Haters Jokowi dan Mantan Pacar yang Sulit Move On

Haters Jokowi dan Mantan Pacar yang Sulit Move On

Apa yang paling ngeselin dalam kehidupan percintaan, Voxpopers? Pacar morotin, pacar selingkuh, pacar jutek, atau apa?

Kalau menurut saya sih mantan posesif yang tak kunjung move on (sulit melupakan masa lalu). Bayangkan, sudah mantan pacar, posesif lagi, terus sulit move on. Serupa dengan sudah haram, jadah pula.

Beberapa bulan terakhir, saya mengamati di media sosial fenomena yang sungguh mirip dengan mantan posesif yang susah move on. Mereka adalah haters (para pembenci).

Akhirnya saya mencoba melakukan serangkaian analisis – yang serius tentunya – mengenai hal ini.

Haters dan mantan posesif itu memiliki banyak kesamaan. Hipotesis saya dan hasil riset lapangan ternyata tidak jauh berbeda. Karena itu, saya mengajak ribuan pembaca Voxpop yang intelektual ini untuk mengkritisinya. Saya akan membahas tipe-tipe haters dan mantan posesif satu per satu.

1. Cari Perhatian (Caper)

Haters dan mantan posesif memiliki kualitas caper tingkat dewa. Sudah tahu dicuekin tapi tetap caper. Ngeselin? Banget.. Contoh, kita sedang mentionan bareng teman atau lagi pendekatan ke gebetan lewat media sosial, tiba-tiba mantan posesif ikut nimbrung sok akrab. Bukankah kondisi ini sungguh #krikkrikmoment.

Pernah tidak mengalami ketika enak-enak ngetwit mendukung atau mengkritisi program Pemerintahan Jokowi, tiba-tiba nyamber akun-akun dengan nama aneh, jumlah follower sedikit, dengan avatar telor atau artis Korea?

Nyambernya gak tanggung-tanggung, pakai bahasa super kasar, sotoy, dan nyebelin bingits. Lebih menyebalkan lagi, mereka nyamber dengan cc ke tokoh-tokoh nasional. Macam tokoh/selebtwit baca mention sampah mereka.

Level kesal menghadapi kecaperan mantan posesif dan haters itu seperti menginjak kecoa dengan bakiak, satu mati, besok ada lagi. Selevel dengan isi rekening saya. Hari ini habis, besok penuh lagi #duar

2. Stalking dan #nomention

Ini cara mantan posesif yang merasa dengan bergaya misterius akan lebih cool. Gaya acuh tapi butuh ini banyak ditempuh mantan posesif dengan anggapan kita masih ada rasa yang terpendam dan bisa dibangkitkan kembali. Sok usil-usil #nomention, dikiranya kita terpancing baca, padahal terbersit setitik kenangan pun tidak ada.

Mirip sama haters yang sok unfollow dan menunjukkan kebencian teramat sangat dengan Jokowi. Lalu coba menyindir lewat #nomention. Yaelah bro, dikira Jokowi baca #nomention. Mention aja belum tentu dibaca.

3. Membangun Kondisi Serba Salah

Apa yang dilakukan mantan posesif kalau tahu kita sudah punya pengganti? Mereka akan membuat kita serba salah. Kalau tahu kita memuji pasangan baru kita, pasti mantan posesif akan berkata, “Ah belum ketahuan belangnya saja.”

Kalau kita mesra bersama pasangan baru, mantan posesif akan ngomong, “Gaya pacaran kok seperti ABG. Apaan tuh belum sah dalam ikatan agama pakai gandengan tangan. Haram tauk.”

Lalu saat kita ada konflik dengan pasangan baru, pasti mantan posesif akan berkata, “Nyesel ya? Kan sudah aku bilang.” Kadang juga muncul frase: Sudah sadar? Sudah insyaf? dan sejenisnya.

Fenomena mantan posesif seperti ini sungguh mirip haters. Kalau kita memuji program atau kerja Jokowi, dengan serta merta tuduhan akan muncul: Jokowi dinabikan, Jokowi tak pernah salah, dan sejenisnya.

Lalu, kalau kita mengkritisi program Jokowi, maka mereka dengan nada menghina akan muncul dengan atmosfer menyebalkan: nyesel ya dulu milih Jokowi, sudah sadar dong sekarang, dan sejenisnya. Serba salah kan?

Esensi mendukung bagi saya adalah mengkritisi sambil membantu mencari solusi, sekecil apapun kontribusi kita terhadap solusi itu.

4. Menyebar Berita Buruk

Mantan posesif dengan level kondisi psikis terganggu bakal dengan santai menyebarkan berita buruk, kadang fitnah, tentang kita. Ya, dilakukan dengan santai seperti makan camilan, dilakukan setiap saat.

Disebarkannya berita tak jelas juntrungannya itu ke teman-teman dan kalangannya. Tujuannya apa? Tentunya merusak nama baik atau reputasi kita.

Kedua mencari dukungan dari orang sakit jiwa yang sejenis disekitarnya. Tidak ada yang mampu memberikan dukungan terbaik untuk mantan posesif, kecuali orang-orang yang mengalami gangguan mental yang sama.

Apapun penjelasan dan pembelaan kita, tidak akan pernah diterima. Namanya juga terganggu kejiwaan.

Ini serupa tapi tak sama dengan haters Jokowi. Informasi ‘apa saja Jokowi salah’ bakal diviral habis-habisan ke media sosial. Kerap kali info sumir tidak jelas sumber, fakta dan logikanya, lalu ditambahkan: semoga informasi ini salah, semoga ini tidak benar, semoga hanya hoax, dan sejenisnya.

Siapa yang akan menyebarkan info tersebut? Tentu sesama haters. Lalu kalian yang pro Jokowi coba-coba menjelaskan secara holistik permasalahannya, pakai data, riset, dan analisis. Hasilnya pasti nabrak tembok alias nihil.

Mereka tidak butuh penjelasan atau adu argumen yang mencerdaskan kedua belah pihak, mereka hanya butuh perhatian #uhuk.

Tapi ada beda mantan posesif dan haters Jokowi. Mantan posesif itu gangguan jiwa, kalau haters Jokowi itu sifatnya hanya mengkritik. Ya, silakan kalau saya dituduh cari aman agar tidak di-bully atau dilaporkan polisi, karena melakukan pencemaran nama baik.

Level susahnya memberi penjelasan ke haters itu seperti memberikan pengertian betapa pentingnya kompetisi dan pasar bebas ke sahabat saya, Dandhy D Laksono. Sungguh tidak ada faedahnya. Rasanya seperti teriak dalam goa, apapun teriakan kita, selalu dibalas dengan gema bertalu-talu. Iya, Dandhy yang sutradara terkenal itu.

5. Terpenjara Kenangan

Mantan posesif selalu mencoba membangkitkan kenangan masa lalu. Tujuannya apa? Macam-macamlah. Misalnya posting foto makanan dengan caption: dulu sering makan berdua di sini, sekarang sendiri. Atau posting foto lokasi kencan pertama, ciuman pertama, dan lain-lain, dengan caption: seandainya waktu dapat kembali.

Salah satu hal yang diserang dari mantan posesif dengan melakukan hal ini adalah membuat kita merasa bersalah meninggalkan, sekaligus membuat kita teringat janji berdua dulu. Ya, namanya juga masa pacaran. Yang ada ya indah-indahnya.

Coba kalau sudah menikah dan terbebani biaya hidup metropolitan dengan tiga anak. Janji cuti liburan pun sulit dipenuhi. Tentu saja 2 kalimat terakhir adalah contoh kasus, bukan curcol saya.

Mantan posesif seperti ini juga tipe haters Jokowi. Masih ada loh haters Jokowi yang memasang foto Pak Prabowo. Kadang mereka posting foto Prabowo yang gagah dengan caption: seandainya Presiden RI dia, tentu kondisi RI jauh lebih baik.

Kadang caption-nya juga gahar: mendingan presidennya Prabowo daripada Jokowi yang tidak realisasikan janji kampanye, selalu berbohong, dasar jokodok, jokowek, pinokio, bla bla bla.

Yaelah, pilpres dah kelar keles. Jokowi sudah jadi presiden setahun. Pak Prabowo saja sudah santai kaya di pantai, selow kaya di Bolaang Mongondow.

Demikian analisis mendalam saya tentang persamaan mantan posesif dan haters Jokowi. Sebenarnya selain Jokowi haters, Jokowi lovers juga memiliki bahaya yang sama.

Segala sesuatu yang berlebihan itu selalu banyak mudharatnya. Benci berlebihan dan cinta berlebihan pun sama. Hanya isi rekening berlebihan saja yang mungkin bisa ditolerir. Akhir kata, kurangi mutlak-mutlakan, hindari mendukung dengan absolut-absolutan. Niscaya hidup akan lebih indah.

Foto: 1x.com

  • carla putri

    Hari ini gene masih haters? Come on guys……………………………