Hidup Manusia yang Kadang Tak Lebih Baik dari Owa Jawa

Hidup Manusia yang Kadang Tak Lebih Baik dari Owa Jawa

wowshack.com

Ada yang pernah bilang begini pada suatu hari. “Manusia yang nggak bertanggung jawab sama keluarganya, apalagi suka kawin sana-sini, nggak bisa dibilang manusia. Mereka sama saja dengan binatang!”

Tiba-tiba saya teringat pada binatang bernama Owa Jawa atau Hylobates moloch. Jenis kera langka yang satu ini tersebar di Pulau Jawa. Mereka justru jauh dari gaya hidup kawin sana-sini. Mereka bersetia pada satu pasangan, bahkan tidak akan kawin lagi, meski salah satu dari mereka mati lebih dahulu.

Anak mereka juga tidak pernah terlalu banyak, hanya sekitar dua sampai tiga ekor saja. Sang ayah adalah sosok yang tegas sekaligus melindungi, sementara ibu adalah sumber kelembutan dan kasih sayang.

Anak-anak hidup seperti saudara pada umumnya. Mereka bermain, bercanda, dan bertengkar kecil sekali-sekali. Tanpa hukum tertulis dan pendidikan etika, mereka memegang teguh nilai-nilai keluarga dengan sendirinya.

Saya pernah berkunjung ke Desa Citalahab, Sukabumi, Jawa Barat. Owa Jawa yang populasinya tinggal 1.000-2.000 ekor saja, hidup cukup damai di wilayah itu.

Dari pak Ade Suryadi, penduduk setempat yang juga banyak membantu para peneliti Owa Jawa, saya mendengar banyak kisah tentang keseharian monyet-monyet berwajah hitam tersebut.

Kisah-kisah itu saya rangkai menjadi cerita pendek. Dan, sebagai penutup Tahun Monyet Api, cerita ini saya persembahkan untuk teman-teman sekalian…

***

Kang Owa berayun galau dari satu ranting ke ranting lainnya. Diam-diam, ia mengamati ayah, ibu, dan adik-adiknya yang sedang berkumpul tak jauh dari tempatnya bergelayut.

Kang Owa ingin kembali bergabung bersama mereka. Ia ingin mengganggu adik-adiknya. Ingin bergelantungan tentram di dekat ibu. Bahkan rindu dimarahi ayah.

Tapi Kang Owa tahu diri. Usianya sudah hampir 10 tahun dan sang ayah sudah menyuruhnya hidup mandiri. Seperti Owa Jawa lainnya, sudah saatnya ia membangun keluarga sendiri.

“Harusnya kamu sudah pergi sejak dua tahun yang lalu! Owa Jawa muda yang lain pergi sejak umur delapan tahun!” tegas Ayah Owa Jawa ketika mengusir Kang Owa.

“Kan batasnya umur 10, ayah. Boleh, tidak, aku tinggal di sini sampai ulang tahun? Sampai beberapa bulan lagiiii saja.” Kang Owa mencoba menawar.

“Tidak bisa! Masa toleransi yang ayah berikan sudah terlalu panjang!”

“Tapi, ayah, banyak manusia yang masih tinggal dengan orangtuanya sampai jauh lebih tua daripada aku. Bahkan setelah punya keluarga sendiri, ada juga yang masih tinggal dengan orangtuanya.” Kang Owa mencoba memberi argumen.

“Kamu mau menyama-nyamakan diri dengan manusia? Jangan bikin malu ayah! Pokoknya ayah tidak mau tahu! Hari ini juga kamu harus pergi dari sini!”

Kang Owa duduk di pohon sambil memegang kepala. Berat rasanya membayangkan bertanggung jawab dan hidup mandiri.

Ibu Owa cukup mengerti perasaan Kang Owa. Namun, ia tahu aturan harus dijalankan. Ia pun mendekat dan berbisik di telinga anak sulungnya sambil mengusap-usap lengannya yang berbulu.

