Hikayat Berbisnis Ala Nyonya Tua dan Paul Pogba

Hikayat Berbisnis Ala Nyonya Tua dan Paul Pogba

fotocommunity.it

Penantian beratus-ratus purnama publik Manchester United (MU) terhadap Pogba akhirnya terjawab juga. Bak film AADC2, Pogba adalah Rangga yang kembali pulang dalam kondisi matang dan mapan untuk menemui cinta lamanya.

Saat masih berusia 18 tahun dan beberapa kali merasakan mimpi basah tentunya, Pogba harus hijrah dari Manchester ke Juventus, Italia. Tak ada biaya transfer ketika itu. Tapi kini, pada usia 23 tahun, pesepakbola asal Prancis itu kembali ke Manchester, dengan status pemain termahal di dunia.

Pria bernama lengkap Paul Labile Pogba dibanderol dengan biaya transfer sebesar 105 juta euro atau sekitar Rp 1,5 triliun. Harga tersebut melampaui Gareth Bale, pemain termahal di dunia sebelumnya. Bale yang jelas lebih rupawan dari Pogba dihargai 101 juta euro, ketika pindah dari Totenham Hotspurs ke Real Madrid pada musim 2013-2014.

Tentu saja ada kebanggaan di dalam diri Pogba. Masih muda tapi sudah beken dan kaya raya. Bukan dengan cara mengunggah video mewek terngehek-ngehek, melainkan dengan bakat luar biasa. Pacarnya pun sangat cantik bak model, yang tentunya aw-aw banget.

Di sisi lain, kubu Manchester United pun girang jemawa. Di rumah merahnya, mereka akan mendapatkan servis Pogba yang punya fisik kuat, berteknik tinggi, dan bisa main dengan beragam posisi sebagai koordinator lapangan tengah. Apalagi MU sekarang ditukangi manajer anyar yang juga tak kalah tebar pesona, Jose Mourinho.

Tentu ekspektasi tinggi dialamatkan kepada Pogba supaya bisa memberikan kepuasan maksimal. Minimal merebut tahta juara Liga Inggris dari tangan Leicester City, yang baru-baru ini kebetulan takluk 1-2 dari Manchester United di ajang Community Shield.

Sebelumnya, pada perhelatan akbar Piala Eropa, pria yang suka gonta-ganti gaya rambut ini membawa negaranya, Prancis, menempati posisi runner-up. Sebuah hasil yang memalukan sebenarnya. Berstatus tuan rumah dengan serangkaian hasil memuaskan sejak babak penyisihan grup, tapi malah kalah 0-1 di partai final dari tim non-unggulan, Portugal.

Meski begitu, Pogba tetap percaya diri dan ‘promo’ di pasaran. Sebab, hidup adalah keberanian untuk pasang muka tebal, meski harus rela di-bully. Apalah arti cuitan netizen nyinyir di media sosial dibanding uang, pamor, dan keglamoran. Tapi Pogba sendiri mengatakan bahwa kembalinya ke Manchester sesuai dengan harapan sang ibu. Fix, bikin baper. Puk… Puk…

Lalu, kira-kira bagaimana dengan Juventus soal kepergian sang gelandang transformatif itu? Jika jawabannya adalah sedih karena harus kehilangan anggota klub, ya bisa dimaklumi. Sebab, Pogba memang luar biasa bagi “La Vecchia Signora” atau si “Nyonya Tua”. Sejak pertama kali bergabung, ia telah memenangi 4 scudetto, 2 Coppa Italia, dan 2 Supercoppa Italiana. Belum lagi gelar pribadi, salah satunya tukang assist terbanyak di seri A musim 2015-2016.

Jadi, kalau logika kesedihan Juventus pakai argumentasi tersebut, kita semestinya mafhum. Bila perlu turut berbelasungkawa dengan mengirimkan karangan bunga ke kota Turin. Tapi nggak perlu juga pasang bendera Juventus setengah tiang, keleus…

Bisa saja yang terjadi di balik itu semua justru sebuah kebahagiaan bagi kubu Juve. Mungkin para petinggi klub sedang tertawa terbahak-bahak ala nyonya tua yang lagi megang duit sambil kipas-kipas. Lengkap dengan seloyang pizza, pasta, bir, dan wine. Bagaimana tidak, si “Nyonya Tua” menang banyak. Mendapatkan Pogba dengan bebas transfer, lalu menjualnya dengan harga termahal.

Apalah arti seorang Paul Pogba dibandingkan loyalitas legiun para ksatria Juve asli Italia, semisal Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, atau Andrea Barzagli. Lagipula tak ada jaminan Pogba bisa kembali tampil gemilang bersama Juve seperti musim-musim sebelumnya. Bagaimana kalau anak ini baper, lalu performanya berantakan. Bisa-bisa harga jualnya turun.

Bagi Juve, mungkin ini adalah momentum emas untuk menjual Pogba ke “Setan Merah”. Juve pun melempar umpan penawaran dengan harga meroket yang nyaris membelah tata surya. Lalu mereka mengundang sejumlah pihak untuk bernegosiasi. Real Madrid sempat ikut nimbrung. Tapi, karena harganya dinilai terlalu mahal dan ada embel-embelnya, semisal tukar tambah pemain, Madrid yang kaya raya itu memilih mundur.

Syukurnya, umpan itu dimakan oleh sebuah tim yang beberapa tahun ini lagi krisis prestasi. MU rela membayar Pogba sesuai tawaran yang diajukan Juve. Belum lagi bayaran untuk gajinya yang juga sangat tinggi. Dengan demikian, jumlah uang yang begitu besar bisa dipakai kubu Juve untuk membenahi internal tim supaya bisa meraup sejumlah trofi yang lebih prestisius.

Juventus mungkin bahagia dan Pogba juga lebih tenang di Manchester. Bisa jadi sekarang Pogba sedang melirik-lirik baju baru atau masuk salon ngurusin gaya rambut. Pada akhirnya, tidak ada yang harus merasa kesal atau kecewa atas kepergiaan seorang Paul Pogba, termasuk para Juventini di mana pun berada. Bukankah sepak bola pada era kontemporer ini adalah bisnis, seperti dikatakan mantan presiden FIFA Sepp Blatter yang bermasalah itu?

Dan, logika bisnis adalah keuntungan. Maka sampai di sini, saya yakin Juventus telah sukses menciptakan sebuah keuntungan besar, yang belum tentu terjadi lagi dalam beratus-ratus purnama. Si “Nyonya Tua” mampu menjual salah seorang pemainnya dengan harga supermahal, meski sang pemain sebenarnya belum menunjukkan prestasi yang mentereng-mentereng amat.

Perlu diketahui, agen Pogba, yakni Mino Raiola, adalah seorang Italia. Pasti beliau sudah sering menonton film Julius Caesar ataupun The Godfather. Dua film yang tak hanya gerundelan kisah fiktif semata. Dua film tentang keberanian, risiko, negosiasi, dan tentu saja ‘perjudian’.

Ya setidaknya, bar-bar di sudut kota Turin bisa didatangi para petinggi klub untuk syukuran sambil ngobrol ngalor ngidul ala-ala serius. Sebab di Italia, bar bukan hanya tempat untuk minum bir semata, melainkan juga untuk mengobral berbagai jenis perbincangan penting. Soal sepak bola, politik, ekonomi, bahkan seputar dunia mafia, sesuatu yang sangat khas dalam kehidupan di ‘Negeri Pizza’. Dan, bisa jadi keputusan negosiasi si Paul Pogba bermula dari hasil bincang-bincang selow di bar.

Tapi semua itu sudah terjadi. Tinta kesepakatan sudah dibubuhkan. Boleh jadi Juventus ini adalah representasi hebatnya orang-orang Italia yang jago berbisnis dan lihai bernegosiasi. Nekat dan berani mengambil risiko. Dan, tentu saja tak segan melakukan ‘perjudian’. Lantas pertanyaan yang lebih mendalam adalah: apakah si “Nyonya Tua” benar-benar punya sejurus taktik bernegosiasi atau memang Manchester United saja yang sedang ingin menghambur-hamburkan uang?

Ya sudahlah, si deep-lying playmaker telah berada di rumah lamanya. Tentu saja dia sudah tahu apa yang harus dilakukan di rumah merah itu. Liga Primer Inggris selalu punya sensasi tersendiri. Yang datang sebagai pahlawan, bisa saja pulang sebagai mantan yang tak dikenang.

  • Kevin91

    Baca artikel ini langsung berimajinasi kayak film2 ala Italiano. Nice..!

  • X Nemo

    Keren nih bang elvan merangkai katanya…