Ikuti Cara Ini, Maka Jokowi akan Selamat!

Ikuti Cara Ini, Maka Jokowi akan Selamat!

Saya agak-agak bingung pas pesan WA Jauhari Mahardhika masuk ke handphone. “Artikel buat besok sudah ada ya?” Begitu isi pesannya. Singkat, padat, dan tegas. Saking padat dan tegasnya, saya sempat berpikir Bang Jauhari ini diam-diam sudah ikut pelatihan bela negara kali.

Kenapa saya bingung? Ya karena secuil huruf pun belum saya tulis. Apalagi voxpop ini kan situs kreatif dan bersahaja, bikin tulisannya juga tidak bisa asal-asalan. Tidak bisa disamakan dengan situs abal-abal yang isinya paling banter cuma analisis dangkal nan provokatif. Tulisan di voxpop itu isinya harus mencerahkan.

Tulisan mencerahkan perlu bahan awal bernama ide. Idenya pun ide yang segar dan brilian. Nah, ide ini yang sekarang sedang kosong.

Beberapa waktu terakhir saya memang sedang keranjingan olahraga lari jarak jauh alias marathon. Tapi masa sih lari dijadikan bahan tulisan? Lari itu kan aktifitas fisik, berada di tatanan praktis, bukan di tatanan ide atau konsep.

Kalau hanya berupa ide atau konsep, sementara kita tidak mulai melangkahkan kaki untuk berlari ya namanya bukan lari. Walaupun ide itu fantastis bahkan bombastis.

Omong-omong soal lari, saya jadi ingat sama Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan. Akhir Oktober lalu, beliau bilang, “Tahun depan pemerintah harus berlari, kerja, kerja, dan kerja.” Sekilas, kata-kata itu terasa basi, apalagi slogan ‘kerja, kerja, kerja’ itu sudah digaungkan sejak awal Jokowi jadi Presiden.

Tapi coba garis bawahi kalimat ‘Tahun depan pemerintah harus berlari’. Dari kalimat itu tersirat bahwa pemerintahan yang sedang berjalan ini perlu akselerasi supaya bisa mencapai tujuan.

Dalam event race lari ada dua istilah yang harus benar-benar diperhatikan oleh pelari. Pertama, cut off time (COT). Kedua, did not finish (DNF).

COT ini kira-kira batas waktu maksimal yang diberikan kepada si pelari untuk menyelesaikan lintasan dari start sampai finish. Kalau lewat dari COT, maka si pelari tidak akan diberi medali finisher oleh panitia.

Nah, kalau DNF artinya keadaan dimana pelari tidak bisa melanjutkan lombanya hingga ke finish alias berhenti di tengah lintasan.

Pak Jokowi mau berlari? Jika iya, sepertinya Bapak harus juga memperhatikan dua istilah di atas. Pemerintah kan pasti punya tujuan atau finish yang akan dicapai, bisa saja tujuan ini dikejar, tapi ingat bahwa ada COT yang ditetapkan oleh konstitusi yaitu 5 tahun.

Kalau lewat COT tapi belum sampai di tujuan, ya pemerintah tidak akan mendapat medali finisher, apalagi kalau sampai DNF.

Bagaimana supaya finish strong? Pak Jokowi mungkin bisa mengikuti cara-cara atau tips ala pelari marathon ini:

1. Pelajari Rute

Pelari seringkali akan lebih unggul di daerah yang sudah dikenalnya. Saat si pelari paham rute yang akan dilalui, hingga tahu dimana ada belokan, lintasan lurus, tanjakan, turunan sampai-sampai mungkin hapal dimana ada lubang yang bisa menghambat, maka si pelari akan lebih perform saat berlari dan bisa menggunakan strategi yang tepat.

Rute yang akan dilalui pemerintahan ini hingga akhir masa jabatan nanti juga harus Pak Jokowi pelajari. Bagaimana keadaan cuaca, keadaan ekonomi global dan regional, peta perpolitikan dunia, keadaan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, dan sebagainya.

Dengan begitu, saat keadaan ekonomi dunia sedang tidak stabil, pemerintah bisa dengan cepat mempersiapkan strategi jitu untuk menghalau dampaknya ke Indonesia.

2. Kosongkan Limbah Tubuh

Dengan mengosongkan limbah tubuh, pelari bisa mengurangi beban tubuh dan membuat tubuh lebih lega. Bayangkan, jika di tengah lintasan si pelari kebelet, perlu waktu yang lumayan lama untuk buang air.

Tapi rasanya bagian yang ini rada sulit ya Pak? Limbah tubuh di pemerintahan semacam korupsi dan kejahatan lainnya masih menumpuk dan belum dibuang, ketika Bapak menduduki jabatan.

Akhirnya sambil berlari, bapak juga harus sambil membuang limbah itu. Ya semoga saja limbah tersebut keluarnya seperti keringat, sehingga tidak menghabiskan waktu lama untuk membuangnya.

3. Buat Tubuh Seringan-ringannya

Bagi pelari, penting untuk membawa peralatan seringan mungkin, sehingga tidak menjadi beban saat berlari. Peralatan yang tidak berfungsi, apalagi jika beratnya cukup membebani lebih baik ditanggalkan.

Memang ada beberapa pelari yang memiliki sponsor. Biasanya sponsor ini suka nitip-nitip peralatan, barang, atau produknya kepada si pelari untuk dikenakan saat race berlangsung.

Jika titipan itu berfungsi dan tidak membebani ya tidak masalah, tapi jika sebaliknya ya lebih baik tidak usah dibawa saat berlari.

Nah, Pak Jokowi juga seharusnya begitu. Saat pemerintahan ini berlari, jika ada titipan-titipan dari sponsor – jika ada lho – yang tidak berfungsi dan malah memberatkan, mending ditanggalkan saja.

Misalnya, menteri-menteri titipan parpol pendukung – sekali lagi kalau memang ada titipan – yang tidak berfungsi dan malah membebani lebih baik dicopot dan diganti supaya pemerintah bisa lari lebih cepat.

4. Jangan Memulai dengan Terlalu Cepat

Sangat mudah bagi pelari untuk berlari terlalu cepat dari seharusnya, karena merasa kuat di awal. Padahal, salah satu alasan terbesar pelari tidak bisa berlari lebih cepat di bentangan akhir, ya karena ini.

Hal tersebut juga harus diwaspadai oleh Pak Jokowi supaya pemerintahan tidak malah melemah di akhir atau malah jadi DNF alias berhenti di tengah jalan.

Jika Pak Jokowi mengikuti tips-tips lari jarak jauh di atas, Bapak bisa finish tanpa lewat batas COT dan terhindar dari DNF. Bagaimana kalau kita lari marathon dulu, Pak!

Foto: mystatesman.com

  • menyegarkan juga ternyata seusai lari