberikan kesempatan. Saya pun merasa slogan membangun dari pinggiran yang diangkat Jokowi sangat tepat, walau aplikasinya sungguh masih perlu banyak pembuktian.

Melihat Elvan, saya teringat investasi penting di Pulau Obi. Di mana pulau Obi? googling! Apa-apa kok minta dikasih tahu. Di Pulau Obi, kini tengah dibangun dua smelter strategis, yaitu smelter nikel menjadi feronikel dan bauksit menjadi alumina.

Seorang kawan saya bekerja di sana. Sebanyak 80% pekerjanya dari provinsi yang sama dan banyak dari daerah sekitar juga. Saya mendengar ceritanya dengan bahagia.

Untuk catatan, bauksit Indonesia selama ini dijual mentah ke luar negeri. Diproses menjadi alumina yang lalu dijual ke Indonesia untuk diproses menjadi aluminium ingot.

Jika smelter alumina beroperasi penuh, rantai produksi dari pemurnian bauksit hingga menjadi aluminium ingot bisa dikerjakan seluruhnya di dalam negeri.

4. Iklim Investasi dan Sisca Guzheng Harp

Sisca Guzheng Harp tinggal di Bandung. Alumni sastra Inggris dari Universitas Kristen Maranatha. Bermain harpa sembari rajin menulis menjadi kegiatannya. Perempuan berwajah oriental ini sempat menjadi guru les bahasa Inggris. Semoga murid-muridnya tabah.

Tulisan dan juga tampilan Sisca (#uhuk) merupakan representasi iklim investasi di Indonesia. Sisca memiliki gaya tulisan yang meyakinkan. Tulisannya terkadang terkesan merayu mengajak pembaca untuk larut dalam bahasannya. Sebuah daya pikat tersendiri.

Sisca adalah representasi tolok ukur mengapa harus investasi ke Indonesia. Beberapa di antaranya adalah peringkat investment grade Baa3 pada 2016 dari Moody’s, JBIC meletakkan Indonesia sebagai tujuan investasi utama perusahaan Jepang, survei Ernst & Young kepada 120 CEO di Asean yang menyatakan 42% menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi utama dan masih banyak lagi.

Porsi investasi asing di Asean – di luar keuangan dan hulu migas 2015 versi Financial Times – memperlihatkan selama tahun tersebut sekitar 34% investasi masuk ke Indonesia. Negeri ini telah menjadi surga investasi, karena begitu menarik. Tapi ini bukan berarti Sisca akan dikejar-kejar banyak pria. Ini bahasannya manufaktur. Jangan salah fokus.

5. Perekrutan Tenaga Kerja Manufaktur dan Indah Ciptaning Widi

Indah Ciptaning Widi adalah saya versi perempuan dalam beberapa hal. Sama-sama asal Surabaya, sama juga kuliah di Malang, sama juga kuliah di kampus nan keren bernama Universitas Brawijaya. Asal tidak nanya beda angkatan saya dan Indah, dunia akan baik-baik saja.

Indah memiliki tulisan yang khas. Nyinyir-nyinyir centil khas cewek Surabaya yang tidak mau tergulung isu kekinian ibukota. Indah adalah representasi rakyat kebanyakan. Sederhana, tidak neko-neko, dan apa adanya. Sama seperti yang dibutuhkan investasi untuk manufaktur: tenaga kerja, pasokan listrik, dan jalur logistik.

Pada 2015 diperkirakan 15,3 juta jiwa bekerja di industri manufaktur. Melihat tingginya investasi yang masuk ke Indonesia, jumlah ini akan terus meningkat. Tentu perlu dikawal sungguh-sungguh. Apalagi presiden menjanjikan 2 juta lapangan pekerjaan.

Tentunya, pertumbuhan manufaktur harus diimbangi dengan pertumbuhan produksi listrik dan jalur logistik. Sedih membaca berita beberapa waktu lalu bahwa dari target listrik 35 ribu MW, baru tercapai 1-3%.

Sementara hampir Rp 200 triliun investasi sudah masuk pada semester I-2016 dan tengah membangun fasilitas masing-masing. Semoga saat manufaktur terbangun semua, pasokan listriknya juga paralel terbangun.

6. Target Spesifik dan Dewi Setiyaningsih

Dewi Setiyaningsih tinggal di Yogyakarta. Lulusan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dewi khas dengan tulisan satir kritik sosial dan budaya konservatif, termasuk soal kesetaraan gender. Ia sedang merawat Komunitas Alena, sebuah lingkar diskusi feminis pribumi.

Dewi ini penggiat sebuah organisasi yang fokus dan spesifik, sama dengan target spesifik yang dibangun oleh BKPM. Pada 2015-2016, BKPM fokus pada investasi di industri alas kaki dan tekstil.

Sebagai contoh, pada kuartal-I tahun ini, terjadi kenaikan realisasi investasi di sektor industri tekstil sebesar 194%, dimana realisasinya mencapai Rp 3,64 triliun dibandingkan kuartal-I 2015 yang sebesar Rp 1,24 triliun.

Adapun realisasi investasi di sektor tekstil bersama industri padat karya lainnya, seperti makanan, kayu, dan alas kaki pada kuartal I-2016 mencapai Rp 20,21 triliun atau tumbuh 39% dibandingkan kuartal I-2015 yang sebesar Rp 14,49 triliun.

Setelah alas kaki dan tekstil tahun ini, BKPM akan fokus pada realisasi investasi di industri mebel pada 2017. Ini sangat penting membangkitkan industri mebel di daerah-daerah dan membuka lapangan kerja baru. Sama halnya dengan tulisan satir Dewi yang membuka mata dan hati pembaca di pelosok negeri.

Kontribusi para penulis tersebut, dan tentunya para penulis yang lain bisa dibilang tren positif bagi Voxpop sebagai rumah besar para penulis berbakat. Begitu juga dengan realisasi investasi di industri manufaktur. Data-data menunjukkan adanya kebangkitan di sebuah rumah besar bernama, Indonesia.