Menghukum Koruptor dengan Cara yang Unik dan Milenial Banget

Menghukum Koruptor dengan Cara yang Unik dan Milenial Banget

Ilustrasi (weforum.org)

Siapa yang setuju koruptor sebaiknya dihukum mati saja? Saya yakin, mayoritas dari kita yang entah secara diam-diam atau terang-terangan mengamini hal tersebut.

Meskipun wacana itu masih menjadi pro dan kontra yang tak pernah selesai seperti cinta yang digantung, tapi kamu kita tetap memendam rasa. Eh, apa iya orang yang menginginkan hukuman mati masih punya rasa?

Saya sendiri menolak hukuman mati, termasuk untuk para koruptor. Bukan karena Indonesia adalah negara hukum dan hukuman mati itu melanggar HAM, bukan. Lalu, apakah saya antek-antek koruptor? Oh, salah besar.

Alasannya sederhana, karena hidup bisa lebih sengsara ketimbang mati. Catet ya! Hukuman mati itu terlalu mudah untuk mereka yang sudah merampok uang rakyat. Terlalu indah buat mereka yang telah mengorbankan kepentingan orang banyak demi kepentingan pribadi atau golongannya.

Mati itu proses manusiawi yang pasti dialami semua orang. Mempercepat proses kematian tidak serta-merta membuat efek jera. Lagipula, hukuman mati sudah kuno, nggak cocok diterapkan pada era milenial kekinian. Kalau sudah mati, terus apa? Semua dosanya dibawa ke liang lahat, gitu? Lha, kok enak benar?

Kalau saya boleh saran, lebih baik mereka tetap dibiarkan hidup. Tapi diberi hukuman yang unik-unik supaya mereka merasakan bahwa hidup bisa lebih sengsara ketimbang mati.

Berikut ini usulannya…

1. Taman Koruptor

Jangan membayangkan ini seperti taman musik, taman jomblo, atau taman-taman lain seperti yang digagas pak Ridwan Kamil. Taman koruptor semacam tempat dengan petak-petak kaca transparan yang ditata sedemikian rupa agar terlihat indah di mata… publik.

Ya betul, taman ini harus berlokasi di kota layaknya taman kota. Mereka tidak boleh keluar dari kamar serba transparan tersebut. Beri makanan dan minuman selayaknya. Daripada mereka ngekos di Pondok Bambu atau ngontrak di Nusa Kambangan?

Oh ya, jangan lupa tambahkan hiasan dan bunga-bunga untuk memperindah taman. Beri space khusus bagi warga yang ingin memfotonya. Bagaimanapun juga, pada era milenial, upload foto dan memviralkannya di media sosial adalah hak segala bangsa.

Kalau tidak diberi space khusus, bisa berabe. Ingat insiden taman bunga Amarylis di Gunungkidul yang rusak diinjak-injak gegara sekumpulan alay berswafoto alias selfie?

Bagaimana jika itu terjadi di taman koruptor? Bukan apa-apa, repot aja kalau para koruptor bunga-bunga di taman tersebut ikut diinjak-injak warga.

2. Ojek Gratis

Saya tidak bermaksud menyamakan profesi ojek dengan koruptor, oh jangan salah sangka. Tak perlu ayat-ayat suci, semua orang tahu bahwa profesi ojek baik online maupun pangkalan jauh lebih bermartabat daripada koruptor. Sebab, tukang ojek mencari rezeki yang halal.

Tapi ngomong-ngomong, karena mereka mencari rezeki yang halal, tak ada salahnya kita berbagi tip. Tapi kalau ada ojek khusus koruptor, haram hukumnya. Lha, selama ini mereka sudah merampas hak kita, dengan menilep dana APBN atau APBD.

Nah, untuk merealisasikan ojek koruptor, pertama-tama pemerintah harus membuat aplikasi khusus pemesanan. Semua biaya termasuk operasional dibiayai dari dana hasil lelang harta para koruptor.

Layanan online ini gratis, karena memang sebagai bentuk permintaan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Tapi bolehlah kita ‘bayar’ dengan senyuman untuk setiap jasa mengantar. Masa iya senyum aja nggak boleh, lagipula itu ibadah. Malah asyik kan, kita bisa dapat layanan gratis plus pahala.

Masyarakat yang ingin memesan layanan ini harus mendaftar dan mengirimkan data diri terlebih dahulu. Buatkan daftar tunggu, lalu bagikan voucher atau kupon untuk jatah masing-masing orang per bulan atau per tiga bulan.

Layanan ojek ini juga bisa menjadi layanan sosial, misalnya mengantar guru atau anak murid ke sekolah. Bukan apa-apa, biar para koruptor ini bisa melihat langsung hasil karya mereka dalam membangun sarana dan prasarana.

Mereka bisa merasakan betapa serunya melewati jalan yang berkubang dan rusak parah, betapa asyiknya melintasi jembatan penyeberangan karena harus bergelantungan kayak lagi outbound, serta betapa eksotisnya bangunan sekolah yang hanya bilik bambu – tanpa hiasan, tanpa lukisan, beratap jerami, dan beralaskan tanah.

