Perdebatan Valentine Melemah, Itu Pertanda Apa?

Perdebatan Valentine Melemah, Itu Pertanda Apa?

Ilustrasi (Alexandra/pixabay.com)

Siapa yang tidak tahu Hari Valentine? Gak ada lah ya. Kalaupun ada yang mengaku tidak tahu apa itu Valentine alias hari kasih sayang, pilihannya cuma dua: tidak sesuai dengan keyakinannya atau ya memang sedang tidak punya pasangan saja.

Makanya pura-pura tidak tahu… ooppsss!

Hari raya kasih sayang sering diasosiasikan dengan pertukaran ucapan dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain kartu berbentuk hati dan gambar cupid bersayap.

Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association atau Asosiasi Kartu Ucapan AS memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu Valentine dikirimkan per tahun.

Hal itu membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal, dimana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah.

Hadiah-hadiah yang diberikan biasanya berupa bunga mawar dan cokelat. Bahkan, mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan Hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Gak percaya? Silahkan buka wikipedia. Haha…

Peringatan hari kasih sayang yang jatuh setiap tanggal 14 Februari ini memang selalu dinanti. Bukan hanya perkara saling mengucapkan kasih sayang, tapi – terutama bagi warganet – Hari Valentine adalah hari yang ramai dengan perdebatan.

Seperti sudah menjadi konsensus tak tertulis, bulan Februari adalah bulannya debat perkara Hari Valentine di linimasa. Warganet terbelah, yang setuju dengan perayaan ini dan tentu saja yang tidak setuju.

Sayangnya, tahun ini terasa agak mengecewakan. Sampai mendekati Hari-H, debat soal perayaan Valentine di linimasa hampa belaka.

Loh? Warganet ini pada kenapa sih? Kok udah gak asik lagi.

Beberapa akun pun mulai menduga-duga. Apa sebenarnya yang membuat warganet jadi hilang fokus dan tidak menjalankan “program kerja twitwar” yang sudah disepakati jauh-jauh hari.

Bagaimana pun, Hari Valentine akhirnya tiba juga. Dengan ataupun tanpa debat di linimasa, hari kasih sayang tetap akan datang.

Akun-akun yang kontra dengan perayaan Valentine juga mulai muncul. Meskipun tidak terasa signifikan.

Toh, meski tanpa debat di linimasa, pembicaraan mengenai Hari Valentine tetap ramai. Rupanya, Hari Valentine tetap menjadi magnet yang menarik perhatian warganet.

Tentu saja, isi cuitan warganet beragam. Mulai dari yang ingin mengucapkan selamat hari kasih sayang (meski tidak tahu untuk siapa), memamerkan hadiah yang (sanggup) diberikan pada pasangan, hingga peringatan bahwa negara sekarang mulai ingin ikut campur dalam urusan yang-yangan warganya.

Akhir kata, selamat Hari Valentine untuk semuanya. Yuk, stop provokasi!

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN