Indonesia Perlu Banyak Belajar dari Korea Utara

Indonesia Perlu Banyak Belajar dari Korea Utara

imagesbuddy.com

Indonesia itu gimana, ya? Hmm… Belakangan kok banyak ributnya. Pilkada, misalnya. Yang diributkan bukan program atau kinerja pula. Giliran mau demonstrasi, sering direpresi aparat. Lha, katanya kita negara demokrasi. Demonstrasi itu anak kandung demokrasi, bukan ya?

Lalu ada pergantian menteri, tapi kok ya menteri favorit rakyat yang dicopot, sedangkan menteri favorit partai malah anteng saja. Katanya pro-rakyat. Yang kekinian, ada menteri baru menjabat selama 20 hari, sudah diberhentikan gegara berkewarganegaraan ganda. Makin banyak saja daftar mantan menterinya pak Jokowi, sebanyak barisan mantan saiaaa…

Tapi, bagi rakyat, yang penting kebutuhan dasar tercukupi. Percuma saja elit di negeri ini ribut-ribut, kalau rakyatnya tidak sejahtera. Soal gizi rakyat, misalnya. Bukannya ngurusin harga cabe dan jengkol yang melambung, malah impor daging sapi dan jeroan. Kalau harga cabe dan jengkol lebih dari Rp 60 ribu/kg, itu bisa bikin rakyat lebih menderita daripada daging ayam yang harganya juga segitu.

Belum lagi soal kemacetan di jalan raya yang tiada akhir seperti berharap dapat pacar ideal. Padahal, tuntutan saya sudah fleksibel banget: kalau nggak kayak Rangga, ya kayak Indraguna Sutowo.

Bagaimana, kamu jadi pusing dengan kehidupan cintamu yang sama carut-marutnya dengan negeri ini? Piknik dulu. Kalau perlu yang jauh. Misalnya ke “Negeri Ginseng”. Masak kalah sama kangmas Jauhari Mahardika. Kalau Korea Selatan sudah terlalu mainstream, cobalah ke Korea Utara. Banyak hal yang bisa dipetik dari Korut.

Saya kasih beberapa contoh:

1. Masalah kemacetan

Kalian harus berangkat jam 5.30 pagi tiap hari supaya tepat waktu nganter anak ke sekolah sebelum kalian ke kantor? Ckckck… Di Korut, nggak ada yang namanya macet. Sebab, hanya militer dan pejabat yang punya mobil. Jalan selalu lowong, bablasss… Nggak ada ribut-ribut soal pembangunan busway, monorel, kereta bawah tanah, dan lain-lain. Keren banget, kan? Siapa? Iyalah pejabatnya.

2. Efisiensi demokrasi

Kalian marahan sama keluarga, teman, atau tetangga karena pilpres/pilkada? Doohh… Udah mahal bikin pemilunya, pada berantem pula. Contoh dong di Korut. Nggak ada yang kayak gitu. Tiap lima tahun sekali, mereka mengadakan pemilu dengan satu nama di kertas. Joss banget kan? Nggak akan ada pemborosan bayar quick count, ribut presiden/gubernur tandingan, ribut KPU curang. Nggak pernah ada demonstrasi menuntut referendum. Mereka hidup damai… Pokoknya damai. Titik.

3. Negara berdaulat

Merasa bangga bu Susi menangkap kapal-kapal pencuri ikan? Itu nggak ada seujung jarinya kehebatan Korut. Mereka adalah satu-satunya negara yang menangkap US Navy Ship pada 1968. Amboi! Terus kapalnya diapakan? Ditenggelamkan? Wooo… ya nggak lah. Sayang banget atuh. Kapal itu dijadikan objek wisata. Turis dibawa lihat-lihat dan nonton film anti-AS di dalam kapal. Cadas!

Mereka juga bangsa yang sangat percaya diri, nggak minderan kayak kita. Mereka percaya bahwa Korut adalah negara ranking kedua yang penduduknya paling bahagia, setelah Tiongkok. Amerika? Peringkat terakhir. Tentara mereka? Dari total penduduk 25 juta jiwa, mereka punya 6,5 juta laki-laki dan 6,4 juta wanita yang sudah ikut wajib militer dan siap perang!

Kalaupun sepertiga pendapatan negara dihabiskan buat beli senjata dan setengah rakyatnya kurang gizi, itu wajar saja tho? Plis deh, senjata itu jelas lebih penting daripada perut rakyat. Kedaulatan harga mati!

4. Kelebihan penduduk

Di sini, setengah mati diterapkan KB. Eh, tetap saja orang lebih percaya banyak anak banyak rezeki. Di Korut? Luasnya 120 ribu km2, penduduknya hanya 25 juta jiwa. Bandingkan dengan Pulau Jawa. Luasnya 128.297 km2, tapi penduduknya 150 juta jiwa. Gimana nggak pusing para gubernurnya? Tapi tetep aja banyak yang kebelet.

Kenapa penduduk Korut nggak sebanyak di sini? Pertama, sangat tidak mudah hidup di negara yang mengalami empat musim, dalam keadaan kurang gizi. Kedua, banyak napi politik dengan tuduhan mengada-ada. Jadi, hanya warga negara yang paling kuat (dan paling setia) sajalah yang bertahan. Sesuai teori Darwin!

