Matinya Hewan Kesayangan Kami

Matinya Hewan Kesayangan Kami

Ilustrasi (upshout.net)

Jagat maya sempat digemparkan oleh kabar kematian seekor hewan kesayangan. Kabar itu memicu kemarahan netizen, salah satunya aktivis sosial Melanie Subono. Mengapa mereka begitu geram?

Melalui blognya, Melanie membuat tulisan berjudul ‘Untuk Mas Doni’ sebagai ungkapan protes. Awalnya, Melanie sempat mendukung Doni dan kegiatan Animal Defenders (AD). Namun, semua berubah sejak akhir 2016, ketika Melanie kesulitan meminta kembali hewan peliharaan kesayangannya bernama Nina yang ia titipkan di AD.

Puncaknya, Melanie mengunggah sederetan video dan foto di media sosial. Pada salah satu video, ia begitu marah setelah mendapat kabar bahwa ternyata Nina telah tiada.

Kejadian serupa tapi tak sama pernah dialami teman saya, Angela. Ia memiliki seekor anjing jenis golden retriever. Namanya Felis von Bernadette. Belakangan, anjing kesayangannya itu mati. Ia menangis tersedu-sedu sampai kehilangan nafsu makan hingga lima hari.

Tak hanya Angela yang bereaksi seperti itu saat ditinggal ‘pergi’ hewan kesayangan. Rena juga mengalami hal serupa. Ia memiliki anjing bernama Chiley yang dipelihara sejak berusia satu tahun. Chiley meninggal saat usianya 11 tahun.

Pihak keluarga, termasuk Rena, sangat bersedih. Rena bahkan kehilangan selera makan selama seminggu. Chiley dikubur di taman belakang rumah layaknya manusia. Diberi kain, ditaruh di lubang, dikubur, kemudian diberi bunga. Tak lupa diberi nisan bertuliskan namanya.

Peristiwa nahas juga menimpa Mio, kucing milik Neli. Saat mengetahui kucing kesayangannya itu menghilang dari rumah, Neli dan keluarganya bersedih. Seorang anggota keluarga sampai harus meminta tolong kepada ‘orang pintar’ untuk menemukan Mio. Beruntung, Mio kembali setelah menghilang lebih dari seminggu.

Saya pun jadi penasaran, kenapa sih mereka sampai berbuat segitunya? Apakah kehilangan hewan kesayangan sama seperti kehilangan anggota keluarga?

Kita tahu bahwa kucing dan anjing adalah dua hewan yang sangat sering dijadikan peliharaan oleh manusia. Entah kenapa dua hewan tersebut seolah melekat dalam diri manusia. Mungkin mudah diajak bergaul, diajak bercanda, dan tak pernah ngambek kalau disuruh ini-itu.

Dean Koontz, seorang novelis asal Amerika, bahkan pernah menulis hal yang lebih kontemplatif. “Meminyaki, menggaruk, dan memeluk seekor anjing bisa sama menyejukkannya bagi pikiran dan hati sebagai meditasi yang dalam dan hampir sama baiknya bagi jiwa seperti doa.”

Suatu hari, saya sempat melihat kanal Vox di Youtube tentang ‘kehilangan hewan kesayangan’.Di situ dikisahkan tentang seorang lelaki yang memiliki anjing. Ia begitu menyayangi anjingnya seperti menyayangi seorang anak. Memberi makan, memandikan, dan memberi vaksin satu bulan sekali.

Sampai suatu ketika, anjingnya itu mati. Akibatnya, dia jadi termenung, murung, lesu, bahkan linglung. Tak tahu lagi harus bagaimana. Hidupnya hancur seketika.

Saya kembali penasaran, apakah ada penelitian tentang efek kehilangan hewan kesayangan terhadap perilaku manusia? Apakah kehilangan anjing atau kucing juga berisiko terhadap kualitas mental manusia?

Akhirnya saya menemukan salah satu publikasi ilmiah dari psikiater bernama Kenneth MG Keddie. Ia menjelaskan bahwa faktanya memang ada relasi spesial antara hewan kesayangan dengan manusia. Kehilangan hewan kesayangan sangat mungkin beresiko terhadap kesehatan mental.

Nah, terkait dengan hewan kesayangan yang diperlakukan sama persis seperti anak manusia, saya juga menemukan penelitian menarik dari psikolog bernama John Arcer pada 1997.

Ia menjelaskan bahwa pemilik hewan memperlakukan hewan peliharaannya seperti anaknya sendiri. Bermain, berbicara layaknya ibu dan anak, dan yang paling unik memberikan panggilan pada hewannya dengan sebutan baby atau buddy.

Beberapa bukti juga mengungkapkan bahwa memang ada keterkaitan antropologis dan sejarah mengenai hubungan hewan peliharaan dengan manusia. Kalau boleh dikatakan, hewan peliharaan adalah pengganti yang sepadan dari seorang anak atau anggota keluarga.

Jadi, memang tak mengherankan ketika manusia kehilangan hewan kesayangannya, maka yang selanjutnya terjadi adalah kesedihan dan kemurungan yang mendalam. Ya, layaknya kita kehilangan anggota keluarga.

Belakangan, ada pula penelitian di sebuah klinik di Hawai yang melibatkan 106 responden. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 96 responden mengaku bersedih teramat dalam ketika kehilangan hewan kesayangan.

Bahkan 75 responden di antaranya mengalami apa yang disebut Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Bahasa kerennya stres berlebihan pasca trauma. Atau, lebih ilmiahnya lagi, seperti kenangan berulang dalam gairah kehidupan yang terjadi selama kurang lebih sebulan setelah peristiwa traumatis.

Memiliki hewan peliharaan adalah baik untuk manusia, apalagi Anda seorang jomblo menahun cenderung akut. Saran saya, cobalah memiliki satu hewan kesayangan biar tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Ye, kan?