Harley Quinn, Cinta, dan Cita Citata

Harley Quinn, Cinta, dan Cita Citata

gizmodo.com

Saya sendiri biasa-biasa saja setelah menyaksikan aksi enam penjahat super di film yang lagi kekinian, Suicide Squad. Semula saya kira film ini sebuah kisah yang sepenuhnya jahat, sepenuhnya iblis, dan dijejali dengan pemberontakan terhadap nilai moralitas. Nyatanya tidak. Film ini malah berusaha mengajari tentang nilai-nilai moralitas. Tentang nilai manusia yang baik budi, kendati latar belakang mereka seorang penjahat.

Namun, di film anti-hero yang diadaptasi dari DC Comics tersebut, saya tertarik menyaksikan karakter dan aksi Harley Quinn yang sangat unik dan menarik. Sosok perempuan cantik, lucu, nan berbahaya ini diperankan oleh Margot Robbie.

Saya memang sudah mengagumi karakter Harley Quinn sejak dari mengikuti komik DC tentang perseteruan Batman dan Joker. Entah itu di kartun, film, hingga videogame. Selalu saja, ada wajah Harley Quinn, yang muncul sebagai karakter yang dekat dengan Joker.

Kisah keduanya mengapa bisa dekat, dalam berbagai versi, memang selalu sama. Dr Harleen Quinzel, nama Harley Quinn sebelum menjadi penjahat super bersama Joker, adalah seorang psikiater yang dulunya bekerja di RSJ Arkham yang sangat seram.

RSJ itu sangat seram, karena dulu pernah digunakan oleh seorang profesor bernama Hugo Strange dan fantasinya untuk membuat manusia abadi. Alih-alih kekal, ia malah terus menciptakan monster dan mengacaukan kota Gotham.

Dan, pada masa Dr Harleen Quinzel belum memutuskan menjadi penjahat, RSJ Arkham tak kalah seramnya. Ia dihuni oleh penjahat super. Satu di antaranya adalah Joker yang diberikan sel khusus. Joker sendirian alias tak berkawan di dalam penjara.

Beberapa kali Dr Harleen Quinzel berusaha membuat Joker waras. Tapi mereka berdua malah terjebak dalam perasaan cinta yang aneh. Ah lagi-lagi cinta, ia memang misteri dan sulit ditafsirkan.

Dr Harleen Quinzel malah terjebak dalam pertanyaan yang bersifat pribadi, seperti bagaimana beratnya hidup seorang Joker. Tentu saja, Joker menceritakan cerita penuh elegi dan menyayat hati yang sangat diragukan kebenarannya. Hingga kemudian Joker mengajukan sebuah pertanyaan menohok yang membuat perempuan mana pun salah tingkah, “Kamu pernah jatuh cinta?”

Dr Harleen Quinzel kemudian menjawab ya… ya… ya…, lalu mereka berdua memiliki hubungan yang spesial. Co cwittt… Dr Harleen Quinzel sendiri merasa berhasil. Namun, nyatanya sungguh jauh dari itu. Dr Harleen Quinzel malah terkena ‘Stockholm syndrome’. Ini sebenarnya hanya istilah yang mengacu pada peristiwa perampokan dan penyanderaan di sebuah bank di Stockholm, Swedia. Ketika itu, para sandera bukannya merasa terancam, tapi justru membela perampok. Aneh memang.

Balik lagi soal hubungan cinta yang aneh antara Dr Harleen Quinzel dan Joker. Setelah menjalani hubungan special, Joker malah memanfaatkan Dr Harleen Quinzel untuk kabur dari RSJ Arkham. Ia menepatinya. Mereka berdua kabur, dan hari itu Dr Harleen Quinzel hilang dan menjadi gila. Ia berubah wujud menjadi Harley Quinn, seorang penjahat super. Sekilas namanya memang mirip dengan Farah Quinn, seorang chef dan seleb yang juga superbb…

Harley Quinn seolah menisbikan bahwa cinta seolah terus menafikkan nalar. Fantasi perempuan mungkin tak jauh berbeda. Di dunia Gotham yang kelam itu, Harley Quinn beberapa kali memang menunjukkan fantasinya sendiri. Saat Batman keheranan mengapa Harley Quinn sangat mati-matian membela Joker, Ia berkata kepada Batman, “Aku ingin bersamanya.”