“Pergilah, Kang. Kalau masih belum benar-benar sanggup sendirian, kamu boleh bergelayutan di sekitar kami. Tapi ingat, sekadar bergelayutan. Mulai hari ini kamu harus mengurus hidupmu sendiri.”

Kata-kata Ibu Owa membuat Kang Owa merasa sedikit lebih tenang. Walaupun berat, akhirnya ia bergerak menjauhi keluarganya.

Ayah Owa menitipkan ketegaran dan harga diri. Ibu Owa menitipkan kasih sayang dan ketentraman. Sementara kedua adik Kang Owa menitipkan ingatan-ingatan baik yang akan selamanya dikenang Kang Owa.

BRAKKK!

Tiba-tiba lamunan Kang Owa buyar. Seekor ayam hutan hijau menabraknya dan jatuh tersangkut di daun-daun pohon. Ketika Kang Owa datang untuk menolong, ayam hutan itu malah menatapnya tajam.

“Kamu Owa Jawa ya?”

“Iy… iya. Kenapa memangnya?” Kang Owa balik bertanya.

“Kamu sendirian?” tanya Si Ayam lagi.

Kang Owa menunduk sedih. Teringat pada keluarganya yang pasti sedang berkumpul.

“Kamu tahu, nggak? Tadi saya bertemu dan mengobrol dengan Owa Jawa betina yang cantik. Dia juga sendirian.”

Kang Owa mengangkat wajahnya dan mulai menyimak penuh minat.

“Ibu Si Owa dibunuh manusia ketika Owa itu masih bayi. Sementara Si Owa sendiri ditangkap dan dikerangkeng. Kamu tahu? Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang membuat Owa-owa seperti kalian terancam punah.”

“Owa betina itu nggak apa-apa, Yam?” tanya Kang Owa khawatir.

“Nggak apa-apa. Untungnya kemudian ada sekelompok manusia baik hati yang menyelamatkan Owa betina itu. Pelan-pelan mereka mengajarinya kembali hidup di habitatnya, di hutan ini,” papar Si Ayam.

“Di mana Owa betina itu sekarang?” tanya Kang Owa.

“Itu di sana. Kira-kira dua pohon dari sini…”

Kang Owa langsung bergerak tangkas meraih sulur.

“Hei! Saya bagaimana? Nggak tolong saya dulu?” tanya ayam hutan yang masih tersangkut di dedaunan pohon.

“Terima kasih informasinya.” Cuma itu tanggapan Kang Owa.

Ayam hutan misuh-misuh, tapi Kang Owa sudah tidak memperhatikan.

Baru kali itu Kang Owa bergerak ke arah yang berlawanan dengan keluarganya. Ia memekik mencari jodohnya. Betapa girangnya Kang Owa ketika panggilannya menuai respon.

Esok Kang Owa siap memulai bab baru dalam hidupnya. Ia siap menjadi Owa Jawa dewasa yang mandiri. Ia siap meneruskan kelestarian trahnya, berkomitmen pada satu betina, dan menjaga keluarga sebaik-baiknya.

Pada akhirnya, semua Owa Jawa yang mencapai usia dewasa akan sampai kepada fase ini. Jika tak sanggup memegangnya dengan teguh, mereka akan dianggap seperti manusia yang lebih mudah kawin sana-sini dan tak selalu bertanggung jawab terhadap keluarga.

Untungnya, natur membuat Owa Jawa tak mungkin gagal memelihara nilai-nilai keluarga. Mereka tak butuh buaian kata-kata indah layaknya motivator ulung, apalagi program revolusi mental.

Sementara itu, ayam hutan hijau sudah berhasil membebaskan diri. Bagaimana caranya dan siapa yang akhirnya membantu tidak terlalu penting. Yang jelas, ia siap berkokok sekuat-kuatnya saat mentari terbit nanti.

Ia tahu seekor Owa Jawa telah berhasil menuntaskan satu fase dalam hidupnya. Pada hari berikutnya, ayam hutan ingin menjadi pembuka cerita.

Tahun Monyet Api pun sudah berlalu, Ayam Api siap menyambung kisah…