Ibu-ibu dalam Pusaran WhatsApp Group

Ibu-ibu dalam Pusaran WhatsApp Group

Ilustrasi (Gerd Altmann/pixabay.com)

Buat ibu-ibu rempong macam saya, keberadaan smartphone sekarang ini adalah anugerah. Pasalnya, saya yang gaptek, yang biasa bertempur dengan ulekan di dapur, jadi masih bisa nggaya.

Misalnya, mantengin segala berita terbaru, termasuk gosip artes skala internasional hingga erte lewat hape. Ndak lagi ngejogrok di depan komputer atau televisi, sementara tahu goreng sudah memanggil minta diangkat dari penggorengan.

Dan, gara-gara smartphone pula, komunikasi ibu-ibu sosialita dengan emak rempong tiada tara macam saya ini, bisa terjalin untuk sekadar haha-hihi.

Mulai bahas PR anak yang kadang bikin emaknya ikut puyeng pegang kalkulator, hingga gebyar acara perpisahan sekolah yang sebenarnya gak penting-penting amat. Karena lebih banyak ngeluarin duitnya ketimbang manfaatnya, eh?

Ya, sudah ghalib bagi ibu-ibu, mempunyai grup-grup di media sosial, semacam WhatsApp Group alias WAG. Biasanya terdiri dari berbagai macam grup. Mulai dari grup arisan erte, erwe, kelurahan, alumni, grup pengajian, grup orangtua dan wali murid, hingga grup jalan-jalan kekinian.

Yang namanya grup, pastilah isinya lebih dari satu orang. Tak jarang bisa berisi 5, 10, 15, 20, hingga bahkan puluhan orang. Rame? Ya pastinya. Kadang-kadang, didiamkan lima menit aja, satu grup bisa berisi ratusan notif belum kebaca.

Lha ini, kadang bikin mata pegel nyekrol satu persatu. Kalau (saya) berasa ndak terlalu penting, biasanya sih simple, centang lalu clear chat aja, hahaha…

Nah, yang namanya emak-emak, segala macam topik pasti dibahas. Mulai dari koin kerokan, masakan keasinan, gosip artis kekinian, hingga suami-suami yang kadang lupa pulang. Ndak jarang, ada yang curhat tentang rumah tangganya biar dapet advice dari emak lainnya.

Kalau ada yang kayak terakhir itu, biar kata lagi pada sibuk pegang sutil di dapur atau lagi nunggu tukang galon yang nggak dateng-dateng, pasti banyak yang mantengin.

Hawong ’panganan’ empuk pergosipan kok dilawan, sudah ndak jamannya emak-emak nggosip di tukang sayur lagi. Demi gosip, jemuran lupa diangkat itu sudah biasa sodara-sodara…

Repotnya, kebayang ndak, kalau ada dua atau tiga WAG emak-emak, terus ada yang curhat tentang rumah tangganya? Itu notif bisa sampai berapa percakapan yang belum kebaca? Lima menit ndak mantengin hape, satu grup yang lagi bahas gosip rumah tangga, bisa ’njebluk’ sampai 300-500 percakapan yang belum dibaca, keren to?

Itu baru satu grup. Kalau dua grup, hitung saja 2×500 berapa? 1.000 sodara-sodara. Itu kalau disusun rapi dijadikan tulisan, saya rasa novel Dilannya Pidi Baiq bisa kalah tebal jadinya.

Yang bikin kesal, kadang-kadang ada yang kasih info penting tentang jadwal try out anak, tapi jadi kegerus dan ketumpuk yang lain. Lha, kita yang sebenarnya ogah ngikutin curhatan, males baca kepoan, mau ndak mau harus nyekrol satu-satu untuk memilih dan memilah mana yang penting dan nggak penting.

Belum lagi, kalau ada yang sibuk pamer selfie di sana-sini setelah ketemuan dengan para anggota grup. Byuh, itu komentar ramainya ngalahin pasar. Gayanya? Weits, anak-anak alay dan ABG kekinian aja sih lewat. Kan udah ndak jamannya, emak-emak kekinian bergaya ala ABG jaman old. Emak-emak sekarang jelas gayanya lebih yahud duong ketimbang ABG-ABG jaman dulu.

Ya mending sih, kalau pamer fotonya sejepret dua jepret. Ini kadang emak A aplot enam jepretan, terus emak B pamer 10 jepretan, belum lagi emak C, D, E, F, G, H, I, dan lainnya. Ya kalau mereka janjian, terus yang ketemu itu dua orang, yang pamer foto satu orang aja. Kadang nih ya, ketemuannya lima orang, yang aplot foto tujuh-delapan orang.

Kok bisa? Ya bisa, hawong yang lain terus aplot dengan kepsen; ”Ini nih mam, aku juga tadi dipamerin foto ini pas mereka ketemuan, bikin gemes ih, pengen ikutan.”

