Hompimpa Alaium Gambreng!

Hompimpa Alaium Gambreng!

Dok Pri Pak Raden (Facebook)

Drs Suyadi atau dikenal dengan Pak Raden, pencipta boneka legendaris Si Unyil, meninggalkan kita pada 30 Oktober 2015 pada usia 82 tahun. Pak Raden sudah lama menderita sakit infeksi paru-paru.

Pendongeng ulung jebolan seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu wafat meninggalkan karya monumentalnya, Si Unyil. Sebelum tutup usia, Pak Raden harus berjuang memenuhi segala tetek bengek kebutuhan ekonominya dan ‘menagih’ royalti ke PPFN. Tapi Pak Raden tak pernah mengeluh.

Selain Si Unyil, sesungguhnya Pak Raden juga meninggalkan banyak sekali hal yang secara tak langsung memengaruhi kehidupan kita. Ini beberapa warisan beliau selain boneka Si Unyil.

1. Hompimpa Alaium Gambreng!

Hompimpa alaium gambreng! Unyil kucing! Begitu teriak karakter boneka serial Si Unyil saat mereka bermain di tengah kampung. Si Unyil bersama temen-temennya, Cuplis, Usro, Meilani, dan Ucrit menjulurkan telapak tangan mereka secara bersama-sama, lalu digoyang-goyangkan sambil mengucap hompimpa alaium gambreng.

Pada suku kata terakhir, mereka harus menunjukkan telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas. Ini merupakan cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dalam bermain.

Tapi memang, mungkin saja hompimpa alaium gambreng ini sudah dikenal sebelum ada tayangan boneka Si Unyil di TVRI pada 1981 hingga 1993 itu. Tapi, siapa yang bisa menyangkal, berkat Si Unyil hompimpa alaium gambreng lebih populer dikenal.

Ternyata, dalam acara Kick Andy, hompimpa alaium gambreng pernah dibahas. Arti kalimat itu adalah ‘Dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari bermain!”

2. Cepek Dulu Dong!

Pak Ogah selalu meminta duit kepada orang-orang yang lewat di pos kamling tempat dia nongkrong. Saat ada karakter boneka lain yang menanyakan sesuatu, karakter boneka yang memiliki ciri khas kepala plontos itu pasti berucap “Cepek dulu dong!”

Pak Ogah adalah gambaran pemuda desa yang malas dan lebih ingin hidup serba instan tanpa kerja keras. Saat ini, Pak Ogah menjadi sebuah istilah untuk menyebut profesi “pengatur lalu lintas” yang biasanya juga anak muda di pertigaan jalan, perempatan jalan, tikungan, atau lampu merah.

Beberapa karakter tokoh dalam film Si Unyil
Beberapa karakter tokoh dalam film Si Unyil

3. Bo Abo!

Bu Bariah selalu meletakkan rujak dagangannya di kepala. Dengan logat Maduranya yang khas, setiap karakter boneka yang dia temui selalu ditawari rujaknya. “Jak…rujak…” Lalu, sebelum menegur karakter boneka lainnya, Bu Bariah selalu berujar, “Bo abo…”

Karena kata-kata itu, dulu anak-anak kecil selalu meledek ibu-ibu yang berjualan dengan berucap bo abo…bo abo. Padahal saya juga nggak ngerti artinya sampe sekarang.

4. Meilani

Dari sekian banyak karakter boneka Si Unyil, ada satu karakter yang unik. Namanya Meilani. Berbeda dengan karakter lainnya, karakter bocah perempuan ini memiliki mata sipit dan rambut dikepang. Dia mewakili karakter keturunan Tionghoa.

Pak Raden sungguh luar biasa. Dia ‘menyusupi’ keragaman bangsa dan budaya yang ada di negeri ini dalam satu cerita Si Unyil. Di Indonesia, setelah Si Unyil ‘tamat’ pada 1993, lima tahun kemudian etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa.

Nah, bukankah Pak Raden sudah mengingatkan, bangsa kita juga ada lho keturunan Tionghoa yang menjadi bagian dari kehidupan kita.

5. Busana Tradisional

Dari awal kemunculannya, Pak Raden tetap konsisten menggunakan busana tradisional Jawa: beskap dan kain jarik, selop, blangkon, tongkat, dan kumis tebal. Gaya berpakaian itu tak bisa lepas sejak Si Unyil hadir di layar kaca pada 1981 hingga akhir hayatnya.

Pak Raden, meninggalkan sebuah pelajaran berharga, pakaian menentukan karakter diri sendiri. Zaman terus berubah, tapi Pak Raden konsisten dengan kostum itu.

Secara tak langsung, Pak Raden menjadi penjaga warisan budaya Nusantara. Tak hanya disajikan melalui kisah boneka Si Unyil dan berbagai dongengnya, namun juga dia sampaikan melalui cara berpakaiannya.

6. Dunia Anak

Tahun lalu saya berkunjung ke kediamannya di Jalan Petamburan III, Jakarta, untuk meliput kesepakatan baru antara Pak Raden dengan PPFN. Ada satu pernyataan yang membuat hati saya tiba-tiba deg-degan. “Tersiksanya kamu harus menghadapi sebuah instansi yang bukan musuh. Dan, selama waktu berlalu bertahun-tahun anak-anak dikasih apa?”

Saat dia sedang kesusahan secara ekonomi, anak-anak masih dipikirkannya. Pak Raden memang sosok yang sangat mencintai anak-anak.

Untuk anak-anak lah, dia mendongeng dan membuat boneka Si Unyil. Dia juga sedih melihat perkembangan anak-anak masa kini yang bacaan dan dandanannya tak sesuai dengan usianya.

Hompimpa alaium gambreng… Dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari bermain!