Selain itu, layanan ini bisa dimanfaatkan untuk antar-jemput pasien BPJS yang sudah lanjut usia ke rumah sakit. Agar para koruptor paham bagaimana pelayanan rumah sakit terhadap pasien BPJS, bagaimana mereka harus lama mengantre dengan hati tulus setengah cemas.

Karena itu, para koruptor harus ikut mendampingi sampai tuntas. Bagaimana belajar ketulusan dari orang-orang yang selama ini mereka bohongi. Ingat, setiap servis harus dilakukan dengan hati yang tulus, meskipun hanya dikasih bintang satu pada kolom rating. Sudah pasti dikasih bintang satu sih, eh?

3. Akun Khusus Media Sosial

Ini cara milenial banget. Terlihat asyik dan menyenangkan. Tapi jangan salah, efek hukumannya lebih pada daya rusak psikis para koruptor.

Namun, karena mereka nggak boleh memegang ponsel atau laptop selama masa hukuman, terpaksa harus dibantu buzzer-buzzer admin khusus yang dibiayai dari dana hasil pemiskinan para koruptor.

Admin ini akan mem-posting tayangan langsung video si koruptor berupa pengakuan “saya adalah koruptor yang menyebalkan” atau pengalaman bagaimana dia begitu menderita selama masa hukuman.

Alih-alih meraih simpati, yang ada malah di-bully. Anda tahu kan bagaimana kejamnya netizen kita untuk urusan yang satu itu? Jangan cuma beraninya mem-bully anak SD dan anak berkebutuhan khusus seperti yang terjadi belum lama ini. Situ waras?

Nah, setelah merasa menerima ribuan kalimat yang begitu membekas dari para netizen tercinta, admin meminta si koruptor untuk membacanya satu per satu, sambil merekam aktivitas itu, kemudian mem-posting-nya kembali. Terus saja begitu sampai akhir masa jabatan, eh masa hukuman.

4. Cuci Otak

Kalau hukuman nomor tiga dirasa kurang mempan, ada baiknya dipertimbangkan cara ini. Sebab, dari semua hukuman yang tadi, menurut saya ini hukuman terberat di antara yang berat.

Koruptor yang bergelimang harta jangan ditempatkan di dalam penjara yang kelam, sebaiknya diletakkan di salah satu ruangan serba putih nan terang benderang dan berbau antiseptik.

Anggaplah ini sebagai ritual membersihkan diri dengan cara mencuci otak para koruptor supaya pikirannya nggak ngeres melulu. Program cuci otak ini dimulai dari menulis ulang semua kesalahannya setiap hari. Lalu, menghapus dan menulis lagi, lagi, dan lagi hingga hafal di luar kepala.

Kemudian, perlihatkan sebuah monitor yang memunculkan tulisan tangannya diselingi dengan kemungkinan apa saja yang terjadi oleh perbuatan dan tindakannya yang terkutuk itu. Pastikan dia menonton siaran tersebut berulang kali. Seperti pelajaran, lancar itu karena dikaji.

Setelah menerima semua perbuatan dan segala dosa, biarkan dia berkontemplasi. Menyendiri dalam sunyi. Pastikan tak ada bunyi apapun selain detak jantung dan desahan helaan nafasnya. Syukur-syukur setelah melewati proses ini mereka bisa menjadi orang yang lebih baik. Kalau tidak?

Begini, seperti yang saya katakan sebelumnya, cara ini terbilang ekstrem. Ini bisa menimbulkan efek samping yang luar biasa. Maka, baca aturan pakai. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter. Lho?

Maksud saya, bagi mereka yang nggak kuat menjalani hukuman ini, yang ada bukan malah jadi bener, tapi berisiko gila. Masa kita rela melihat itu terjadi pada diri seorang koruptor? Nggak kan?

Cukup sudah kegilaan yang mereka pertontonkan ketika menggasak uang rakyat selama ini. Jangan ada kegilaan-kegilaan baru. Pliss...

Ya walaupun ranjang-ranjang di RS jiwa masih banyak yang belum ternoda dan siap menerima mereka dengan 1.000 pintu terbuka. Mungkin untuk uji coba obat terbaru atau bullying tipe paling mutakhir.

Saya yakin hukuman-hukuman ini layak dipertimbangkan daripada menghukum mati dengan cara menembaknya ataupun cabut kuku. Sebab slogan “hidup segan, mati tak mau” itu sungguh menyebalkan. Absurd, memang.

Seperti yang dikatakan Albert Camus, hidup ini absurd, karena kita tetap akan berhadapan dengan kematian. Mempercepat kematian berarti melepas hal-hal yang absurd secepat mungkin.

Rasanya banal sekali kalau kita mendukung percepatan itu, terutama bagi kalangan yang sudah berperilaku di luar kewarasan, seperti koruptor. Biar mereka merasakan dulu bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah sia-sia.

Karena itu, para koruptor tak layak dihukum mati, lebih baik menghukum mereka dengan cara yang seru dan mengejutkan. Toh, seperti kata Camus tadi, kita pasti akan berhadapan dengan kematian. Dan, seperti anak-anak alay milenial katakan, “Hidup ini hanya seru-seruan!”