Trus, saya yang tuna ngumpul-ngumpul ini bisa apa, selain bengong sambil ngedumel dalam hati, ”Gak penting bingit sih, kzl sayah, kzl kzl kzl…!”

Itu baru foto njih ibuk-ibuk, bapak-bapak dan sodara-sodara sekalian… Belum video. Iya, video!

Kok bisa? Ya bisa lah, hawong sekarang segala fitur bisa share kemana-mana kok. Mulai dari potongan video lagu-lagu asoy jaman sekarang, thriller film percintaan yang disertai komen-komen asyik masyuk khusyuk gila-gilaan jaman SMP SMP sampai TK, hingga video-video potongan pengajian.

Kalau sudah begitu, biasanya tinggal ngecek lagi, inget-inget jangan sampai ngeklik tanpa sengaja. Ya piye, meski ngeklik ndak pakai sengaja, kuota kan tetep kepotong. Ketimbang kepotong untuk yang ndak penting? Mending buat buka film kartun, terus nonton sama anak-anak sambil kruntelan sebelum tidur, kalau emaknya sudah cape mau bacain cerita.

Sayangnya, ndak hanya foto dan video, tapi juga link-link berita ndak jelas, thread-thread ngawur apalah-apalah yang seringkali dipertanyakan kebenarannya, sering banget di-share sama emak-emak kekinian ini.

Dan, untuk thread-thread semacam itu, justru yang paling banyak beredar dari WAG satu ke WAG lainnya – hampir nggak ada saringannya – adalah berita beneran atau bohongan? Itu asli, hoax, atau fake? Itu fakta atau fitnah belaka?

Namun, yang ada hanya share, share, dan share. Ndak jarang, sudah share secara personal, lalu masih share lagi di grup. Terus jadi bahasan buat bahan obrolan dengan kalimat ngeri-ngeri sedap seolah besok akan kiamat.

Yang paling ngeselin bin nyebelin juga ’nganyelke’, kalau sudah berbagi thread hoax, lalu dikasih bumbu tambahan penyedap rasa curiga dan apriori yang berujung pada ajaran kebencian.

Kalau ditegur atau diingatkan, justru ndak terima. Eh, malah balik ngamuk bin ngomel sama yang negur. Meski negur baik-baik, belum tentu loh mereka mau nerima dengan lapang dada. Ndak sekali berita hoax di-share, lalu saat ditegur bahwa itu berita hoax, justru dijawab; ”Ndak papa si mam, ini kan buat jaga-jaga juga. Jangan sampai kita ngalamin di kemudian hari.”

Lha terus, apa iya, sudah tahu kalau hoax kok masih juga disebarkan? Tujuannya apa to mbokdeee, hawong berita hoax kok ya tetep nekat disebarkan. Bikin semua masyarakat resah gitu biar ngerasa diintimidasi oleh keadaan, hidup di bayang-bayang rasa curiga terhadap sesama?

Sinetron banget sih hidupmu nak, eh.

Terus, yang ngingetin ngeyel juga, dikasihlah link Fact Checker yang bisa dipakai untuk kroscek berbagai macam hal yang berbau hoax atau dikasihlah link yang mengklarifikasi tuduhan-tuduhan hoax tersebut.

Apa itu kepakai? Ndak juga sodara-sodara… Boro-boro diklik terus dibaca, yang ada malah terus di-share. Biasanya tambah ngeyel dan ditambahin pula hoax yang disebar dengan tambahan kalimat-kalimat puitis dari kitab suci, meski sahih tidaknya potongan ayat tersebut hanya si penyebar hoax dan Tuhan yang tahu.

Lalu, ditambah lagi dengan kalimat ”suami saya itu anu lo mam, mosok ya ndak tahu kalau itu hoax”. Yaelah buuukkkk, demi sepiring nasi hangat dan balado teri di kala lapar, iya deh nyerah saya. Mending saya makan ketimbang ngingetin ibunya bahwa nyebar hoax itu ndak baik dan dosa. Iya, dosa, kamu loh!

Di sini, kemudian kepala saya yang sukir alias susah mikir ini, mikir. Itulah balada emak-emak gonjres dengan hape kekinian, dengan aplikasi smartphone terbarukan setiap waktu. Mosok hapenya cuma sibuk buat selfie, lalu aplot di Instagram. Cerita-berita simple dengan kalimat-kalimat tendensius, kok dipercaya begitu saja?

Atau, memang terlalu banyak piknik, hingga saya yang kelebihan puk-puk alias banyak di rumah ini cuma bisa ’ndlongob’ ndak percaya.

Kalau sudah kayak gini, kadang pengen ngremus cabe rawit lima biji dengan tahu aci terus bilang gini, ”Ibuk-ibuk yang cantik jelita cetar tiada tara, mbok ya jangan kalah sama smartphone-nya to, Buk. Mosok gadget canggih bisanya cuma nyebarin hoax doang.”

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN