Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Ilustrasi (Photo by Sam Manns on Unsplash)

Saat remaja, ribuan kali saya terpapar iklan produk kecantikan yang menunjukkan sosok perempuan yang sulit mendapat pacar atau diabaikan pasangan.

Lalu, sesudah menggunakan produk tertentu, yang pada umumnya menjual efek memutihkan, mereka menjadi lebih disenangi lawan jenis dan dipedulikan pasangan. Saya sampai sering berkecil hati dan terobsesi ingin putih supaya cantik.

Apalagi, tak hanya dalam iklan, kebanyakan program di media juga lebih mengelu-elukan mereka yang langsing dan putih. Kalaupun ada yang gemuk, berkulit cokelat, dan berhidung pesek, biasanya cuma dijadikan bulan-bulanan atau bahan lelucon di reality show.

Mereka jarang sekali menjadi pemeran utama dalam sinetron, tidak menjadi model yang diidamkan dalam iklan, dan bukan gambaran ideal perempuan.

Tante kesayangan adalah salah satu yang tak berhasil melarikan diri dari kubangan iklan dan representasi semacam ini. Sejak SMA, hingga dua dekade kemudian, dia masih memiliki produk pemutih yang sama di meja riasnya. Dia percaya, berkulit putih akan membuatnya semakin cantik.

Tante saya cuma salah satu dari jutaan orang Asia yang secara akumulatif menghabiskan dana US$ 18 juta atau sekitar Rp 240 miliar setiap tahun agar terlihat lebih putih.

Persoalan representasi kulit putih dan merajalelanya produk pemutih bukan hanya persoalan di Indonesia saja. Masyarakat Asia dan Pasifik terkenal sangat mengidolakan kulit putih dan produk pemutih. Saking begitu mengidolakannya, produk yang sebetulnya tidak memiliki fitur memutihkan pun menganggap penting untuk memberikan representasi seolah-olah pengguna akan berkulit lebih cerah sesudah menggunakan produk tersebut.

Dalam perkembangannya, industri bahkan memanfaatkan obsesi ini untuk mempromosikan produk-produk untuk memutihkan wilayah yang lebih khusus seperti vagina dan ketiak.

Urusan ketiak ini sempat membuat saya jengkel, saking gencarnya produsen berjualan deodoran dengan pemutih, sulit sekali mencari deodoran generik tanpa pemutih di minimarket atau supermarket umum di Bangkok dan Phnom Penh.

Seperti halnya Indonesia, Filipina dan India juga memiliki masalah yang sama. Bagaimana bisa negara dengan mayoritas penduduk berkulit cokelat lebih banyak memiliki representasi kulit putih di medianya?

Ada tiga jawaban klasik, pertama, negara bekas jajahan sering kali belum tuntas mendefinisi ulang kecantikan. Sebab itu, definisi cantik tetap lengket dengan idealnya kecantikan ala Eropa.

Hal ini juga dikenal dengan mimikri kolonial, tidak harus persis sama, tapi ya mirip-mirip. Sebab itu, gadis Indonesia berkulit terang lebih sering jadi ikon Indonesia daripada gadis berkulit sawo matang atau berkulit hitam.

Persoalan kedua, yang juga jamak ditemukan di Eropa, adalah masalah kelas. Kulih berwarna gelap kerap diidentikkan dengan pekerja luar ruangan seperti petani.

Sebab itu, kulit gelap kemudian diidentikkan dengan pekerja kasar. Sehingga mereka yang hendak menunjukkan kelas sosial tertentu akan menghindari paparan sinar matahari agar tidak memiliki kulit gelap.

Terakhir, namun tak kalah penting, adalah dominasi tafsir oleh kelompok dominan di masyarakat tentang bagaimana perempuan seharusnya tampil dan bersikap.

Tafsir-tafsir ini diserap oleh media, lalu direproduksi massal agar menonjolkan representasi-representasi yang dianggap sesuai. Dalam hal ini adalah representasi putih sebagai warna kulit ideal.

Ketika representasi manusia ideal melulu ditampilkan dalam kulit putih, anak dan remaja yang tidak berkulit putih akan tumbuh dalam ketidakpercayaan diri. Kurangnya atau bahkan ketiadaan representasi kulit berwarna di media massa membuat anak yang merasa berbeda akan tumbuh minder.

Dalam jangka panjang, anak dan remaja yang terpapar televisi namun tidak memiliki representasi yang pas terhadap diri mereka, cenderung beranggapan buruk terhadap diri mereka sendiri.

Apalagi wacana mengenai idealisme kulit putih ini tidak dibarengi dengan penafsiran lain bahwa kulit gelap juga cantik dan baik-baik saja. Juga tiada referensi bahwa kulit cokelat juga dapat dicintai dan dihargai sebagaimana tokoh berkulit putih.

Sebab itu, representasi yang seimbang dari selebritas seperti Anggun C Sasmi, Ade Juwita (RIP), Happy Salma, Okky Lukman, Eva Celia, Omas, Prisia Nasution, Tika Panggabean, Tara Basro, Yati Pesek, atau Dorce Gamalama semakin penting.

Semakin banyak eksposur terhadap tipikal yang berbeda, semakin mudah pula publik menerima dan memahami bahwa yang ideal bukan hanya sekadar putih dan langsing.

Dengan mengatakan kepada anak dan remaja bahwa memiliki kulit hitam adalah juga cantik dan tidak salah, kita sedang menciptakan generasi yang lebih percaya diri dan tidak rapuh dalam menerima perbedaan.

Lalu, apakah menjadi putih itu salah?

Pada 2014, Dencia, seorang pemusik pop asal Nigeria membela hak untuk menjadi putih. Katanya, hal tersebut adalah pilihan personal. Kita tentu harus menghormati pilihan sadar seseorang terhadap tubuhnya. Siapapun berhak memilih mau menjadi putih atau menjadi hitam.

Persoalannya, apakah pilihan tersebut adalah pilihan sadar dan personal, jika setiap saat kita digempur wacana dan pengkondisian sosial bahwa berkulit hitam adalah buruk?

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN