Hujan di Antara Elegi dan Narasi tentang Malaikat

Hujan di Antara Elegi dan Narasi tentang Malaikat

tcha-mn.com

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Bait-bait puisi Sapardi Djoko Damono tentang hujan itu seolah mengekalkan keindahan hujan.

Lalu menyempurnakan kepingan kesempurnaan hujan dengan narasi tentang malaikat yang turun bersamanya. Hujan yang membawa rahmat kepada semesta alam. Menyuburkan tanah dan membuat anak-anak tertawa.

Mereka yang mendaku pecinta hujan akan memandang hujan sesempurna dan sesuci itu. Bahwa hujan juga sangat lekat dengan rezeki. Mungkin itu alasan mengapa Tuhan menciptakan Mikail, malaikat yang mendapat tugas mengatur hujan sekaligus rezeki.

Pada sisi lain, hujan membawa kesan dramatis. Tiba-tiba orang mendadak bijak. Tapi, kalau memodifikasi lirik lagunya Melly Goeslaw berjudul ‘Bimbang’, kata orang hujan itu indah, namun sungguh ini menyiksa. Layaknya perasaan rindu.

Semua orang selalu suka elegi, namun kisah di balik elegi selalu ingin dihindari. Orang-orang menyukai kisah mendayu-dayunya Kahlil Gibran, tapi menolak untuk menghadapi merana seumur hidup selayaknya penyair tersebut. Dan tentang hujan, banyak orang yang menyukainya, namun ketika hujan datang mereka terkadang kesal dan gusar.

Cholil Mahmud dan kawan-kawan di Pandai Besi pernah menulis lagu berjudul ‘Hujan Jangan Marah’. Lagu ini kemudian bercerita tentang kemarau panjang yang didefinisikan Pandai Besi sebagai kemarahan dari hujan. Namun, para personel Pandai Besi, yang juga personel Efek Rumah Kaca, menyanyikan nada-nada bahagia tentang “Aku selalu bahagia sehabis hujan di bulan Desember”.

Keduanya menggambarkan yang sebenarnya bahwa betapa rancunya hujan itu sendiri. Pada satu sisi hujan diharapkan datang, pada sisi lain hujan baru dianggap memberikan kebahagiaan setelah ia reda.

Satu yang bisa disimpulkan: kemarahan hujan tak hanya soal kemarau kering yang melanda bumi, namun amukan air-air dari langit itu juga akan ditanggapi dengan amarah oleh manusia di kolong bumi. Bahkan hujan bisa sama seramnya dengan kemarau itu sendiri.

Marah karena segala rencana yang sudah rapi dan segala siasat yang telah dibuat gagal begitu saja tanpa bisa melawan. Lalu menghitung waktu yang terbuang sembari berpikir kapan hujan reda.

Kalau kebetulan anda lagi sibuk-sibuknya terlibat di kepanitiaan acara yang kebetulan diselenggarakan di outdoor, biasanya akan ada alokasi dana Rp 1-2 juta untuk payung teduh pawang hujan. Itupun tidak menjamin 100% hujan takkan datang. Anda pasti pernah dengar acara konser atau kawinan benar-benar menjadi garing akibat hujan.

Hujan memang pandai mengerjai. Pada suatu masa, saya dan mungkin anda juga, pernah ingin pergi ke suatu tempat menggunakan sepeda motor. Terutama anda yang pacaran atau punya gebetan. Lalu bagaimana perasaan anda ketika di tengah jalan diguyur hujan lebat?

Saya pernah menunggu, menunggu, dan menunggu. Jarum-jarum di jam tangan saya seolah berjalan merangkak: pelan dan terasa lama. Saya mulai gusar, karena tak ingin ditunggu lama oleh orang di sana, namun tetap harus menunggu hujan reda.

Kemudian hujan pun reda. Sialnya, hanya sesaat. Ia membawa teman-temannya yang lebih ramai kali ini. Membuat motor saya basah kuyup, beserta saya di atasnya. Kadung basah, kemudian saya bertekad untuk menerobos. Jaket tak mampu menahan. Celana basah hingga sampai celana dalam. Muka pucat dan rambut sudah pasti kucel dalam helm.

Lalu saat sudah dekat dengan tujuan, saya lihat semuanya kering. Orang yang hendak bertemu dengan saya hanya bisa melongo penuh keheranan. Dan, saya benar-benar merasa bodoh, karena sudah dikerjai oleh hujan.

Jika kebetulan anda adalah walikota (dan warga kota) daerah yang rawan banjir, hujan adalah hal yang menyebalkan yang harus dihadapi. Di Bandung misalnya, anda bisa saksikan bagaimana repotnya Ridwan Kamil mencegah banjir. Ia telah membuat inovasi yang luar biasa: membuat tol air.

Proyeksinya adalah untuk membuat daerah Gede Bage dan daerah Bandung Timur yang rawan banjir bandang itu tak banjir lagi. Sekali dua kali hujan memang aman, lalu tiba-tiba daerah lainnya yang malah banjir. Banjir kemudian menyambut para pendatang di pintu gerbang kedatangan: di daerah Setiabudi, tepatnya dekat dengan pintu keluar tol Pasteur.

Banjir yang datang sangat besar, sehingga tak lagi terasa seperti banjir, namun seperti arus sungai yang deras. Jalan-jalan hilang tak berbekas, mobil hanyut, kota terasa seperti film ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’, dan film-film yang menarasikan air bah sebagai tanda kiamat.

Yang bikin seram, tol air di Gede Bage juga tak mampu menampung air. Walhi mendebat karena daerah resapan air di Bandung berkurang drastis. Pun Ridwan Kamil membela diri karena sudah berupaya semaksimal mungkin. Di antara itu, ada warga Bandung, yang juga pusing dan sama-sama berang dengan hujan. Semua pihak sempoyongan karena hujan.

Dengan narasi-narasi semacam ini, saya kemudian ingin bertanya, “Ah, benarkah hujan itu indah?” Bahkan mereka yang mendaku pecinta hujan sekalipun, kalau hujan sudah datang, bukannya berlari dan memeluk hujan. Mereka seringkali malah berselimut di kasur atau malah meneguk secangkir kopi sambil memerhatikan cinta-cinta mereka bertepuk sebelah tangan.

Mereka sudi menyaksikan cinta mereka sendiri terus turun dari langit tanpa sempat ingin memeluk mereka. Mereka tak ingin keluar. Karena takut basah, takut demam, takut flu, dan ketakutan lainnya. Orang-orang seperti para pecinta hujan ini jelas bukan merupakan pasangan yang baik. Masa iya, orang ingin mencinta tapi enggan menderita? Ngana pikir saja sendiri…