Harley Quinn sebenarnya hanya ingin bersama Joker dan menikah. Iya, menikah, dan fantasi itu terkubur dalam-dalam selama ini, karena jelas ia tahu Joker takkan mau.

Dan, di dunia nyata, di negeri kita sendiri, ada seorang perempuan seperti Cita Citata yang menuntut kekasihnya. Kebetulan seorang anggota DPR. Cita Citata menuntut kekasihnya sendiri ke sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.

Cita Citata dan kekasihnya itu gagal menikah, lalu ia menuntut karena cincin belum terbayar. Tentu yang menjadi headline di mana-mana adalah “Cita Citata Gagal Menikah”. Menggambarkan bahwa bagaimana fantasi perempuan tentang menikah tak pernah hilang.

Di kultur kita, menikah menjadi sesuatu hal yang sakral. Rela membayar gedung mahal-mahal plus pesta pora, mengikuti seremonial yang sangat melelahkan, dan menyewa fotografer untuk foto prewed adalah sesuatu pengorbanan. Bukti bahwa cinta kita ke pasangan adalah sesuatu hal yang serius. Dan juga sebagai bukti pengekalan hubungan dengan orang yang kita cintai.

Padahal, kira-kira begini, apakah mereka yang menikah tidak bisa bercerai? Tentu bisa. Apakah pernikahan akan membuat manusia bahagia? Tak melulu iya sebenarnya, terutama bagi perempuan.

Dalam berbagai banyak kisah, perempuan banyak yang dirugikan dalam pernikahan. Pada abad pertengahan, banyak kisah anak gadis para raja yang kalah diberikan kepada sang raja yang menang dalam perang. Atau, misalnya di Indonesia, menikahi ningrat dengan ningrat, meski tak tahu urusan cinta atau tidak.

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) menyebutkan, angka perceraian di Indonesia dalam lima tahun terakhir terus meningkat. Pada 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15% di antaranya bercerai.

Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 100.000 kasus dibandingkan dengan pada 2010 yang sebanyak 251.208 kasus. Sebanyak 70% gugatan ini datang dari kaum perempuan.

Ini menandakan bahwa pernikahan sebenarnya tak melulu soal bahagia. Kata ibu saya berkali-kali mewanti, “Jangan cepat nikah, kamu nikmati masa muda kamu dulu.” Lalu ia lanjutkan dengan bercerita panjang lebar tentang keluarga saya yang cukup sulit pada tahun-tahun pertama pernikahan.

Beliau juga cerita soal lelaki yang masih mata keranjang, karena telat jadi playboy. Ibu menggunakan sudut pandang perempuan berdasarkan pengalaman dan informasi yang ia saksikan di infotainment. Ia, singkatnya, ingin saya matang dulu, sebelum menikah nanti.

Dan jelas, di negara yang meremehkan kaum jomblo dan memuja pernikahan, penjelasan saya sendiri takkan mengubah apa-apa. Ini hanyalah upaya saya merasionalisasi cinta dari sisi lain. Sebuah sisi yang pada tahap lanjut bisa membuat manusia terbuai.

Pada kisah Harley Quinn, ia menggambarkan impian seorang gadis. Gadis yang sesungguhnya ingin dicintai dan dilindungi dan berusaha berubah, sehingga mungkin suatu saat ada hari dimana ia bisa menikah dengan Joker. Begitu juga dengan Cita Citata, yang tampak marah karena cintanya gagal ke pelaminan dan berusaha menuntut mantan kekasihnya ke MKD hingga ia meminta maaf.

Pada akhirnya, cinta memang punya sisi gila dan aneh. Kalau kata om Nietzsche yang pernah saya baca, “Cinta adalah siksaan, penderitaan, yang membuat kita merasa bahagia.” Ia mungkin akan tertawa bagaimana cinta memang sungguh menyiksa dan mengacaukan kehendak bebas yang ia koar-koarkan selama ini. Ah, tapi tahu apa Nietzsche, dia sendiri kan jomblo?