Hayati Nggak Lelah: Melihat Militansi dari Dua Sisi

Hayati Nggak Lelah: Melihat Militansi dari Dua Sisi

tribunnews.com

Tak ada kata lelah bagi Hayati. Bukan, ini bukan ‘Hayati lelah’ di film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Ini Hayati sebutan untuk pageant lovers Indonesia. Sebutan itu terlontar begitu saja dalam perbincangan jenaka para pencinta kontes kecantikan di berbagai fanpage.

Salah satu komunitas pencinta kontes kecantikan terbesar di negeri ini, Indonesian Pageants bahkan pernah memuat artikel berjudul ‘Hayati: The Power of Fans Pageants Indonesia’, yang secara khusus membahas betapa militannya pageant lovers Indonesia. Mereka tak kenal lelah mendukung wakil Indonesia di kontes kecantikan sejagat. Mereka berlomba-lomba memberikan vote agar wakil dari Indonesia bisa menang.

Seperti apa The Power of Hayati?

Yang pasti ini bukan sekadar The Power of Emak-emak atau The Power of Mbak-mbak. Pada 2014, berkat sokongan pageant lovers, Elvira Devinamira berhasil memenangi kategori Best National Costume di ajang Miss Universe. Tahun 2016 lalu, giliran Ariska Putri Pertiwi yang meraih gelar Miss Grand International sekaligus menang di kategori Best National Costume, dengan sokongan vote menembus 10 juta.

Delegasi Indonesia yang lain, seperti Jennifer Darren, berhasil menggondol penghargaan Best Popularity di Miss World Beauty Queen 2016 berkat share dan likes di fanpage resmi kontes kecantikan tersebut. Begitu juga Intan Aletrino yang dengan mudahnya memenangi kategori Miss Multimedia melalui vote di aplikasi Mobstar, yang bekerja sama dengan organisasi Miss Supranational.

Hampir semua perwakilan Indonesia kini berhasil mendapatkan tempat di ajang internasional yang katanya mengusung BBB alias brain, beauty, and behavior itu. Tentu ini menyedot perhatian banyak orang di Tanah Air, terutama para pencinta kontes kecantikan. Yang fenomenal adalah Puteri Indonesia 2016 Kezia Warouw yang sukses menembus 13 besar Miss Universe 2016.

Lalu dua runner up Puteri Indonesia 2016 Felicia Hwang dan Intan Aletrino yang masing-masing masuk 5 besar di Miss International dan 10 besar di Miss Supranational. Lain lagi dengan Natasha Mannuela yang sukses jadi juara tiga Miss World 2016 di Amerika.

Di dalam negeri sendiri, tepatnya pada pengujung Maret 2017, kemeriahan menyelimuti malam puncak pemilihan Puteri Indonesia yang digelar di Jakarta Convention Center. Adalah Bunga Jelitha Ibrani keluar sebagai pemenang Puteri Indonesia 2017.

Ada yang berbeda dalam penyelenggaraan kali ini. Bukan, bukan insiden salah sebut pemenang seolah mengekor Piala Oscar, tapi perubahan konsep acara. Yayasan Puteri Indonesia yang sudah 25 tahun menyelenggarakan kontes kecantikan ini merombak konsepnya yang menjadi lebih entertaining.

Turut hadir dua ratu kecantikan dari kompetisi berbeda, yakni Iris Mittenaere (Miss Universe 2016) dan Ariska Putri Pertiwi (Miss Grand International 2016). Ada pula Natalie Glebova (Miss Universe 2005) sebagai salah satu juri.

(mediaswara.com)
(mediaswara.com)

Kontes kecantikan memang semakin populer di Indonesia. Tidak ada lagi unjuk rasa memprotes penggunaan bikini, seperti yang dialami Artika Sari Devi atau Nadine Chandrawinata belasan tahun silam saat mengikuti Miss Universe.

Namun, kontes kecantikan bukan lagi sekadar adu BBB, tapi telah menjelma sebagai sebuah industri yang membutuhkan massa untuk menaikkan popularitas dan tentu saja mendatangkan keuntungan materi yang besar. Dan itu sudah direngkuh oleh pihak penyelenggara kontes dari massa pencinta kontes kecantikan di Indonesia. Yang itu tadi, pageant lovers Indonesia.

Dengan antusiasme yang besar dari pageant lovers, bukan tidak mungkin delegasi Indonesia di kontes apapun pada tahun-tahu berikutnya bisa mendapatkan placement lagi. Hal yang sangat mungkin terjadi agar industri kontes kecantikan bisa tumbuh subur di Tanah Air dan keuntungan materi bisa mengalir ke pihak penyelenggara.

Di sisi lain, antusiasme ini hadir sepaket dengan kontrol sosial pageant lovers yang kerap berujung pada cyber bully. Sudah menjadi konsekuensi logis bagi perempuan yang akan berkompetisi atau setelah terpilih nanti, ia akan diteror tentang bagaimana cara berpakaian, berjalan, bahkan sampai hal yang sederhana: cara tersenyum dan melirik.

Mereka juga tidak kalah sadis mencerca puteri-puteri Tanah Air bila dirasa tidak memenuhi standar kecantikan yang diuji di kontes-kontes dunia tersebut. Ingat Anindya Kusuma Putri, Puteri Indonesia 2015? Kasus kaos palu aritnya itu cuma sebagian kecil dari tantangannya menjabat sebagai Puteri Indonesia.

Selebihnya, Anin lebih banyak dihina-hina di media sosial, karena tubuh yang terlalu kekar, senyum aneh, catwalk yang kaku laksana power rangers, sampai gaya berpakaian yang sembarangan dan tidak elegan. Pageant lovers garis keras ini bisa sangat gahar ke delegasi negaranya sendiri, dan bisa pula mem-bully wakil negara lain. Bully-an yang dialamatkan tentu saja lebih banyak seputar fisik, karena hanya itu yang bisa mereka nilai.

Jumlah pageant lovers garis keras ini bisa saja semakin bertambah, apalagi dengan semakin populernya ajang-ajang kecantikan di Indonesia. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin juga industri kecantikan bakal jadi lahan uang yang kian menggiurkan.

Sebenarnya tidak masalah kalau memang ajang-ajang kecantikan ini bisa membangun sisi-sisi positif aktivitas perempuan muda di ruang publik. Menjadi lebih aware dengan masalah di sekitarnya, tidak sekadar terlibat aktivitas filantropis yang tidak banyak menyentuh akar persoalan di negeri ini.