Lalu ketiga, selama 60 tahun, ada 23 ribu orang Korut yang “inisiatif transmigrasi” ke Korsel. Transmigrasi swadaya, nggak usah dibiayai dan dikasih lahan sama Pemerintah Korut. Solusi kelebihan penduduk yang sangat efektif, bukan? Dengan sendirinya Rakyat Korut berbondong-bondong meninggalkan negaranya.

5. Kerja! kerja! kerja!

Di sini sih cuma slogan doang. Anggota DPR tetap banyak yang tidur di ruang sidang, lalu studi banding cum liburan plus belanja. Di sana, semua orang sangat rajin bekerja. Nggak usah pusing nyari lowongan kerja, begitu lulus sekolah langsung sudah ditentukan pemerintah kamu kerja apa dan di mana. Kerja enam hari/minggu, plus 1 hari kerja “volunteer”.

Terus para napi. Di sini dipelihara ngabisin duit negara, padahal hukumannya seumur hidup atau malah hukuman mati. Di sana, hukumannya “hard labor” alias kerja paksa. Penduduknya cuma 25 juta jiwa, napinya bisa 200 ribu dan kebanyakan napi politik, bukan copet atau maling.

Kok banyak amat? Iya, soalnya kalau satu orang dipenjara, tiga generasi dia ikut dipenjara – semua sekeluarga ikut kerja paksa – bahkan dijadikan tenaga kerja outsourcing ke Siberia. Luar biasa efisien padat karya, bukan? Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dahsyat, ekonomi kerja paksa yang kreatif.

6. Pemborosan mobil dinas

Isu dana belanja mobil dinas di Indonesia entah sudah berapa kali kita dengar dan bikin eneg. Noh… di Korut. Pada 1974, Kim Il-Sung mengambil 1.000 sedan Volvo dari Swedia ke Korut untuk mobil dinas. Nggak pernah dia bayar. Otaknya encer banget nggak sih itu orang?

7. Gaya hidup yang merusak akhlak

Kamu pusing lihat kelakuan anak muda pakai model rambut punk? Gereget lihat laki-laki gondrong? Mengernyitkan hidung melihat tren cat rambut pink dan platinum sekarang ini? *geleng-geleng kepala.

Di Korut nggak ada yang kayak gitu. Semua warganya tertib. Model rambut hanya pilih dari 28 model yang dipilihkan pemerintah (duh… perhatian banget sih, kan sangat menghemat waktu galau milih model rambut di salon).

Acara televisi Indonesia kurang mendidik? Ada yang bilang begitu. Harusnya menyontoh Korut. Stasiun TV-nya hanya tiga, yang dua hanya tayang akhir pekan, yang satu tayang harian tapi hanya pada malam hari. Nggak akan ada lagi kontroversi acara TV. Semua orang tua rajin bekerja dan mengurus rumah, anak-anak pun rajin belajar.

Khawatir anak-anak mengakses situs porno? Harusnya melihat Korut. Di sana, cuma para pejabat yang punya akses ke internet dan lihat situs porno.

8. Loyalitas

Jokowi memerintahkan kapolri untuk menindak kelompok intoleran yang meresahkan masyarakat. Eh, nggak digubris. Puk… Puk… Tiru dong Kim Jong-Un. Gemuk, pendek, bantet, cengengesan terus, nggak pernah ikut latihan militer sama sekali. Tapi wibawanya? Jangan tanya.

Para wanita histeris berebut memegang tangan Kim Jong-Un tiap kali beliau menengok rakyat. Lalu ada pejabat yang hajatan pada masa berkabung wafatnya sang ayah, dihukum luar biasa. Padahal doi jenderal tinggi. Hukumannya nggak tanggung-tanggung, ditembak. Pakai bazooka pula.

Pamannya sendiri (merangkap mentor ) yang dianggap “berkhianat”, dia perintahkan untuk dilempar telanjang ke kandang berisi 120 anjing pemburu yang lapar. Udah sangat tegas berwibawa, sayang binatang pula. Oalahhh…

Rakyatnya sangat mencintai kedua pemimpin terhebat di dunia, Kim Il-Sung dan Kim Jong-Il. Tiap melewati kedua foto itu di jalan, warga menunduk memberi hormat. Ada bunker khusus untuk menyelamatkan patung keduanya jika terjadi perang. Tiap rumah pasang kedua foto tersebut. Mereka bahkan dibagikan handuk istimewa, yang fungsinya hanya untuk mengelap kedua pigura itu.

Kalau ada kebakaran? Kedua foto itu yang pertama wajib diselamatkan. Ada gadis muda usia 14 tahun dikabarkan tewas tenggelam karena mencoba menyelamatkan foto tersebut ketika banjir. Ah… mengharukan sekali.

Selesai semua masalah negara, kan? Kamu yang menganggap Indonesia paling nggak beres sedunia, pasti terkagum-kagum tho sama Korut? Usul saja sama pak Jokowi – kalau perlu kumpulin KTP atau tanda tangan petisi – menuntut transmigrasi massal ke sana. Kalau saya? Mending di Bandung syajaaa….

  • indyana

    jadi eneng gak ikut ikut transmigrasi? ya udahlah saya juga gak ikut, nemenin neng aja.. kasian kan kalo nanti semua ke sana eneng sendirian…. ??