Icip-icip Balapan Mewah dan Tepuk Tangan yang Terlalu Keras

Icip-icip Balapan Mewah dan Tepuk Tangan yang Terlalu Keras

sp.beritasatu.com

Sebagai warga negara Indonesia yang sah sesuai KTP dan diakui kelurahan serta kecamatan, saya berusaha ikut bangga, karena Rio Haryanto bakal tampil balapan di F1 musim depan. Ini tentu bagus sekali daripada dia mondar-mandir di iklan handphone bareng Isyana Sarasvati yang aduhai betul itu.

Terpilihnya Rio sebagai salah satu pebalap F1 dari Manor Racing Team begitu dramatis. Mulai dari kesulitan dana sampai pemberitaan media yang cenderung masokis. Rio bahkan sempat sowan ke beberapa pengusaha untuk membantunya, karena seluruh dana tak mungkin ditanggung oleh Pertamina sebagai salah satu sponsor.

Pihak Manor meminta mahar yang kelewat mahal untuk ukuran pebalap dari negara yang kondisi ekonominya tidak yahud betul. Lain cerita kalau Rio adalah warga negara Singapura.

Ini fakta yang kadang membuat kepala saya cenat-cenut, ketika Menpora dan beberapa pihak termasuk sponsor dan manajemen Rio banting tulang mengejar dana yang ditaksir mencapai 15 juta euro atau Rp 225 miliar untuk mematenkan satu kursi pebalap.

Manor bahkan meminta uang muka (down payment/DP) antara 3 sampai 5 juta euro untuk kepastian. Tapi akhirnya sudah dibayar sebesar 3 juta euro. Kalau ditambah dana sponsor dari Pertamina sebesar 5 juta euro, berarti masih kurang 7 juta euro lagi. Semoga bisa dipenuhi nantinya.

Sekarang begini. Kalau dilihat secara performa dan capaian prestasi, Rio jelas jauh lebih mentereng dibanding Doni Tata yang mampu berlaga di ajang balap motor bergengsi, MotoGP, meski Doni tidak berada di kelas yang sama dengan Valentino Rossi dkk.

Rio memiliki catatan poin yang cukup baik di seri F2 dengan beberapa kali mampu bersaing untuk podium dan meraih klasemen akhir di tabel pebalap dengan capaian yang memuaskan. Untuk ukuran bocah dari Indonesia yang rakyatnya gemar heran dan terbawa euforia, prestasi Rio adalah kebanggaan tiada tara yang masih tersisa di negeri ini.

Selama ini, mungkin sisa-sisa kebanggaan itu sudah nyaris lenyap bersama uang rakyat yang ditilep oleh tikus berdasi dan tertutup pemberitaan kopi bersianida selama berbulan-bulan. Untung masih ada Rio.

Jangan lupa juga ada Joey Alexander, pianis asal Indonesia, yang penampilannya di Grammy Awards bikin Taylor Swift, Bruno Mars, dan Herbie Hancock sontak berdiri dan bertepuk tangan. Mungkin selanjutnya para penulis Voxpop akan membahas Joey Alexander.

Sekarang kita balik lagi ke Rio Haryanto. Tadi euforia sudah. Sampai-sampai kita bertepuk tangan terlalu keras melampaui riuh rendahnya penonton di sirkuit. Padahal balapan saja belum. Kini giliran yang realistisnya.

Kalau mau realistis, tim sekelas Manor jelas butuh asupan dana yang banyak untuk mengarungi musim balapan. Manor jelas bukan Red Bull Renault atau Ferrari bahkan Mercedes yang persediaan dananya tinggal metik di pohon duit belakang kantor.

Manor juga tidak mampu menawarkan mobil yang kompetitif untuk Rio kelak. Yang Manor tawarkan adalah kesempatan balapan di F1, yang bahkan pebalap India, Narain Karthikeyan, sudah mencicipi lebih dulu. Bahkan Malaysia juga sudah merasakannya.

Ketika sirkuit Sentul sibuk berbenah untuk menggelar balapan dan menimbulkan polemik, sirkuit Sepang di Malaysia sudah rutin setiap tahun menggelar balapan. Pebalap Malaysia, Alex Yoong, pernah menjajal balapan F1 sebelumnya.

Jadi, bangga boleh-boleh saja, tapi tidak perlu terlalu euforia soal karier Rio di F1 atau Evan Dimas yang akan berlatih sampai akhir Juni nanti bersama Espanyol di Liga Spanyol. Jangan sampai terjebak dalam kebanggaan semu, dengan narasi sedemikian rupa agar terkesan hebat dan mengagumkan.

Saya tidak meragukan kualitas teknik dan kapabilitas skill Evan Dimas. Tapi dibandingkan si ‘Messi’ dari Jember, Andik Vermansyah, Evan jelas belum apa-apa. Andik sudah mampu berprestasi di Malaysia dan menjadi pemain bintang di timnya. Tapi pemberitaan prestasi Andik ketutup oleh carut marut persepakbolaan Indonesia yang tidak jelas nasibnya mau dibawa kemana.

Adapun untuk Rio dan pihak-pihak yang bersamanya, apakah gengsi untuk membalap di F1 sudah sedemikian besar, sampai-sampai dana belasan juta euro harus digelontorkan untuk Manor? Tentunya ini tergantung dari pembuktian Rio, apakah mampu berprestasi atau hanya sekadar icip-icip sirkuit balapan F1.

Kalau sekadar numpang balapan belasan seri di F1, orang India dan Malaysia sudah lebih dulu, bung. India bahkan sudah berpikir untuk pergi ke bulan dan menciptakan roket buatan dalam negeri, ketika Indonesia masih sibuk dengan barang haram dan halal.

Karena sekali lagi, negeri kita butuh hasil pasti. Kalau mau membanggakan, kita butuh prestasi, bukan pemberitaan media yang boros dan memakan banyak jatah.

Ada banyak cabang olahraga lain yang kaya prestasi, namun jarang sekali diliput dengan porsi yang pas. Misalnya, prestasi bulutangkis kita yang masih konsisten berada di kelas dunia. Anda tahu kan ganda putra kita, Ahsan/Hendra yang baru saja menjuarai Thailand Masters akhir pekan lalu?

Ini yang sekali lagi suka bikin saya nangis di pojokan kamar, tatkala impian Rio untuk balapan di F1 menjadi lebih penting ketimbang membahas kenapa sepak bola yang dibanggakan rakyat Indonesia hanya segini-gini saja?

Kalau mau jujur, berapa persen dari 250 juta penduduk Indonesia yang rutin menyaksikan balapan F1 dibanding menonton sepak bola? Lagipula, kalaupun mau duduk diam menonton balapan, lebih asyik MotoGP. Aksi overtake­-nya lebih seru dan menantang. Bandingkan dengan balapan jet darat ala F1 di sirkuit jalan raya di Singapura atau Monaco. Itu gimana mau nyalip kalau jalan cuma selebar jalur busway?

Untuk Rio Haryanto dan Kemenpora, karena sudah dapat kursi resmi di F1, jangan lupa berprestasi. Kalau cuma mau balapan dan mengejar gengsi, mending Rio ikut casting main di sinetron ‘Anak Jalanan’ saja. Sama-sama balapan dan adu gengsi ala cabe-cabean, bukan?